Tautan-tautan Akses

Menlu Filipina pada AS: Jangan Ceramah Soal HAM


Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay (kiri) dalam KTT ASEAN-AS di Vientiane, Laos (8/9). (AP/Gemunu Amarasinghe)

Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay (kiri) dalam KTT ASEAN-AS di Vientiane, Laos (8/9). (AP/Gemunu Amarasinghe)

Diplomat teratas itu mendesak Amerika supaya tidak memberikan ceramah tentang hak asasi agar Filipina mendapat bantuan Amerika.

Menteri Luar Negeri Filipina memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak menceramahi pemerintahnya tentang hak asasi manusia, yang mendorong juru bicara Gedung Putih untuk mendesak semua negara, terutama sekutu AS, untuk menegakkan hak asasi manusia yang universal.

Berbicara di Washington hari Kamis (15/9), Menlu Perfecto Yasay menyerukan sikap saling menghormati antara negaranya dan Amerika, bekas penjajah, dengan mengatakan Filipina bukan "adik Amerika dengan kulit berwarna.”

Namun Yasay meyakinkan kelompok di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) bahwa Filipina bertekad untuk menjalin hubungan positif dengan Amerika Serikat.

Penampilannya menyusul serangkaian pernyataan yang kontroversial dari Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Duterte mendesak Presiden AS Barack Obama untuk tidak menanyakan kepadanya tentang pembunuhan-pembunuhan di luar hukum, atau, katanya “anak pelacur, saya akan mengutukmu.”

Setelah pernyataan Duterte itu, Obama membatalkan pertemuan tersebut, meskipun ia dan Duterte bertemu dalam pertemuan singkat ketika diadakan jamuan makan malam ASEAN.

Obama kemudian mengatakan pernyataan Duterte itu tidak mempengaruhi hubungan antar kedua negara sekutu itu.

"Saya meminta teman-teman Amerika kami, pemimpin Amerika, untuk memahami aspirasi kami," kata Yasay. " Kami tidak bisa selamanya menjadi adik berkulit coklat bagi Amerika .... Kami harus berkembang, kami harus tumbuh dan menjadi saudara bagi rakyat kami sendiri."

Diplomat teratas itu mendesak Amerika supaya tidak memberikan ceramah tentang hak asasi agar Filipina mendapat bantuan Amerika.

"Kalian tidak bisa pergi ke Filipina dan mengatakan 'saya akan memberi sesuatu; saya akan membantu kalian tumbuh, tapi ini daftar yang harus kalian patuhi. Kami akan kuliahi kalian tentang hak asasi manusia," kata Yasay.

Di Gedung Putih, juru bicara Josh Earnest mengatakan "Presiden telah menjelaskan bahwa hak asasi mempengaruhi hubungan kita dengan Filipina."

Amerika telah bekerjasama dengan Filipina dalam memerangi teroris, ekstremis dan tindak kekerasan sehubungan dengan perdagangan narkoba, kata Earnest. [sp/isa]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG