Tautan-tautan Akses

AS

Museum Afrika-Amerika Paparkan Masa Kelam hingga Masa Gemilang


Salah satu pejuang hak-hak sipil Rosa Parks dipajang Museum Nasional Sejarah dan Kebudayaan Afrika-Amerika di Washington, DC.

Salah satu pejuang hak-hak sipil Rosa Parks dipajang Museum Nasional Sejarah dan Kebudayaan Afrika-Amerika di Washington, DC.

Banyak kisah yang sulit dicerna di dalam Museum Nasional Sejarah dan Kebudayaan Afrika-Amerika yang diresmikan pembukaannya hari ini (Sabtu 24/9) di Washington DC.

Bagian paling bawah Museum Nasional Sejarah dan Kebudayaan Afrika-Amerika menyajikan gambaran kedatangan warga Afrika di Amerika Utara sebagai budak. Generasi warga kulit hitam itu tetap berada dalam kekuasaan para petani kulit putih selama lebih dari dua abad, dan ras membagi sistem yang bergaung lewat Gerakan Hak-Hak Sipil tahun 1960an dan gerakan “Black Lives Matter” yang mengemuka sebagai tanggapan terhadap konflik antara polisi kulit putih dan warga kulit hitam saat ini.

Museum Gambarkan Sisi Kelam Sejarah Warga AS Keturunan Afrika

Lonnie Bunch yang telah menjabat sebagai direktur museum sejak tahun 2005, ikut ambil bagian dalam memutuskan tampilan museum tersebut – yaitu metal berwarna perunggu gelap – jauh berbeda dengan bangunan berwarna putih ala era Kebangkitan Yunani yang mendominasi kawasan Monumen Nasional.

Bunch mengatakan gedung itu seharusnya mencerminkan masalah pada masa lalu, sebagaimana yang digambarkan museum itu.

“Saya ingin gedung yang lebih gelap”, ujarnya kepada majalah New Yorker April lalu. “Selalu ada sisi gelap di Amerika dimana orang pernah diremehkan, ditelantarkan, diabaikan. Saya ingin gedung ini menggambarkan hal tersebut”.

Lokasi museum itu sendiri menggambarkan kondisi suram pada masa lalu. Meskipun kawasan Monumen Nasional – yang menjadi lokasi sebagian besar museum Smithsonian di Washington DC – dikenal sebagai “halaman depan Amerika”, tetapi daerah ini juga dikenal sebagai tempat para budak, dimana warga asal Afrika dibelenggu seperti ternah untuk diperjuabelikan.

Enam Puluh Persen Museum Berada di Bawah Tanah

Mengingat pembatasan tinggi gedung supaya bisa menjaga pemandangan atas seluruh monumen, 60% bagian Museum Nasional Sejarah dan Kebudayaan Afrika-Amerika terletak di bawah tanah.

Para pengunjung akan memulai kunjungan mereka dari bagian bawah yang menyajikan sejarah kelam era perbudakan. Ketika mereka naik ke lantai berikutnya, kisah itu akan membaik meskipun tetap diwarnai konflik.

Narasi gerakan yang naik ke atas itu dicerminkan dalam arsitektur yang didesain oleh arsitek Inggris keturunan Ghana – David Adjaye. Gedung itu tampaknya seperit keluar dari tanah, dengan panel-panel eksterior terbuka ke bagian atas, ke arah langit.

Bagian yang lebih atas menceritakan tentang Gerakan Hak-Hak Sipil ketika pemerintah federal akhirnya meloloskan undang-undang yang memberikan hak yang sama kepada warga kulit hitam, sebagaimana kepada warga kulit putih.

Meskipun perbudakan telah dinyatakan tidak sah pada tahun 1864, dibutuhkan waktu selama satu abad untuk mencapai hak-hak legal yang sama seperti warga kulit putih, yaitu lewat UU Hak Sipil tahun 1964. Keputusan Mahkamah Agung untuk mencabut hambatan-hambatan perkawinan antar-ras baru tercapai tahun 1967.

Bagian atas museum – yang memancarkan cahaya dan membuat pengunjung bisa melihat pemandangan di kawasan Monumen Nasional – memamerkan seni Afrika-Amerika.

The Smithsonian Institute memiliki museum-museum lain yang didedikasikan pada seni Amerika dan seni Afrika, tetapi di Museum Nasional Sejarah dan Kebudayaan Afrika-Amerika yang baru ini campuran budaya itu sama-sama bersinar.

Banyak Selebriti dan Warga AS Sumbangkan Artefak

Museum ini juga menyajikan ribuan artefak dari selebriti Amerika keturunan Afrika dan juga warga biasa. Banyaknya artefak membuat pihak museum berencana memamerkannya secara bergiliran.

Bintang media Oprah Winfrey – yang oleh majalah Forbes dinyatakan sebagai perempuan ke-21 terkaya di dunia – merupakan penyumbang utama museum itu. Oprah tidak saja menyumbang hingga 20 juta dolar lewat yayasan dermanya, tetapi juga memberikan sepasang belenggu budak era pertengahan tahun 1800, yang disumbangkan dari koleksi artefak pribadinya.

Ironisnya koleksi itu juga mencakup sepasang borgol yang digunakan dalam penahanan ilmuwan Harvard – Henry Louis Gates – yang ditangkap di luar rumahnya di Cambridge, Massachusetts tahun 2009 oleh seorang polisi yang salah mengiranya sebagai pencuri.

Artefak-artefak lain yang ada dalam museum itu antara lain :

- Beberapa barang dari sebuah kapal budak yang tenggelam dan digali di lepas pantai Afrika Selatan.

- Kabin budak yang ditemukan di Pulau Edisto di South Carolina.

- Buku nyanyian pujian dan selendang sutra milik Harriet Tubman, seorang budak yang melarikan diri dan memimpin pelarian ratusan budak lainnya lewat Underground Railroad.

- Bagian atas peti mati yang terbuat dari kaca, yang digunakan untuk menguburkan jenazah Emmet Till – gadis Amerika keturunan Afrika berusia 14 tahun yang disiksa dan dibunuh karena motif rasial tahun 1955 dan mendorong Gerakan Hak-Hak Sipil.

- Gaun milik Rosa Parks, perempuan yang memulai Pemboikotan Bis Montgomery, salah satu tindakan pembangkangan sipil pada era hak-hak sipil.

- Pesawat latih PT-13 D Stearman yang digunakan oleh Korps Angkatan Udara Amerika untuk melatih Tuskegee Airmen – unit angkatan udara kulit hitam pertama di Amerika.

- Terompet yang dimainkan musisi legendaris Louis Amstrong.

- Sebuah mobil Cadillac convertible milik musisi rock and roll Chuck Berry.

- Sarung tinju Muhammad Ali.

- Koleksi kostum pertunjukkan Broadway “The Wiz”.

- Sepasang sepatu atletik ukuran 22 milik bintang bola basket Shaquille O’Neal.

Meskipun cerita-cerita di museum itu kerap sulit dan kadangkala menyakitkan, Presiden Obama dan direktur museum Lonnie Bunch mengatakan kisah warga kulit hitam Amerika relevan bagi seluruh warga Amerika. [em]

XS
SM
MD
LG