Tautan-tautan Akses

Militan ISIS Rilis Video Baru Pemenggalan Wartawan Kedua Amerika


Gambar yang diambil dari video yang dirilis ISIS dan diidentifikasi oleh kelompok intelijen SITE menunjukkan wartawan AS Steven Sotloff mengenakan pakaian berwarna oranye berlutut dan berbicara di depan kamera, sebelum kemudian dipenggal oleh pria bertopeng hitam di belakangnya (foto: AFP).

Gambar yang diambil dari video yang dirilis ISIS dan diidentifikasi oleh kelompok intelijen SITE menunjukkan wartawan AS Steven Sotloff mengenakan pakaian berwarna oranye berlutut dan berbicara di depan kamera, sebelum kemudian dipenggal oleh pria bertopeng hitam di belakangnya (foto: AFP).

Kelompok ekstrimis Islam Suriah dan Irak ISIS beberapa menit lalu merilis sebuah video pemenggalan kepala wartawan kedua Amerika, Steven Sotloff.

Dalam video berdurasi 2 menit 46 detik yang berjudul “A Second Message to Amerika” atau “Pesan Kedua Bagi Amerika” itu, Sotloff tampil dengan mengenakan pakaian berwarna oranye, sementara pembunuhnya mengenakan pakaian dan penutup wajah berwarna hitam.

Sang pembunuh mengawali tindakannya dengan mengatakan “Kami kembali Obama dan kami kembali karena kebijakan luar negeri Anda yang arogan terhadap ISIS…meski kami telah memberi peringatan serius.”

Ditambahkannya “Karena misil-misil Anda masih terus menyerang warga kami, maka pisau kami akan terus mengancam leher warga Anda.” Di akhir video itu, sang pembunuh mengancam akan membunuh sandera berkutnya, warga negara Inggris yang bernama David Cawthorne Haines. ISIS tidak merinci identitas Haines lebih jauh.

Tidak seperti video pemenggalan James Foley dua minggu lalu yang disebarluaskan melalui akun Twitter ISIS, video pemenggalan Sotloff belum disebarluaskan melalui internet. Namun beberapa situs kelompok jihad sudah memasang peringatan bahwa video itu akan dipasang hari Selasa (2/9) ini.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Jen Psaki mengatakan para pejabat sedang menyelidiki keotentikan video tersebut. “Jika video itu akukrat, kami muak,” ujar Psaki.

Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest juga mengatakan belum bisa memastikan keotentikan video pemenggalan Sotloff, tetapi segera menyampaikan rasa simpati pada keluarga Sotloff dan pihak-pihak yang mengupayakan pembebasannya.

Sementara pejabat-pejabat kantor Kementerian Luar Negeri Inggris belum memberi komentar atas ancaman pembunuhan warganya.

Steven Sotloff yang diketahui bekerja untuk majalah TIME dan Foreign Policy, diculik di Suriah bulan Agustus 2013, hampir satu tahun setelah penculikan Foley. ISIS sempat menghadirkan Sotloff dalam video pemenggalan James Foley yang dirilis di internet beberapa pekan lalu.

Ibunda Sotloff pekan lalu sempat memohon ISIS untuk membebaskan putranya. Dalam video yang disebarluaskan di internet, ibunda Sotloff mengatakan putranya adalah “seorang wartawan yang tidak bersalah” dan tidak memiliki wewenang untuk mengontrol kebijakan pemerintah Amerika di Timur Tengah.

ISIS telah merebut sejumlah besar wilayah di Suriah Timur dan Irak Utara, serta mengumumkan wilayah itu sebagai “khilafah.”

Amerika, berkoordinasi dengan pemerintah Irak, telah melakukan sejumlah serangan udara terhadap kelompok militan itu sejak awal Agustus lalu.

Amnesti Internasional hari Selasa (2/9) mengatakan pihaknya memiliki bukti bahwa ISIS melakukan kampanye pembantaian etnis secara sistematis dan sejumlah kejahatan perang di Irak Utara, termasuk pembunuhan massal dan penculikan.

XS
SM
MD
LG