Tautan-tautan Akses

Menlu Suriah Peringatkan Arab Saudi untuk Tidak Kirimkan Pasukan ke Suriah


Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Muallem (Foto: dok.)

Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Muallem (Foto: dok.)

Menteri luar negeri Suriah Walid al-Muallem memperingatkan Arab Saudi jangan mengirim pasukan ke Suriah dan mengancam bahwa pasukan itu akhirnya nanti akan dikirim pulang dalam keranda.

Para wartawan, pejabat tinggi pemerintah bersama undangan lain bertepuk-tangan tatkala Menteri Luar Negeri Walid al-Muallem berbicara berapi-api tentang perundingan damai yang diprakarsai PBB di Jenewa dan tentang melanjutkan operasi militer sampai ‘teroris dikalahkan’.

Muallem berkeras pemerintah Suriah tidak bakal menyetujui gencatan-senjata apapun di lapangan, walaupun PBB berusaha ke arah itu, selama Negara Islam ISIS, al-Qaida dan kelompok ‘teroris’ lain masih terus bertempur di Suriah. Ia memperingatkan Arab Saudi jangan mengirim pasukan untuk bertempur di Suriah.

Ia mengatakan logika tidak akan membuat Arab Saudi melakukan campur tangan lapangan di Suriah. Namun, melihat ketololan rezim Arab Saudi tidak ada yang tidak mungkin. Ia memperingatkan Arab Saudi bahwa tiap agresi di bumi Suriah akan berakhir dengan sang agresor dikirim pulang dalam peti mayat.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Jenderal Ahmed al-Assiri mengatakan kepada media Arab hari Jum’at bahwa negaranya siap mengirim pasukan darat untuk bertempur di Suriah.

Jenderal Assiri mengatakan, Kerajaan Arab Saudi siap ikut dalam operasi darat yang disepakati bersama oleh koalisi pimpinan Amerika melawan ISIS di Suriah.

Presiden Barack Obama menyambut baik kesediaan Arab Saudi mengirim pasukan dalam jumpa pers di Washington hari Jum’at.

Menteri Luar Negeri al-Muallem juga mengeritik Utusus PBB untuk Suriah, Steffan de Mistura karena mengadakan perundingan damai dengan para pemimpin oposisi yang menurutnya ‘tidak mewakili rakyat Suriah’. Kemudian ia mendamprat kelompok-kelompok bersenjata yang bertempur melawan pemerintah dan berterima kasih kepada Rusia atas bantuan militernya.

Muallem mengatakan peranan Rusia tidak akan berakhir sebelum ISIS, Jabhat al-Nusra bersama kelompok lain terkait al-Qaida dikalahkan, yang adalah sesuai dengan resolusi PBB.

Sementara itu, Nadim Shehadi ketua Issam Fares Center Tuft’s University Fletcher School of Diplomacy di Amerika berpendapat situasi di Syria akan terus memburuk selama pemerintah Suriah dan sekutunya tidak menghadapi lawan dengan kekuatan yang cukup.

Nadim mengatakan, "Sekarang semakin dipahami bahwa Russia, Iran dan rezim Assad menghendaki penyelesaian militer di Suriah​. Dan ini tidak dikonfrontir oleh Amerika dan sekutunya sehingga akan menjurus kepada frustrasi serta radikalisme yang semakin meningkat di sana."

Pemerhati Timur Tengah yang berkedudukan di Dubai, Theodore Karasik berpendapat intervensi oleh Amerika bersama sekutu dan musuh pemerintah Suriah, Arab Saudi dan Turki, akan merupakan ‘kegilaan-gilaan’ mengingat ‘suasana yang sudah amat panas’. Namun, tambahnya, ‘tidak ada lagi yang bakal mengejutkan kita’. [al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG