Tautan-tautan Akses

Menlu AS di Moskow, Upayakan Kesepakatan AS-Rusia soal Suriah


Menlu AS John Kerry akan melakukan pembicaraan dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov di Moskow, seputar isu di Suriah (foto: dok).

Menlu AS John Kerry akan melakukan pembicaraan dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov di Moskow, seputar isu di Suriah (foto: dok).

Menlu AS John Kerry Kamis (14/7) berada di Moskow, Rusia dalam upaya mendapatkan kerjasama Rusia dalam operasi anti-teror di Suriah, meskipun hubungan AS-Rusia sedang terganggu karena permasalahan Ukraina, NATO, dan isu-isu lainnya.

Pembicaraan dua hari Menlu AS John Kerry dengan pihak Rusia, secara resmi diperkirakan menyinggung berbagai masalah luas; tapi, laporan yang dibocorkan pertama kali diterbitkan oleh harian The Washington Post menyatakan, diplomat AS itu menawarkan Putin sesuatu yang dramatis, yaitu: aliansi militer AS-Rusia melawan ISIS, al-Qaida, dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya di Suriah.

Sebelum berangkat ke Moskow, Kerry menolak untuk menjelaskan, tapi mengatakan ia akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin serta rekan sejawatnya, Menlu Rusia Sergei Lavrov.

"Kita punya banyak waktu untuk berbicara tentang hal itu," kata Kerry.

Para pejabat Kremlin juga tidak banyak memberi rincian.

"Kami berharap, kunjungan Kerry akan memuluskan perbaikan hubungan Rusia-Amerika, sebab menjaga stabilitas global dan memecahkan berbagai isu internasional bergantung pada mereka," kata Kementerian Luar Negeri Rusia, hari Kamis.

Garis besar usul yang bocor itu, yang disebut "U.S.-Russian Joint Implementation Group”, adalah berupa kerjasama dalam operasi pengeboman terhadap kelompok-kelompok ekstremis sebagai imbalan bagi bagi Russia untuk menekan pemimpin Suriah Bashar al - Assad.

Secara khusus, Washington ingin Moskow memaksa Assad untuk menghentikan pemboman terhadap kelompok militan moderat dan penduduk sipil dan pada akhirnya, melepaskan kekuasaannya. Diperkirakan setengah juta orang telah meninggal selama lima tahun perang saudara Suriah.

Jika berhasil, usul itu akan menandai perubahan yang sangat berarti dalam posisi AS.

Sejak intervensi militer Rusia dalam konflik Suriah September lalu Amerika telah berulang kali menuduh Rusia menggunakan kekuatan udara untuk menopang rezim Assad, bukan tujuan yang dikatakan oleh Rusia untuk menarget teroris.

Skeptisisme itu masih ada. Baru saja minggu ini, para pejabat AS menuduh Rusia membom dua kamp pemberontak yang dihuni pemberontak bersama keluarga mereka yang didukung Amerika, 135 orang dilaporkan tewas dalam serangan itu. [ps/al]

XS
SM
MD
LG