Tautan-tautan Akses

AS: 10.000 Militan ISIS Tewas Sejak Awal Serangan Militer


Asap dan api di atas kota Kobani akibat serangan udara, terlihat dari tempat penyeberangan perbatasan Turki-Suriah, Mursitpinar di kota Suruc, provinsi Sanliurfa, 18 Oktober 2014.

Asap dan api di atas kota Kobani akibat serangan udara, terlihat dari tempat penyeberangan perbatasan Turki-Suriah, Mursitpinar di kota Suruc, provinsi Sanliurfa, 18 Oktober 2014.

Wakil Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan Rabu, kampanye militer untuk menghentikan kelompok Negara Islam (ISIS) telah menewaskan lebih dari 10.000 tentara militan kelompok tersebut.

Komentarnya terhadap radio Inter Perancis datang sehari setelah ia dan pejabat dari mitra koalisi lainnya bertemu di Paris dengan Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi ini untuk membahas strategi mereke memerangi kelompok Negara Islam.

Amerika Serikat mulai melancarkan serangan-serangan udara terhadap targat-target ISIS Agustus lalu untuk mendukung pasukan darat Irak, dan sebulan kemudian meluas dengan serangan-serangan bom di Suriah.

Serangan-serangan udara tersebut, dengan frekuensi rata-rata 14 serangan per hari, telah membantu pasukan-pasukan pro-pemerintah mengklaim kembali sebagian wilayah, tetap kelompok militan terus meraih berbagai kemenangan, termasuk merebut kota Ramadi di Irak bagian barat bulan lalu.

Blinken mengatakan Selasa bahwa walaupun terjadi beberapa langkah mundur, gabungan dari serangan udara dengan pelatihan, bantuan perlengkapan dan bantuan efektif lainnya terhadap pasukan lokal menghasilkan "kemenangan strategi."

Masih kurang dukungan

Walaupun begitu, Abadi mengatakan pasukan-pasukan pro-pemerintah kurang mendapat dukungan dari koalisi internasional.

Dari kiri, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, Menlu Perancis Laurent Fabius dan Wamenlu AS Antony Blinken berbicara kepada media setelah bertemu membahas strategi memerangi kelompok Negara Islam, di Paris, Perancis,

Dari kiri, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, Menlu Perancis Laurent Fabius dan Wamenlu AS Antony Blinken berbicara kepada media setelah bertemu membahas strategi memerangi kelompok Negara Islam, di Paris, Perancis,

Ia mengatakan sebelum perundingan Selasa, masih dibutuhkan lebih banyak dukungan intelijen, dan bahwa jumlah tentara asing yang memasuki Irak belum berkurang walaupun ini merupakan salah satu sasaran utama yang ditargetkan oleh koalisi.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry yang masih dalam masa pemulihan pasca kecelakaan bersepeda bergabung via telepon dari Amerika Serikat. Kerry mengatakan kepada para peserta perundingan bahwa kalahnya pasukan Irak dari ISIS di Ramadi mendorong AS untuk mengirimkan roket anti-tank terhadap kendaraan-kendaraan yang digunakan dalam serangan-serangan bunuh diri.

"[Islamic State] is a resilient and utterly ruthless foe that has weaknesses and can be defeated. We have known from the start that this would be a difficult, multi-year campaign. And make no mistake: What happened in Ramadi was a setback. But it is one that we can help the Iraqis overcome,” said Kerry.

"[Negara Islam] adalah musuh yang tak mudah menyerah dan tak kenal belas kasihan yang memiliki kelemahan dan dapat dikalahkan. Kita telah mengetahui dari awal bahwa ini akan menjadi kampanye sulit yang akan memakan waktu bertahun-tahun. Dan jangan salah. Yang terjadi di Ramadi adalah langkah mundur. Tapi ini sesuatu yang kita bisa bantu Irak untuk mengatasinya," ujar Kerry.

XS
SM
MD
LG