Tautan-tautan Akses

Metrini Simatupang Perkenalkan Kain Batak ke Amerika


Metrini Simatupang, Nuansa Tapanuli untuk Milenial Amerika
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:44 0:00

Metrini Simatupang, Nuansa Tapanuli untuk Milenial Amerika

New York Fashion Week mendapatkan sentuhan Indonesia berkat label “Batax” karya desainer Indonesia Metrini Simatupang.

Diiringi lagu “Sik Sik Sibatumanikam,” 20 model berjalan di catwalk dengan busana bergaya modern yang dirancang dari kain ulos dan batik.

“Semua perancang desainer kalau ditanya, New York itu impian jadi nyata. Kemudian model-modelnya juga kooperatif. Artinya mereka bukan hanya membawakan baju, tetapi saya juga memperkenalkan budaya Indonesia. Saya memberitahu mereka batik itu asalnya dari mana, ulos itu dari mana,” ujar Metrini.

Katherine Calumna, salah satu model yang berjalan di peragaan busana “Batax,” juga punya kesan tersendiri atas busana karya Metrini.

“Saya senang baju ini, dan bahkan saya tidak sadar kalau ada belahan di sini. Baju ini glamor dan produk rumahan,” kata Katherine.

Sebelum dipamerkan di New York Fashion Week, baju rancangan Metrini menjadi pemenang dalam ajang Miss Grand International di Las Vegas.

Walaupun tidak memiliki pendidikan formal di bidang fashion, sejak kecil Metrini sudah terpesona oleh dunia jahit menjahit karena ibunya selalu membuatkan baju untuknya.

Darah Batak Metrini juga menjadi ilham dan ciri khas karya busananya.

“Batak itu identitas aku, aku ini dari suku Batak, originally dari Sumatra Utara. Jadi, dengan menggunakan nama Batak, saya berbicara tentang diri saya sendiri, tidak bicara tentang orang lain. Jadi itu autentik, di pasar Amerika menjadi signifikan dan ciri khas yang membedakan saya dengan produk dan desainer lain,” ujarnya.

Metrini hijrah ke Amerika pada tahun 2009 dan setelah mengikuti sejumlah kursus fashion, ia memutuskan untuk memilih karir sebagai desainer. Ia memibidik segmen pembeli yang berpotensi membeli baju rancangannya.

“Untuk penutup, tema saya ‘Meet the Millennials’ yang identik dengan orang-orang yang mempunyai wawasan lebih dari generasi sebelumnya. Artinya mereka lebih suka untuk mengetahui budaya lain,” imbuh Metrini.

Di bawah naungan unit usaha “Batax,” Metrini juga punya usaha produk dekorasi rumah dari kayu yang ia rancang sendiri dan produk perhiasan yang ia jual di sebuah kedai kopi dan online.

“Penjualannya sangat sukses. Banyak orang datang dan mengagumi dan ada yang membeli. Juga menjadi kesempatan untuk berbicara tentang Indonesia dengan orang-orang yang ke sini,” kata Kirk Hansen, pemilik kedai kopi Old City Market and Oven.

Setelah New York Fashion Week, Mertini memamerkan karyanya di Washington, DC Fashion Week. Metrini berharap suatu hari nanti bisa membuka butik yang menjual busana rancangannya di kota New York. [np/dw]

XS
SM
MD
LG