Tautan-tautan Akses

Menlu Rusia Nilai AS Agresif dalam Isu Dunia

  • Daniel Schearf

Menlu Rusia Sergei Lavrov menilai pemerintah AS ingin mendominasi urusan dunia (foto: dok).

Menlu Rusia Sergei Lavrov menilai pemerintah AS ingin mendominasi urusan dunia (foto: dok).

Menlu Rusia Sergei Lavrov menilai pidato kenegaraan Presiden Barack Obama hari Selasa (20/1) malam, mencerminkan keinginan AS untuk mendominasi urusan dunia.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengecam keras kritik Presiden Amerika Barack Obama terhadap tindakan Rusia di Ukraina. Dalam konferensi pers tahunan di Moskow Rabu (21/1), Lavrov menyangkal tuduhan-tuduhan adanya dukungan militer baru Rusia untuk kelompok separatis Ukraina dan menuduh Amerika berupaya mendominasi dunia.

Lavrov mengatakan bahwa pernyataan Presiden Barack Obama pada pidato kenegaraan menunjukkan bahwa Amerika telah mengadopsi kebijakan konfrontasi dan tidak menilai tindakan-tindakannya sendiri.

Dalam pidato kenegaraan tahunan hari Selasa (20/1), Presiden Obama mengatakan dukungan Amerika kepada Ukraina merupakan sikap berprinsip menentang gangguan Rusia terhadap negara yang lebih kecil. Presiden Obama juga mengatakan sekutu-sekutu Amerika kini bersatu melawan agresi Rusia, sementara Rusia menghadapi isolasi diplomatik dan ekonomi yang carut marut.

Lavrov juga menuduh Amerika telah menekan sekutu-sekutu seperti Eropa dan Jepang untuk beramai-ramai melawan Rusia.

Lavrov mengatakan, pidato kenegaraan tahunan Presiden Obama hari Selasa menunjukkan satu falsafah utama Amerika yaitu “Amerika adalah negara nomor satu di dunia dan negara lain harus menghormati kenyataan itu”. Lavrov menambahkan hal ini ketinggalan jaman dan tidak mencerminkan realita saat ini. Hal itu – menurut Lavrov – menunjukkan Amerika ingin mendominasi dunia dan tidak semata-mata menjadi nomor satu di antara negara-negara maju.

Lavrov menegaskan upaya Barat untuk mengisolasi Rusia telah gagal.

Negara-negara Barat mengenakan sanksi-sanksi ekonomi dan diplomasi terhadap Rusia setelah negara itu menganeksasi Semenanjung Krimea di Ukraina Timur bulan Maret 2014 lalu. Negara-negara Barat memperluas sanksi terhadap Rusia setelah menuduh negara itu mengirim senjata dan pasukan ke Ukraina Timur untuk mendukung kelompok separatis pro-Rusia sehingga tetap memiliki keunggulan atas pemerintah Ukraina yang condong ke Eropa. Pemerintah Rusia tetap menyangkal telah membantu pemberontak Ukraina secara militer.

Sanksi-sanksi itu telah membantu mendorong ekonomi Rusia menuju resesi sewaktu harga minyak dunia – yang menjadi ekspor utama Rusia – anjlok lebih dari separuh.

Lavrov juga menolak tuduhan Ukraina bahwa Rusia mengirim pasukan dan senjata baru pekan ini untuk mendukung kelompok separatis.

Lavrov mengatakan Rusia telah sering mendengar tuduhan terkait adanya arus pasukan dan senjata. Jika hal ini benar – tegasnya – tunjukkanlah buktinya. Tidak satu pihak pun dapat atau mau menunjukkan bukti kepada kami, kata Lavrov.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov hari Rabu bergabung bersama menteri-menteri luar negeri dari Perancis, Jerman dan Ukraina di Berlin untuk membahas krisis tersebut dan kemungkinan penyelenggaraan pertemuan puncak di Kazakhstan pada akhir Januari ini.​

XS
SM
MD
LG