Tautan-tautan Akses

Mesir Buka Kembali Pos Perbatasan Rafah Menuju Gaza

  • Heather Murdock

Para warga Palestina menunggu untuk dapat melintasi pos perbatasan Rafah menuju Mesir yang ditutup oleh pemerintah Mesir (24/8).

Para warga Palestina menunggu untuk dapat melintasi pos perbatasan Rafah menuju Mesir yang ditutup oleh pemerintah Mesir (24/8).

Para pejabat Mesir menuduh Hamas membantu kelompok militan di Sinai dan menyebut keprihatinan atas keamanan sebagai penyebab ditutupnya pos perbatasan Rafah.

Pihak berwenang Mesir telah membuka kembali perbatasan antara Mesir dan Gaza setelah lima hari ditutup dan menghalangi ribuan orang Palestina untuk melakukan perjalanan.

Perbatasan antara Mesir dan Jalur Gaza adalah satu-satunya jalan bagi warga Palestina yang tinggal di Gaza, untuk menjangkau dunia luar.

Selama berhari-hari, ribuan orang menunggu memasuki Mesir untuk pergi ke sekolah atau ke rumah sakit, dan ratusan lainnya dilaporkan menunggu melewati Gaza untuk pulang.

Tidak jelas berapa lama pihak berwenang Mesir akan membuka pos perbatasan tersebut, dan pos tersebut tetap dijaga ketat.

Hubungan para pemimpin Hamas di Gaza dengan pemerintah Mesir yang didukung militer diliputi ketegangan.

Para pejabat Mesir menuduh Hamas membantu kelompok militan di Sinai dan menyebut keprihatinan atas keamanan sebagai penyebab ditutupnya pos perbatasan Rafah.

Sebagian analis mengatakan, kenyataan dibukanya kembali perbatasan itu, meskipun dalam waktu terbatas, merupakan petunjuk bahwa ketegangan mereda, setelah terjadi penumpasan militer bulan ini terhadap protes kelompok Islam dan penahanan pemimpin Ikhwanul Muslimin.

“Ikhwanul Muslimin tidak akan menyerah begitu saja, tapi mereka kehilangan simpati di jalan-jalan, jadi satu-satunya cara untuk mereka adalah menciptakan masalah,” ujar Mohammad Ablaa, aktivis politik yang juga aktor pemenang penghargaan.

Ikhwanul Muslimin, ujarnya, dulu punya kesempatan berkuasa di bawah Morsi, tapi gagal bekerja sama dengan badan-badan pemerintah dan menciptakan demokrasi yang dijanjikan. Meskipun Ikhwanul mengatakan mereka menjadi sasaran khusus penumpasan pemerintah, namun menurut Ablaa, pertumpahan darah besar-besaran akibat bentrokan yang diperkirakan menyebabkan ratusan sampai lebih dari 1.000 tewas, telah merugikan citra Ikhwanul Muslimin.

Setelah berhari-hari tenang, Ikhwanul berdemonstrasi ke seluruh Kairo Jumat, menyerukan dikembalikannya Morsi, dan kali ini ditandai dengan taktik baru, menghindari kekerasan dan menarik pendukung baru.

Dalam unjuk rasa di Kairo Selatan sebelum militer menerapkan jam malam pukul 7 berlaku, ribuan pemrotes memegang tanda dan menyanyi kecil sambil berbaris melewati daerah pemukiman. Jika para pemimpin mereka mengantisipasi akan terjadi kekacauan, mereka mengendalikan rombongan barisan mereka ke arah lain.

Banyak warga Mesir yang mengambil bagian dalam revolusi yang menggulingkan Mubarak mengatakan, mereka kini sadar, Morsi dan Ikhwanul Muslimin tidak pernah tepat untuk memimpin negara.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG