Tautan-tautan Akses

Menlu Iran: Surat 47 Senator Tunjukkan AS Tak Bisa Dipercaya


Menlu Iran Mohammad Javad Zarif memberikan komentar atas surat dari sekelompok senator AS dari partai Republik, Selasa (10/3).

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif memberikan komentar atas surat dari sekelompok senator AS dari partai Republik, Selasa (10/3).

Menlu Iran Javad Zarif hari Selasa (10/3) mengomentari surat dari sekelompok senator AS dari partai Republik, yang memperingatkan perjanjian nuklir dapat dibatalkan begitu Presiden Obama meninggalkan jabatan.

Menteri Luar Negeri Iran hari Selasa (10/3) mengatakan surat dari sekelompok senator Amerika dari partai Republik, yang memperingatkan suatu perjanjian nuklir yang mungkin dicapai dengan Teheran dapat dibatalkan begitu Presiden Barack Obama meninggalkan jabatannya, menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak dapat dipercaya.

Di Teheran, Mohammad Javad Zarif mengatakan kepada badan ulama tertinggi di negara itu, Majelis Pakar, bahwa pengiriman surat dari 47 legislator Amerika itu “tidak pernah dilakukan sebelumnya dan tidak diplomatis. Ia mengatakan surat itu menunjukkan bahwa Iran tidak dapat mempercayai Amerika Serikat.

Surat para Senator pada hari Senin itu memperingatkan para pemimpin Iran bahwa perjanjian apapun yang dirundingkan Obama dengan Teheran hanya dapat berlaku hingga Obama meninggalkan jabatannya pada awal 2017.

Hubungan luar negeri Amerika dengan negara-negara lain hampir selalu dilakukan oleh presiden dan para diplomat negara bersangkutan, dan intervensi langsung para legislator dengan mengirim surat itu menimbulkan kemarahan Obama.

Sebelumnya, Zarif mengatakan surat para Senator Republik itu tidak memiliki nilai hukum dan lebih merupakan taktik propaganda. Ia mengatakan jika pemerintah Amerika mendatang mencabut suatu perjanjian dengan Iran, ini akan merupakan pelanggaran terang-terangan hukum internasional.

Dalam surat tersebut, para senator Republik mengatakan jika perjanjian yang sedang dirundingkan dengan Amerika Serikat dan lima negara kuat dunia lainnya tidak setujui Kongres, perjanjian bisa dianggap itu tidak lebih dari perjanjian eksekutif antara Obama dan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Wakil Presiden Joe Biden, yang menjadi senator selama 36 tahun, mengatakan surat itu mengancam akan merongrong kemampuan presiden mendatang untuk merundingkan perjanjian internasional dan merendahkan martabat institusi yang ia hormati.

Dalam pernyataannya hari Senin, Biden mengemukakan surat itu mengirim isyarat yang sangat menyesatkan untuk teman maupun musuh bahwa panglima tertinggi Amerika tidak dapat memenuhi komitmen-komitmen Amerika. Menurutnya, pesan ini keliru dan sangat berbahaya.

Ia mengatakan para senator juga tidak memberi alternatif nyata bagi perundingan nuklir yang sedang berlangsung.

Sebelumnya hari Senin, jurubicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan kepada wartawan bahwa surat tersebut merupakan upaya menghambat perundingan yang sensitif itu sementara Amerika Serikat dan lima negara kuat dunia lainnya berusaha mencapai persetujuan dasar dengan Teheran sebelum 31 Maret mendatang.

Para Senator Republikan itu menyatakan, jika Kongres tidak menyetujui perjanjian nuklir dengan Iran, presiden Amerika mendatang dapat mencabut perjanjian eksekutif semacam itu, dan Kongres mendatang dapat mengubah persyaratan dalam perjanjian itu sewaktu-waktu.

Para legislator, yang mencakup semua kecuali 7 orang dari 54 anggota Republik yang menjadi mayoritas di Senat, memperingatkan bahwa sementara Obama akan meninggalkan jabatannya dalam waktu kurang dari dua tahun, sebagaimana yang dimandatkan Konstitusi Amerika, banyak di antara mereka yang mungkin masih menjabat selama beberapa dekade.

Pada hari Minggu, Obama mengatakan Amerika akan meninggalkan perundingan nuklir dengan Iran jika tidak tercapai suatu perjanjian untuk mencegah Iran membuat senjata nuklir, yang dapat diverifikasi kalangan internasional . Ia mengancam akan memveto rencana undang-undang yang akan mengharuskan Kongres mengevaluasi perjanjian apapun yang akan dicapai.

Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya untuk keperluan damai dan masih terus berunding dengan Amerika, Jerman, Inggris, Perancis, Tiongkok dan Rusia mengenai cakupan kegiatan nuklir yang boleh dilakukan negara itu sebagai imbalan atas pencabutan sanksi-sanksi ekonomi melumpuhkan yang diberlakukan Amerika dan Eropa terhadap Iran. Para perunding menghadapi tenggat yang mereka tetapkan sendiri untuk menuntaskan perjanjian dasar sebelum akhir Maret, dan perjanjian final sebelum akhir Juni.

Banyak anggota parlemen Amerika, kebanyakan dari fraksi Republik, menyatakan keprihatinan mengenai perundingan itu. Mereka khawatir sanksi-sanksi akan dilonggarkan sementara Iran bebas membuat senjata nuklir.

Ketua DPR Amerika yang dikuasai fraksi Republik, John Boehner, mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk berbicara di depan Kongres pekan lalu mengenai apa yang dianggap Tel Aviv sebagai “kesepakatan yang buruk” akan muncul dari perundingan nuklir Iran. Boehner menyampaikan undangan itu tanpa memberitahu Gedung Putih, melangkahi protokol diplomatik normal di Amerika Serikat.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG