Tautan-tautan Akses

Pemberontak Syiah Yaman Kuasai Kompleks Kepresidenan


Milisi Syiah Houthi mengepung jalanan di dekat komplek kepresidenan Yaman di Sana'a, Selasa (20/1).

Milisi Syiah Houthi mengepung jalanan di dekat komplek kepresidenan Yaman di Sana'a, Selasa (20/1).

Para saksi mata melaporkan bahwa milisi Syiah Houthi telah menguasai kompleks kepresidenan di ibukota Yaman, Sana'a hari Selasa malam (20/1).

Pemberontak Houthi di Yaman hari Selasa (20/1) menguasai kompleks kepresidenan dan menyerbu tempat tinggal Presiden Abd Rabbo Mansur Hadi di Sana’a dalam serangan terbaru yang menarget para pemimpin negara itu.

Milisi Syiah itu bentrok dengan pasukan keamanan Yaman, sehingga mengakhiri gencatan senjata yang disepakati hari Senin dan menewaskan sembilan orang di ibukota.

Sekretaris-Jenderal PBB Ban Ki-moon mendesak gencatan senjata lagi dan menuntut agar kewenangan penuh pemerintah dipulihkan.

Dalam pidato televisi, pemimpin pemberontak Abdel Malik Al Houthi mengatakan mereka ingin mengakhiri “korupsi dan kediktatoran” di negara tersebut. Pasukan Houthi, yang menuntut perluasan hak bagi kaum Syiah yang minoritas di Yaman, menduduki ibukota bulan September.

Keberadaan Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi belum jelas hingga Selasa malam, meskipun seorang pejabat Yaman mengatakan bahwa Presiden Hadi aman di kediamannya.

Sebelumnya hari Selasa (20/1), kelompok pemberontak Syiah yang dikenal sebagai Houthi itu disebut sedang melakukan pembicaraan untuk mengakhiri krisis, setelah para anggotanya mengepung kediaman Perdana Menteri Senin malam.

Hari Sabtu, kelompok Houthi menculik kepala staf presiden Abed Rabbo Mansour Hadi, sementara pemerintah sedang berusaha menyusun konstitusi baru.

Yaman masih terus dilanda perpecahan di dalam negeri. Gerakan Houthi telah meluas melampaui wilayah pemberontakan tradisionalnya di bagian utara, sementara separatis melanjutkan gerakan mereka di selatan, dan kelompok al-Qaida di Semenanjung Arab mengklaim serangan-serangan di dalam dan di luar negeri, yang terbaru adalah terhadap majalah satir Charlie Hebdo di Paris awal bulan ini.

XS
SM
MD
LG