Tautan-tautan Akses

Menlu Sambut Kedatangan WNI dari Yaman


Menlu Retno Marsudi berbincang dengan sejumlah WNI yang berhasil dievakuasi dari Yaman, di Bandara Soekarno Hatta, Minggu, 5 April 2015. (Foto: VOA/Andylala)

Menlu Retno Marsudi berbincang dengan sejumlah WNI yang berhasil dievakuasi dari Yaman, di Bandara Soekarno Hatta, Minggu, 5 April 2015. (Foto: VOA/Andylala)

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meminta kepada semua pihak di Yaman agar memberlakukan jeda kemanusiaan, untuk memberikan kesempatan bagi warga sipil dievakuasi keluar dari Yaman.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Lestari Marsudi menyambut kedatangan 110 Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Yaman di bandara Soekarno-Hatta Minggu (5/4). 110 WNI tersebut merupakan bagian pertama yang tiba di Indonesia dari 262 WNI yang berhasil keluar dari Yaman ke Jizan Arab Saudi beberapa hari lalu.

Retno Marsudi menjelaskan, Tim Percepatan Evakuasi WNI berhasil masuk ke kota Tariim (Yaman bagian timur) melalui perbatasan Yaman-Oman. Tim telah berkoordiansi dengan WNI yang ada di Tariim, Al Mukalla dan kota lainnya di daerah Hadhramaut untuk mempersiapkan proses evakuasi.

"Kemarin sudah bisa masuk di kota Tariim. Kota Tariim itu sekitar 950 kilometer dari kota Salalah Oman. Sekitar 1.500 mahasiswa kita berada di sana. Kemarin (Sabtu 4/4) tim kita sudah bertemu dengan para mahasiswa kita, dengan para pengurus lembaga pendidikan tersebut untuk meminta agar mau di evakuasi," kata Retno.

Retno menambahkan, telah dibentuk Tim Relawan Percepatan Evakuasi yang di pimpin oleh PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Hadhramaut. Tim terpadu evakuasi WNI juga telah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak termasuk para tokoh ulama dan pimpinan universitas dan pesantren guna membantu meyakinkan WNI yang ada di daerah Hadhramaut agar bersedia di evakuasi.

Seputar keadaan di Yaman Retno menjelaskan, keadaan keamanan di Yaman, khususnya di bagian Barat Yaman sekitar kota Aden dan Sanaa semakin memprihatinkan. Kontak senjata antara pihak yang bertikai menurut Retno, semakin meluas. Ia menambahkan, kondisi ini mempersulit upaya evakuasi yang dilakukan dan mengharuskan Tim Evakuasi WNI Indonesia untuk terus menyesuaikan skenario, langkah dan proses evakuasi.

Sementara itu, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Muhamad Iqbal menjelaskan, seluruh skenario percepatan evakuasi terus dijalankan, bak melalui darat, laut maupun udara, di wilayah Yaman menuju Oman dan Arab Saudi.

"Sebetulnya hari ini kita telah melakukan evakuasi lagi dari Jizan (Arab Saudi) dengan Boeing 737 milik TNI AU. 110 orang sudah diterbangkan ke Muscat (Oman) dan akan diterbangkan dengan pesawat komersial. Sebagian kita terbangkan ke Bali sebagian ke Jakarta. Semua skenario masih kita hidupkan. Pesawat TNI AU kita stand by di Salalah perbatasan Yaman dan Oman. Kita juga masih hidupkan opsi dari laut, dengan kapal dari Djibouti City (Djibouti). Kemudian jalur darat dari kota Al Hudaidah (Yaman) ke Arab Saudi," jelasnya.

Dari data Kemenlu, proses evakuasi WNI di Yaman sudah dimulai pada bulan Desember 2014 dan dilakukan percepatan evakuasi sejak 25 Maret 2015. Sebanyak 792 WNI telah dievakuasi dari Yaman dan sampai hari ini sebanyak 590 telah kembali ke Indonesia. Sisanya sebanyak 202 WNI saat ini sudah dievakuasi ke wilayah aman yaitu di Jizan (Arab Saudi), dan Djibouti City (Djibouti).

Sejumlah WNI yang ada di berbagai penampungan atau safe house dan menunggu evakuasi; di Aden 89 orang, Sana’a 14 orang, Al Mukalla 40 orang dan Tareem 58 orang.

Seperti diketahui pemerintah Indonesia telah mengirimkan tim terpadu ke Yaman dan Salalah, Oman untuk melakukan percepatan evakuasi WNI termasuk dengan mengerahkan satu pesawat TNI AU Boeing 737-400 dan satu kapal yang disewa dari Djibouti. Tim yang terdiri 43 personil meliputi unsur Kementerian Luar Negeri (14 orang), TNI AU (21 orang), Polri (7 orang), dan BIN (3 orang). Tim terus mencari cara untuk dapat melakukan evakuasi cepat, aman dan efisien.

Operasi evakuasi Yaman melibatkan 5 Perwakilan RI yaitu KBRI Sanaa, KBRI Riyadh, KBRI Muscat, KBRI Addis Ababa dan KJRI Jeddah.

Indonesia juga menyesalkan terjadinya kembali korban sipil dalam pertikaian di Yaman. Pemerintah Indonesia terus menyerukan agar semua pihak menahan diri dan memperhatikan keselamatan warga sipil, baik itu warga Yaman maupun warga asing.

Menlu RI Retno Marsudi meminta kepada semua pihak di Yaman agar memberlakukan jeda kemanusiaan (humanitarian pause) guna memberikan kesempatan bagi warga sipil dievakuasi keluar dari Yaman. Kesempatan ini akan digunakan oleh Pemerintah RI untuk melakukan evakuasi WNI secepatnya dari Yaman.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG