Tautan-tautan Akses

Midiyanto, Dosen Gamelan Jawa di University of California, Berkeley


Midiyanto adalah seorang warga Indonesia yang ikut melestarikan kebudayaan Jawa di Amerika dengan memperkenalkan dan mengajar gamelan Jawa di University of California, Berkeley.

Nama Midiyanto sudah tidak asing lagi bagi komunitas gamelan Jawa di Berkeley, California. Midiyanto adalah dosen tetap di University of California, Berkeley sejak tahun 2004.

Menurut Lisa Ho, salah satu siswa University of California, Berkeley, Midiyanto mempunyai pengetahuan yang tinggi, dan begitu dalam mengenai filsafat gamelan dan kesenian Jawa. “Ia juga selalu ingin berbagi informasi kalau ada murid yang ingin belajar lebih dalam,” tambah Lisa.

Selain dikenal sebagai dosen di University of California, Berkeley yang mengajarkan gamelan Jawa, Midiyanto adalah arsitek di balik berdirinya kelompok gamelan Jawa paling terkemuka di luar Indonesia, Gamelan “Sari Raras.”

Gamelan “Sari Raras” dibentuk oleh Midiyanto pada tahun 1988 bersama Ben Brinner, kepala departemen musik di UC Berkeley yang sebelumnya juga belajar gamelan dari Midiyanto.

“Saya namakan Sari Raras karena ‘sari’ itu essence, ‘raras’ itu enak, melody, jadi kita di sini memainkan melodi yang enak didengar untuk menghaluskan rasa. Makanya gendingnya pun saya kasih yang halus-halus supaya cara kita sebagai orang Jawa mengenalkan gamelan itu, promosi utamanya adalah menenangkan atau menghaluskan jiwa melalui gamelan,” kata Midiyanto.

Midiyanto yang juga seorang dalang ini memperoleh gelar master dari “Lewis and Clark” College di Portland, Oregon dengan topik disertasi topik mengenai pengajaran lintas budaya.

Kelas gamelan Jawa yang diajar Midiyanto tak pernah sepi dari peminat. Setiap semester ia mengajar 5 kelas dengan sekitar 150 mahasiswa yang telah lolos seleksi.

Ashley Morris adalah salah satu mantan mahasiswi Midiyanto yang kini menjadi anggota tetap gamelan “Sari Raras.”

“Awalnya belajar gamelan Jawa sulit, banyak yang harus saya pelajari, tapi gamelan menyenangkan dan saya belajar banyak dari Pak Midiyanto,” kata Ashley.

Midiyanto mengaku tak menemui tantangan dalam mengajarkan gamelan kepada warga Amerika ini.

“Jadi saya mengajar orang-orang yang bukan orang Jawa, saya harus menghadapi orang-orang asing dan itu merupakan proses belajar bagi saya. Saya mengajarkan apa yang mereka inginkan, bukan karena ini tradisi jadi harus begini, bukan. Kita justru saling belajar,” kata Midiyanto.

Ia juga menambahkan, “Musik gamelan kalau sudah tertanam di hati seseorang, jiwa orang itu seperti addicted, tidak mungkin setelah belajar gemalen akan mereka lepas. Banyak sekali justru jiwa mereka melebihi orang Jawa.”

Ia juga selalu mendorong para peminat gamelan ini untuk belajar menghaluskan rasa dan etiket, langsung di Indonesia.

Tak hanya melestarikan seni gamelan Jawa di Amerika, sejak tahun 2000, Midiyanto juga mendirikan sebuah yayasan gamelan di kota asalnya, Wonogiri, untuk mengajarkan gamelan secara cuma-cuma kepada anak-anak usia 5 hingga 15 tahun.

XS
SM
MD
LG