Tautan-tautan Akses

Migran Perempuan yang Menyeberangi Laut Tengah Meningkat

  • Lisa Schlein

Foto yang dikeluarkan oleh Pemerintah Italia pada 29/6/2014 memperlihatkan perahu yang dipenuhi migran yang berlayar di Laut Tengah. Dalam perahu tersebut juga ditemukan 30 jenazah orang yang meninggal dalam pelayaran tersebut.

Foto yang dikeluarkan oleh Pemerintah Italia pada 29/6/2014 memperlihatkan perahu yang dipenuhi migran yang berlayar di Laut Tengah. Dalam perahu tersebut juga ditemukan 30 jenazah orang yang meninggal dalam pelayaran tersebut.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan, jumlah perempuan yang berusaha menyeberangi Laut Tengah naik ke tingkat yang mengkhawatirkan. IOM mengatakan kenaikan paling tajam adalah di kalangan perempuan muda dari Nigeria.

Menyeberangi Laut Tengah dari Afrika Utara ke Eropa dianggap sebagai rute paling mematikan bagi migran di dunia. Amnesty International memperkirakan lebih dari 2.500 migran tewas ketika mencoba menyeberangi laut itu dalam sembilan bulan pertama tahun ini, tercatat terbanyak sejauh ini.

Meski kondisi laut itu berbahaya, migran terus mempertaruhkan nyawa dalam upaya mencapai Eropa. Data Departemen Dalam Negeri Italia menunjukkan lebih dari 154 ribu migran telah tiba di Italia tahun ini. Umumnya dari Suriah, Eritrea, Mali, Nigeria, Gambia, Palestina, dan Somalia.

IOM yang berbasis di Jenewa mengatakan tren baru yang mengkhawatirkan adalah naiknya jumlah perempuan di antara arus migran itu. Dikatakan, 16.839 migran perempuan telah tiba di Italia tahun ini, lebih dua kali lipat dari 7.658 yang tiba pada periode yang sama tahun 2013.

Jurubicara IOM, Joel Millman, mengatakan hampir 1.300 perempuan Nigeria bermigrasi tahun ini dibandingkan kurang dari 400 dalam waktu yang sama tahun lalu. Ia mengatakan, banyak dari mereka diyakini berpotensi menjadi korban perdagangan manusia.

"Menurut tim IOM yang memberi pengarahan ketika mereka tiba di pelabuhan-pelabuhan Italia, banyak yang mengeluh diperkosa atau diperdagangkan sebagai pekerja seks dalam perjalanan. Mereka segera dijebloskan ke perdagangan seks termasuk di rumah-rumah bordil di Libya, di mana mereka dipaksa membayar biaya transit. Setelah itu, kami berasumsi, hal itu juga berlanjut di Eropa," kata Millman.

IOM membentuk dua tim anti-perdagangan manusia di Sisilia dan Apulia, dengan tugas mendeteksi dan mengidentifikasi korban eksploitasi. Millman mengatakan kepada VOA, banyak dari perempuan muda itu kenal dengan penyelundup yang memikat mereka dengan janji-janji palsu agar melakukan perjalanan. Ia menambahkan, mereka kemudian menyadari para pedagang itu berbohong.

“Bahkan ada yang bercerita tentang penyelenggaraan upacara voodoo. Kadang-kadang mereka merasa, kekuatan gaib akan menghukum mereka jika mereka tidak membayar; dan bagian dari terapi yang dilakukan IOM di Eropa adalah menjelaskan kepada para perempuan yang ketakutan itu bahwa mereka tidak perlu takut pada sumpah voodoo yang mereka lakukan di Afrika, yang mewajibkan mereka membayar para penyelundup,” lanjut Milmann.

Millman mengatakan, sejumlah perempuan Nigeria telah mengidentifikasi orang yang menjual mereka kepada staf IOM yang memberi pengarahan kepada mereka ketika mereka tiba di Italia. Sebagian pedagang manusia itu telah ditangkap.

XS
SM
MD
LG