Tautan-tautan Akses

Misi PBB di Pantai Gading Prihatin dengan Maraknya Kekerasan di Abidjan

  • Scott Stearns
  • Wita Sholhead

Sekeluarga mengungsi dari distrik Abobo di Abidjan, Rabu (23/2).

Sekeluarga mengungsi dari distrik Abobo di Abidjan, Rabu (23/2).

Misi PBB di Pantai Gading menghimbau agar kedua pemerintahan yang bersaing menahan diri selagi kekerasan terus berlanjut di berbagai wilayah kota Abidjan yang mendukung pemenang pemilihan presiden November lalu yang disahkan PBB.

Misi PBB di Pantai Gading prihatin dengan tingkat kekerasan di Abidjan dalam beberapa hari terakhir, selagi kepala-kepala negara Uni Afrika bertemu dengan Presiden Laurent Gbagbo yang masih menjabat maupun pemenang pemilihan presiden yang disahkan PBB, mantan Perdana Menteri Alassane Ouattara.

Dalam pernyataan tertulis, misi PBB itu mengecam apa yang disebutnya, “penggunaan kekerasan yang tidak sepatutnya,” khususnya penggunaan senjata berat. Misi PBB itu mendesak kedua pihak agar “dapat menahan diri selagi upaya politik dan diplomasi diupayakan pada tingkat tinggi untuk mencari pemecahan damai bagi krisis pasca-pemilihan itu.”

Hampir 20 orang tewas dalam beberapa hari terakhir ketika kekerasan pecah antara pendukung Ouattara dengan militer pro-Gbagbo di wilayah Abobo dan Koumassi di Abidjan. Menurut pihak berwenang, sepuluh di antaranya tewas dalam serangan hari Selasa.

Panel kepala-kepala negara Uni Afrika dari Burkina Faso, Chad, Mauritania, Afrika Selatan, dan Tanzania saat ini punya waktu seminggu untuk memutuskan cara terbaik untuk mengakhiri perselisihan itu. Uni Afrika mengatakan keputusan itu akan mengikat secara hukum bagi kedua pihak.

Namun, Uni Afrika tidak punya mekanisme untuk memaksakan keputusannya, dan kedua pihak yang berselisih itu telah menyatakan keraguannya mengenai dampak mediasi ini.

Pemerintahan Gbagbo mengatakan akan menerima keputusan Uni Afrika hanya apabila keputusan itu tidak menantang keabsahan keputusan dewan konstitusi yang menyatakan Gbago menang.

Ouattara mengatakan pesimistis dengan mediasi Uni Afrika karena upaya-upaya sebelumnya gagal meyakinkan Gbagbo agar menyerahkan kekuasaan secara damai. Perdana Menteri pemerintahan Ouattara mengatakan warga Pantai Gading tidak boleh berharap apa pun juga dari Uni Afrika dan seharusnya melakukan pemberontakan ala-Mesir untuk menurunkan Gbagbo dari kekuasaan.

Para pendukung Ouattara mengecam Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma, setelah pemerintahnya menyarankan pembentukan pemerintahan sementara yang berbagi kekuasaan sebelum diadakannya pemilihan baru.

Para pendukung Gbagbo mengepung bandara Abidjan sebelum delegasi Uni Afrika tiba hari Senin, mendorong Presiden Burkina Faso, Blaise Compaore, membatalkan lawatan itu karena alasan keamanan. Para pendukung Gbagbo mengatakan Compaore bukan juru runding yang netral karena sejak lama mendukung Ouattara.

XS
SM
MD
LG