Tautan-tautan Akses

Merawat Kebangsaan Indonesia di Tahun 2017 dengan Saling Mengasihi


Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin, berbicara dalam sebuah diskusi di Museum Nasional, Jakarta, Kamis, 29 Desember 2016 (Foto: VOA/Andylala)

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin menegaskan, tantangan kemajemukan di Indonesia kian berat dan kompleks.

Rohaniwan Katolik Romo Frans Magnis Suseno mengajak semua pihak menampilkan sikap saling mengasihi. Berbicara dalam sebuah forum diskusi di Museum Nasional Jakarta, Kamis (29/12), Romo Magnis menyatakan, gesekan antar golongan umat beragama yang terjadi akhir-akhir ini dapat membahayakan keharmonisan dalam merajut nilai-nilai keberagaman di Indonesia. Romo memastikan perlu ada kekuatan yang menjamin perdamaian.

"Saya mengharapkan bahwa kita semua secara sadar kembali ke kesediaan saling menerima di dalam perbedaan. Sehingga orang Bugis tetapBugis meski dia menjadi orang Indonesia, orang Maumere tetap Maumere. Dan, orang Islam tidak perlu mengorbankan ke-Islamannya dengan menjadi orang Indonesia. Lalu orang Katolik tetap Katolik dengan menjadi Indonesia. Itulah kekuatan yang menjamin perdamaian," kata Romo Frans Magnis Suseno.

Romo Magnis meminta agar semua pihak bisa menampilkan sikap saling kasih seperti Tuhan Yang Maha Esa. Dirinya pun meminta agar tidak menunjukkan seolah-olah agama menakutkan.

"Agama mesti memberikan damai ketenteraman. Mencerminkan rahmat, kasih dan belas kasihan," lanjutnya.

Sementara itu dalam kesempatan sama, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menegaskan, tantangan kemajemukan di Indonesia kian berat dan kompleks. Salah satu penyelesaian yang harus jadi fokus semua pihak, kata dia, adalah meningkatkan dialog antar kelompok, terutama agama. Dialog itu lanjut Din, tetap berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa Indonesia.

"Pertama perlu revitalisasi niai-nilai dasar ini. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 45, yang sesungguhnya merupakan jalan tengah. The middle way. Dan jalan tengah semacam inilah yang manusiawi dan bermasa depan. Tetapi masalahnya, nilai-nilai dasar ini tidak menjelma dalam kehidupan nasional," kata Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin.

Din Syamsuddin yang pernah menjabat sebagai ketua PP Muhammadiyah sepakat dengan rencana Presiden Joko Widodo yang akan menghidupkan kembali pendidikan dan pemantapan nilai-nilai Pancasila.

"Presiden Jokowi akan menghidupkan kembali, dengan diberi nama dewan pemantapan Pancasila. Saya kira baik ya. Asal jangan mengulangi kegagalan penataran P4 dan BP7. Seperti halnya penegaran ideologi atau indoktrinasi begitu saja," imbuhnya.

2017 Program Komunikasi Sehat Melalui Tehnologi Digital

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menilai, perkembangan teknologi digital justru berpotensi merenggangkan ikatan kekeluargaan di tengah masyarakat. Sebab, masyarakat belum punya kendali terhadap perkembangan yang ada.

Informasi yang beredar di media sosial lanjut Hilmar, juga sering melenceng jauh dari akurasi. Namun, tetap saja pengguna media sosial menyebarkannya. Hal inilah yang juga ikut memunculkan gesekan antargolongan umat beragama.

"Semua orang bisa memberitakan begitu saja, asal punya teman cukup banyak, masuk di grup-grup, agak berisik sedikit dan itu jadi kenyataan," kata Hilmar.

Untuk mengantisipasi hal itu, pada tahun 2017 mendatang lanjut Hilmar, Direktur JenderalKebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengembangkan program komunikasi sehat dalam tehnologi digital.

"Secara kolektif seharusnya kita sudah bisa melakukan penolakan terhadap itu. Bukan menolak teknologinya, tetapi menolak penggunaan yang keliru dari tekhologi dan mari kita coba rumuskan apa kira-kira strategi kebudayaan yang berbasis digital itu tadi. Itu adalah salah satu program andalannya Dirjen Kebudayaan pada masa mendatang. Masuk ke dalam teknologi digital itu dan coba mengembangkan komunikasi yang sehat," lanjutnya. [aw/uh]

XS
SM
MD
LG