Tautan-tautan Akses

Murid SMA dari 40 Negara Bersaing Membuat Robot


Salah satu peserta kompetisi membuat robot yang berasal dari Palo Alto, California. (Foto: Dok)

Salah satu peserta kompetisi membuat robot yang berasal dari Palo Alto, California. (Foto: Dok)

Kompetisi ini sudah berlangsung sejak 1992, di mana tim-tim sekolah, robot dan para penggemar berkumpul di lapangan Einstein di St. Louis, Missouri.

Enam ratus delapan tim murid sekolah menengah dari 40 negara berkompetisi minggu lalu di St. Louis, negara bagian Missouri, untuk membangun robot-robot yang mampu melakukan tugas-tugas terkait daur ulang. Masing-masing tim harus menggunakan serangkaian bahan yang sama dan hanya diberikan waktu beberapa minggu untuk membuat robot-robot mereka.

Para penonton sejumlah 40.000 bersorak saat para peserta dengan gugup melihat robot-robot mereka bergerak di sekitar lapangan dengan presisi atletis hampir sempurna, mengambil tempat sampah daur ulang yang sudah kosong dan menumpuknya di lokasi yang sudah ditentukan, dengan tempat sampah ditumpuk di atasnya.

Kompetisi ini sudah berlangsung sejak 1992, di mana tim-tim sekolah, robot dan para penggemar berkumpul di lapangan Einstein di St. Louis, untuk kejuaraan dunia tahunan "For Inspiration and Recognition of Science and Technology," atau FIRST.

Robot-robot itu harus menangkap dan membuang plastik-plastik yang mewakili sampah.

Seperti kompetisi mana pun, ada perasaan takut kalah dan stress, di mana para tim dengan panik memperbaiki robot-robot mereka dan mengirim mereka kembali ke lapangan.

Namun karena kejuaraan ini dibagi dalam delapan sub-divisi, pemenangnya pun banyak.

Christopher Pulicken, pemimpin Tim 118 “The Robonauts,” yang merupakan bagian dari aliansi pemenang, mengatakan ia sangat senang.

"Kami telah berjuang mendapatkan kejuaraan dunia ini selama 18, 19, 20 tahun dan selanjutnya. Kami selalu kalah, tapi tidak kali ini," ujarnya.

Kompetisi dimulai dari acara-acara lokal dan regional, dan tim-tim yang paling unggul datang ke AS untuk bersaing dalam tantangan-tantangan berbeda.

Permainan-permainan ini membuat Bethany Rispoli, dari Tim 225, “Tech Fire,” menyenangi sains dan matematika.

"Hal ini menunjukkan pada saya bahwa ilmu teknik, teknologi, sains dan matematika jauh lebih dalam daripada hanya di atas kertas menyelesaikan soal," ujarnya.

"Kompetisi ini memperlihatkan bahwa ilmu-ilmu ini dapat menyenangkan, sama menyenangkannya seperti olahraga."

Mentor teknis untuk Tim 254, E.J. Sabathia, mulai sebagai anggota tim yang sama 15 tahun yang lalu. Ia sekarang insinyur di Tesla Motors.

“Saya ingin anak-anak ini dapat melihat para profesional melakukan hal-hal seperti itu sepanjang hari. Untuk melihat bahwa kami orang-orang normal dan ke mana mereka bisa menuju," ujarnya.

Insinyur lain yang mulai sebagai peserta kompetisi robot untuk remaja di FIRST adalah Mason Markee, yang sekarang bekerja di NASA.

"Laboratorium saya penuh dengan mantan peserta FIRST. Orang-orang yang pernah melakukan ini sebelumnya. Luar biasa," ujarnya.

Pemenang Kompetisi Robotik FIRST tahun ini adalah satu tim dari Texas dan tiga tim dari California.

XS
SM
MD
LG