Tautan-tautan Akses

Menteri Pendidikan: Pemerintah Rombak Kurikulum dan Ujian Nasional

  • Yudha Satriawan

Menteri Pendidikan Anies Baswedan dalam kunjungan ke Solo (26/2). (VOA/Yudha Satriawan)

Menteri Pendidikan Anies Baswedan dalam kunjungan ke Solo (26/2). (VOA/Yudha Satriawan)

Kurikulum sekolah akan dibuat bervariasi sesuai potensi budaya lokal dan Ujian Nasional bukan menjadi syarat mutlak kelulusan siswa.

Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengatakan pemerintah tahun ini mulai merombak kurikulum dan Ujian Nasional bagi siswa sekolah dasar dan sekolah menengah.

Perombakan ini mulai dari kurikulum mengangkat potensi budaya lokal hingga Ujian Nasional berbasis komputer dan bukan syarat mutlak kelulusan, ujarnya, Kamis (26/2).

“Ke depan, kurikulum kita bervariasi, ada nasional, lokal, dan kurikulum sekolah. Kita susun kurikulum untuk sekolah di kawasan perkotaan, pedesaan, pegunungan, kepulauan. Kita angkat budaya lokal masuk kurikulum. Ada sekitar 10-12 menu variatif dari kurikulum baru. Akhir tahun bisa kita uji coba dan tahun depan dilakukan bertahap," ujar Anies dalam pidato di hadapan sekitar 100 orang kepala sekolah maupun perwakilan sekolah dasar hingga sekolah menengah di Solo yang berkumpul di SMA 1 Solo.

“Ujian Nasional kita ubah polanya, UN bukan penentu kelulusan siswa. Hasilnya kita percayakan pada sekolah, kita menilai anak bukan pada saat hasil UN, enam mata pelajaran saja, tetapi hasil seluruh pelajaran di sekolah."

Menurut Anies, pemerintah saat ini sedang menyusun kurikulum baru dan menyiapkan sistem uji coba Ujian Nasional berbasis komputer. Ia menambahkan bahwa kurikulum bagi sekolah akan dibuat bervariasi sesuai potensi budaya lokal dan Ujian Nasional bukan menjadi syarat mutlak kelulusan siswa.


“Hasil UN lebih detil dan ada deskripsi sehingga bisa dibuat untuk menilai hasil di sekolah. Harapannya nanti, bisa menjadi motivasi belajar anak-anak dan guru orientasinya positif, bukan negatif. Kalau sistem pendidikan pemerintahan kemarin kan Ujian Nasional menakutkan karena takut gagal lulus. Sekarang ikut UN karena nilainya ingin lebih tinggi," ujarnya.

"Saya sampaikan juga bahwa ke depan, kurikulum yang sedang dievaluasi dan di-review itu bukan lagi kurikulum yang seragam secara nasional."

Besarnya negara ini dan adanya 7,3 juta siswa melakukan ujian secara serentak memerlukan UN berbasis komputer yang secara pembiayaan lebih efisien, ujar Anies

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA 1 Solo, Thoyibbun, menyatakan kesiapannya mengikuti Ujian Nasional berbasis Komputer meski Ujian Nasional akan berlangsung dua bulan lagi.

“Untuk Ujian Nasional berbasis komputer, kita sudah siapkan tiga laboratorium komputer atau IT di sekolah ini. Petunjuk teknis UN berbasis komputer ini belum kami terima. Nanti akan ada survei dari pemerintah pusat dan provinsi untuk mengecek kesiapan kami menggelar UN berbasis komputer ini. Kalau memang fasilitas kami dinilai ok atau layak, ya bisa digelar, tapi kalau tidak ya batal UN pakai komputer ini. Ada lima sekolah di Solo yang disiapkan dan ditunjuk menjadi uji coba UN berbasis komputer," ujarnya.

Anies Baswedan juga melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan non-formal di Solo antara lain Pusat Kegiatan Belajar Mandiri maupun aktivitas anak di Taman Cerdas yang dibangun dan berisi fasilitas arena bermain, perpustakaan, dan fasilitas komputer ramah anak.

Ujian Nasional setingkat Sekolah Menengah Atas dan sederajat digelar 13-15 April, dan khusus untuk UN berbasis Komputer digelar 7-15 April 2015 mendatang.

Akhir tahun lalu, pemerintah menyatakan mengevaluasi kurikulum 2013 yang dianggap belum siap untuk diterapkan di sekolah. Langkah ini membingungkan pengelola sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, murid, orang tua murid, hingga pengusaha percetakan karena buku kurikulum 2013 sudah terlanjur dipasarkan dan digunakan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG