Tautan-tautan Akses

AS

Menlu Clinton Tinggalkan Tiongkok Menuju Bangladesh


Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam penutupan dialog kerjasama strategis AS-Tiongkok di Beijing (4/5).

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam penutupan dialog kerjasama strategis AS-Tiongkok di Beijing (4/5).

Menteri luar negeri AS Hillary Clinton telah meninggalkan drama diplomatik di Tiongkok menuju Bangladesh dalam lawatannya di Asia.

Menlu Clinton akan bertemu dengan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina dan saingannya, pemimpin oposisi oposisi Begum Khaleda Zia hari Sabtu

Diplomat tertinggi Amerika itu juga akan bertemu dengan pemenang hadiah Nobel Muhammad Yunnus, yang pemecatannya dari bank perintis pemberi pinjaman mikro, Grameen Bank, telah dikritik oleh Washington.

Menteri Clinton tiba di Bangladesh ketika gejolak semakin meningkat terkait hilangnya seorang pemimpin oposisi.

Menteri Luar Negeri Hillary Clinton meninggalkan Beijing hari Jumat setelah mendapat persetujuan dari pemerintah Tiongkok terkait disiden Chen Guangcheng. Aktivis tunanetra itu akhirnya dapat mendaftar kuliah ke luar negeri, suatu terobosan dalam penyelesaian sengketa diplomatik AS-Tiongkok. Sengketa ini bermula sasat Chen kabur dari tahanan rumah dan meminta perlindungan di kedutaan besar Amerika.

Hari Jumat, Menlu Clinton mengatakan berbesar hati atas sikap terbaru Tiongkok. Pembicaraan tingkat tinggi tahunan AS-Tiongkok sempat dibayangi drama kasus Chen.

Pejabat-pejabat Amerika mengukuhkan laporan-laporan bahwa Chen telah menerima surat dari sebuah universitas Amerika yang menawarinya beasiswa. Salah seorang teman Chen mengatakan universitas itu adalah New York University, dan bahwa aktivis tunanetra itu berharap pergi ke Amerika untuk beberapa lama sebelum pulang ke Tiongkok.

Sebagian aktivis HAM mengatakan Amerika seharusnya skeptis mengenai janji pemerintah Tiongkok mengenai keselamatan Chen.

Chen adalah pengacara otodidak dan aktivis HAM yang telah buta sejak kanak-kanak. Dia dihukum empat tahun penjara tahun 2006 karena memaparkan berbagai pelanggaran dalam kebijakan aborsi paksa di Tiongkok untuk mengendalikan populasi. Dia telah berada dalam tahanan rumah sejak 2010 sebelum meloloskan diri tanggal 22 April.
XS
SM
MD
LG