Tautan-tautan Akses

Menlu Rusia: Presiden Suriah akan Tetapkan Tanggal Referendum Konstitusi


Presiden Suriah Bashar al-Assad (kiri) berjabat tangan dengan Menlu Rusia, Sergei Lavrov disaksikan Kepala Intejijen Rusia, Mikhail Fradkov (kedua dari kanan) di Damaskus (7/2).

Presiden Suriah Bashar al-Assad (kiri) berjabat tangan dengan Menlu Rusia, Sergei Lavrov disaksikan Kepala Intejijen Rusia, Mikhail Fradkov (kedua dari kanan) di Damaskus (7/2).

Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan hal itu setelah bertemu Presiden Bashar al-Assad di Damaskus untuk membahas situasi di Suriah.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Presiden Suriah Bashar al-Assad akan segera menetapkan tanggal untuk referendum konstitusi baru, setelah keduanya bertemu di Damaskus untuk membahas peningkatan kekerasan di negara itu.

Media pemerintah Rusia mengutip Lavrov yang mengatakan Assad memberitahunya bahwa dia akan bertemu dalam beberapa hari mendatang dengan komisi yang menyiapkan rancangan konstitusi baru tersebut. Lavrov dilaporkan memberitahu Assad, "pemimpin setiap negara harus menyadari bagian dari tanggung jawabnya. Anda menyadari tanggungjawab anda."

Diplomat tinggi dan kepala intelijen luar negeri Rusia dalam kunjungan satu hari ke Suriah yang dikatakan Kementerian Luar Negeri Rusia merupakan bagian dari upaya Moskow untuk menstabilkan sekutu kuncinya di Timur Tengah berdasarkan "reformasi demokrasi yang saatnya telah tiba."

Sementara itu, Perancis menarik duta besarnya untuk Suriah karena pemerintah Assad terus menekan gerakan protes yang sudah berlangsung selama 11 bulan. Langkah ini dilakukan setelah Amerika Serikat menutup kedutaannya di Damaskus Senin dan Inggris serta Italia menarik utusan mereka untuk pembicaraan darurat.

Aktivis Suriah mengatakan penembakan sengit dilanjutkan Selasa di pusat protes Homs, sehari setelah hampir 100 warga sipil tewas dalam pertempuran di seluruh negeri. Aksi penembakan itu menandai hari keempat serangan pemerintah yang menurut para aktivis dimulai dengan pembantaian sedikitnya 200 warga pada Jumat Malam hingga Sabtu lalu. Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, menuding kekerasan itu dilakukan para teroris bersenjata.

XS
SM
MD
LG