Tautan-tautan Akses

150 Migran Afrika di Israel Tinggalkan Sarana Penahanan


Migran Afrika berpawai di jalanan yang tertutup salju di Yerusalem, Selasa (17/12), sambil meneriakkan slogan dan ye-yel menuntut kemerdekaan memprotes kebijakan penahanan orang-orang yang tinggal secara ilegal di negara itu.

Migran Afrika berpawai di jalanan yang tertutup salju di Yerusalem, Selasa (17/12), sambil meneriakkan slogan dan ye-yel menuntut kemerdekaan memprotes kebijakan penahanan orang-orang yang tinggal secara ilegal di negara itu.

150 migran Afrika meninggalkan sarana penahanan “terbuka” Israel untuk memprotes kebijakan penahanan orang-orang yang tinggal di negara itu secara ilegal.

Menurut undang-undang yang sudah diamendemen, Israel dapat menahan migran Afrika tanpa diadili selama satu tahun, setelah itu mereka dipindahkan ke sarana penahanan baru. Para aktivis mengatakan penahanan tersebut dimaksudkan untuk menekan migran untuk meninggalkan Israel secara sukarela.

Juru bicara kepolisian Luba Samri mengatakan para pemrotes diperkirakan akan mencapai Yerusalem hari Selasa (17/12) setelah melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dan dengan bus yang dimulai hari Minggu.

Para migran itu diizinkan meninggalkan sarana penahanan mereka, tetapi diwajibkan melapor tiga kali sehari.

Sebagian orang di Israel memandang kaum migran sebagai beban ekonomi dan sosial
Sekitar 53 ribu orang Afrika, kebanyakan orang Sudan dan Eritrea, tinggal di Israel.
XS
SM
MD
LG