Tautan-tautan Akses

Militan Bunuh 24 Polisi Mesir di Semenanjung Sinai


Peta wilayah semenanjung Sinai (Foto: dok). Sedikitnya 24 polisi di wilayah ini dilaporkan tewas menyusul serangan militan di dekat Rafah, perbatasan Jalur Gaza, Senin pagi (19/8).

Peta wilayah semenanjung Sinai (Foto: dok). Sedikitnya 24 polisi di wilayah ini dilaporkan tewas menyusul serangan militan di dekat Rafah, perbatasan Jalur Gaza, Senin pagi (19/8).

Para pejabat keamanan Mesir menyatakan militan membunuh sedikitnya 24 polisi di Semenanjung Sinai.

Sekelompok polisi sedang menaiki bus ketika dicegat kawanan bersenjata. Sejumlah laporan mengatakan polisi-polisi itu dipaksa keluar dari bus dan ditembak, laporan lainnya mengatakan kawanan tersebut menggunakan granat berpeluncur roket.

Para penyerang diyakini merupakan anggota sebuah milisi Islam yang disebut para pengecam beroperasi di Sinai dengan dukungan Presiden Mohamed Morsi yang digulingkan. Militer Mesir menggulingkan Morsi tanggal 3 Juli, didukung rangkaian demonstrasi umum berskala besar. Militer minggu lalu juga secara paksa membubarkan protes duduk selama berminggu-minggu oleh para pendukung Morsi.

Angka korban tewas di kalangan demonstran telah mencapai lebih dari 700 orang, dan hingga kini hampir 100 anggota pasukan keamanan telah tewas.

Beberapa jam sebelum serangan di Sinai itu, pasukan keamanan menewaskan sekitar 36 demonstran Islamis yang diduga hendak kabur ketika akan dipindahkan ke penjara lain. Kelompok utama pendukung Morsi, Ikhwanul Muslimin yang memimpin demonstrasi menentang kudeta militer, menuntut investigasi yang independen.
Mesir terpecah. Tetapi pakar konflik Stacey Gutkowski, dari King’s College di London, mengatakan militer harus mengambil itikad untuk rekonsiliasi dan Ikhwanul Muslimin harus menerimanya.

“Militer Mesir tidak punya kemampuan untuk memerintah. Militer Mesir kini memerintah, seperti militer di negara-negara lain, di jalan-jalan," ujar Gutkowski. "Militer harus menahan diri. Ikwanul harus menahan diri dengan mundur dari jalan-jalan. Oposisi liberal harus mengatur diri dan diberi ruang untuk membentuk diri sebagai partai politik.”

Pengacara mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak mengatakan kliennya akan segera dibebaskan, Senin (19/8). Fareed el-Deeb mengatakan pengadilan Mesir telah membebaskan Mubarak dari tuduhan korupsi, yang berakar dari tuduhan bahwa dia dan putranya menggelapkan uang untuk membangun istana.

Klaim itu belum bisa segera dikonfirmasi oleh pejabat kehakiman. Tetapi kantor berita Perancis (AFP) yang mengutip sumber pengadilan melaporkan bahwa Mubarak akan tetap dalam tahanan atas tuduhan dalam kasus lain.

Mubarak, 85 tahun, masih menghadapi pengadilan ulang atas tuduhan gagal menghentikan pembunuhan demonstran dalam pemberontakan yang menggulingkannya dari kekuasaan tahun 2011.

Panglima militer, Jendral Abdel Fattah el-Sissi, berjanji menggelar pemilu dan mengatakan akan ada “tempat bagi semua pihak” untuk berpartisipasi. Tetapi sejauh ini Ikwanul berkeras Morsi harus dikembalikan ke jabatannya semula.

Ada ketakutan yang tidak biasa di jalan-jalan Kairo, dimana warga saling memperingatkan agar menghindari sejumlah kawasan tertentu dan tinggal di rumah setelah jam malam pukul tujuh. Di sebuah ruas jalan belanja, toko-toko kesulitan akibat jam buka yang lebih singkat dan para konsumen yang cemas oleh masalah-masalah lain.

Kekhawatiran internasional tentang pergolakan di Mesir semakin meningkat.

Menteri Pertahanan Amerika Chuck Hagel hari Senin mengatakan ia dan beberapa pejabat lainnya telah mengadakan sejumlah pembicaraan dengan militer Mesir dan bahwa Amerika “tengah meninjau kembali hubungannya dengan Mesir dalam segala bidang.”
XS
SM
MD
LG