Tautan-tautan Akses

Mesir Tuduh 20 Wartawan Al-Jazeera terkait Kegiatan Teroris

  • Elizabeth Arrott

Mohammed Badr, juru kamera televisi Al-Jazeera diadili di pengadilan Kairo, Mesir bulan Desember lalu (foto: dok).

Mohammed Badr, juru kamera televisi Al-Jazeera diadili di pengadilan Kairo, Mesir bulan Desember lalu (foto: dok).

Jaksa Agung Mesir hari Rabu (29/1) mengatakan akan menyeret 20 wartawan Al-Jazeera ke pengadilan atas tuduhan yang berkaitan dengan kegiatan teroris.

Ini menjadi pengadilan pertama bagi para wartawan sejak pemerintah Mesir menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris bulan lalu. Kantor jaksa agung itu mengatakan 16 wartawan Mesir dan empat wartawan asing menghadapi tuduhan terlibat dalam kelompok teroris, atau membantu menyebarkan berita palsu yang menimbulkan teror.

Semua wartawan itu bekerja untuk jaringan media Al-Jazeera yang berbasis di Qatar. Pemerintah Mesir dan banyak pendukungnya menuduh mereka mendukung Presiden Mohammed Morsi dan kelompok Ikhwanul Muslimin pendukungnya.

Al-Jazeera membantah tuduhan tersebut, dan berulang kali menyerukan pembebasan para stafnya, dengan mengatakan bahwa tuduhan terhadap mereka “sama sekali tidak berdasar."

Meskipun tidak menyebut nama dalam laporan yang dirilis hari Rabu (29/1), wartawan Kanada Mohamed Fahmy tampaknya dianggap sebagai pemimpin pihak tergugat. Ia tidak dianggap termasuk sebagai warga asing karena ia juga berkewarganegaraan Mesir.

Fahmy ditahan di Kairo, bersama Peter Greste, wartawan Australia pemenang penghargaan. Greste baru-baru ini menulis dari balik penjaranya di Tora bahwa penahanannya merupakan peringatan yang mengerikan bagi wartawan lainnya tentang bentuk pelaporan yang diperbolehkan di Mesir.

Nama-nama semua terdakwa tidak diumumkan, dan tidak semuanya ditahan. Tiga warga asing lainnya, dua warga Inggris dan seorang warga Belanda, tampaknya berpangkalan di Qatar.

Komite perlindungan bagi jurnalis baru-baru ini menyatakan Mesir merupakan negara ketiga paling berbahaya bagi wartawan, setelah Suriah dan Irak, karena adanya “polarisasi politik yang sangat kuat,” di negara itu.

Polarisasi itu telah menempatkan pemerintah sementara yang didukung militer berhadapan dengan para pendukung Ikhwanul Muslimin yang berada di luar negeri. Sosiolog Politik Said Sadek dari Universitas Amerika di Kairo .

"Pemerintah Mesir sedang berperang dengan Qatar, yang memberi suaka politik bagi teroris-teroris Mesir yang terkenal," ujar Sadek.

Ini merupakan petunjuk bahwa iklim politik saat ini bukan pertanda baik bagi para jurnalis, yang mendapat dukungan dari rekan-rekan jurnalis dan kelompok kebebasan media dari seluruh dunia.
XS
SM
MD
LG