Tautan-tautan Akses

Militer Mesir Ancam Gunakan Kekuatan Atasi Aksi Kekerasan


Panglima militer Mesir Jenderal Abdel-Fattah el-Sissi mengancam untuk menggunakan kekuatan terhadap serangan atas gedung-gedung pemerintah dan pos-pos polisi oleh demonstran anti-pemerintah (Foto: dok).

Panglima militer Mesir Jenderal Abdel-Fattah el-Sissi mengancam untuk menggunakan kekuatan terhadap serangan atas gedung-gedung pemerintah dan pos-pos polisi oleh demonstran anti-pemerintah (Foto: dok).

Panglima Tentara Mesir Jendral Abdel Fattah el-Sissi mengingatkan militer tidak akan mentolerir aksi kekerasan baru apapun di negara itu.

Tanda-tanda kembalinya kehidupan normal di Kairo mulai tampak, hari Minggu (18/8), ketika lalu lintas mulai berjalan, serta beberapa toko dan bank mulai beroperasi kembali. Namun Panglima Tentara Mesir Jendral Abdel Fattah el-Sissi mengingatkan aksi kekerasan baru apapun tidak akan ditolerir.

Jendral Abdel Fattah el-Sissi mengatakan polisi tidak akan tinggal diam melihat negara itu dihancurkan. Ia mengancam untuk menggunakan kekuatan terhadap serangan atas gedung-gedung pemerintah dan pos-pos polisi oleh demonstran anti-pemerintah.

Lebih lanjut dikatakan el-Sissi, tentara tidak berniat merebut kekuasaan. Ia mengajak para pendukung Islamis, pendukung mantan presiden Mohammed Morsi, untuk mengikuti proses politik, dengan mengatakan “ada tempat bagi semua orang”.

Para pendukung Morsi berdemonstrasi menuju ke Mahkamah Konstitusional Agung di Kairo, tetapi mereka membatalkan dua demonstrasi yang dijadwalkan hari Minggu. Mereka mengklaim para penembak jitu ditempatkan di sepanjang jalan itu.

Kementerian Dalam Negeri melaporkan 36 anggota pro-Ikhwanul Muslimin tercekik gas air mata ketika berupaya menjebol penjara di Kairo Utara.

Dalam perkembangan lainnya surat kabar The New York Times dan Washington Post melaporkan diplomat-diplomat Amerika, Eropa dan Arab sebelumnya hampir mencapai rumusan kesepakatan antara Ikhwanul Muslimin dan pemerintah sementara Mesir. Hal tersebut sebenarnya dapat mencegah pertumpahan darah pekan lalu, ketika polisi menghancurkan dua kamp pro-Morsi di Kairo. Kedua surat kabar itu melaporkan pemimpin-pemimpin militer Mesir menolak kompromi itu.

Para pejabat mengatakan korban tewas dalam aksi kekerasan hari Rabu lebih dari 800 orang, sementara Ikhwanul Muslimin mengatakan korban mencapai ribuan orang.

Pemerintah sementara Mesir menyelenggarakan pertemuan kabinet darurat hari Minggu untuk membahas apakah akan melarang Ikhwanul Muslimin atau tidak – organisasi yang telah memenangkan pemilu demokratis pertama di Mesir tahun lalu.
XS
SM
MD
LG