Tautan-tautan Akses

Menlu AS Kunjungi Kamp Pengungsi Suriah

  • Scott Stearns

Menlu AS John Kerry (tengah) berbicara dengan 6 orang perwakilan pengungsi Suriah di kamp Zaatari dekat Mafraq, Yordania Kamis (18/7).

Menlu AS John Kerry (tengah) berbicara dengan 6 orang perwakilan pengungsi Suriah di kamp Zaatari dekat Mafraq, Yordania Kamis (18/7).

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry telah mengunjungi kamp pengungsi Suriah 'Zaatari' di dekat kota Mafraq, Yordania hari Kamis (18/7).

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry dan Menteri Luar Negeri Yordania Nasser Judeh berkunjung ke kamp pengungsi Zaatari, di mana hampir 120 ribu orang hidup di tempat yang telah menjadi sebuah kota kecil yang terletak di sebuah dataran kering sekitar 12 kilometer dari perbatasan Suriah.

Kerry melakukan tur udara di atas kamp Zaatari, Kamis, dan melakukan pembicaraan sekitar 40 menit dengan enam orang perwakilan pengungsi. Seorang perempuan Suriah mengatakan, ia berharap Kerry tidak akan pulang ke Amerika sebelum menemukan solusi atas krisis itu, dan menyarankan seharusnya diberlakukan zona larangan terbang atau embargo terhadap Suriah.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry mengatakan masyarakat internasional harus mendorong berakhirnya perang saudara di Suriah, menghentikan aksi kekerasan dan membiarkan kembalinya hampir 2,5 juta pengungsi ke tanah air mereka. Menteri Luar Negeri John Kerry hari Kamis mengunjungi sebuah kamp pengungsi di Yordania – di dekat perbatasan Suriah.

Para pengungsi dan pekerja bantuan mengatakan pola pikir di sini telah berubah seiring keberhasilan militer yang setia kepada Presiden Suriah Bashar Al-Assad, orang menyadari bahwa setelah lebih dari dua tahun berada dalam perang ini, menjadi pengungsi bukanlah status sementara.

Keluarga-keluarga mulai menyemen bagian hunian mereka di sekitar air mancur hias. Lebih dari sepuluh bayi dilahirkan setiap hari di sebuah rumah sakit yang didirikan Moroko di kamp itu. Taksi selalu tersedia di jalan beraspal yang dikenal sebagai Champs Elysees itu, yang melewati lebih dari tiga ribu toko dan 500 warung penjual makanan di kamp itu.

Tetapi untuk semua upaya menciptakan kondisi yang normal di kamp itu, John Kerry mengatakan ada “semangat yang tak terlupakan” yang harus ditanggapi dunia.

“Ini menggarisbawahi pentingnya masyarakat internasional, membantu meringankan beban mereka . Tetapi juga – membantu mengakhiri krisis di Suriah . Apa yang terjadi tentu saja luarbiasa . Kehidupan mereka sangat sulit. Beban Yordania juga sangat besar,” ujar Kerry.

Menteri Luar Negeri Yordania Nasser Judeh mengatakan Yordania membutuhkan lebih banyak bantuan dari masyarakat internasional.

“Ujung-ujungnya ini semua adalah masalah kemanusiaan akibat krisis politik dan militer yang terjadi di Suriah, yang hanya berjarak 10 mil dari sini. Dan saya kira yang dibutuhkan adalah solusi politik yang akan mengakhiri pertumpahan darah dan memastikan agar pengungsi ini kembali ke tanah air mereka dan memulihkan kehidupan mereka,” kata Judeh.

Masyarakat internasional memberi sekitar satu juta dollar setiap hari untuk menutupi pengeluaran di kamp ini, tetapi para pengungsi ingin lebih banyak. Mereka mengatakan para donor perlu memberi senjata yang lebih baik kepada kelompok oposisi Suriah guna membantu menggulingkan Presiden Assad.

Dalam sebuah pertemuan tertutup dengan para pengungsi, seorang perempuan memberitahu John Kerry – “saya kira Amerika – sebagai negara adidaya – dapat mengubah kedudukan di Suriah dalam waktu 30 menit setelah anda kembali ke Washington”. Seorang pengungsi lain mengeluh karena Iran, Hizbullah dan Rusia memberi lebih banyak dukungan bagi Persiden Assad dibanding dukungan yang diberikan masyarakat internasional kepada para pemberontak.

Amerika masih mengusahakan solusi politik bagi krisis Suriah. Kerry bertemu para pejabat Liga Arab, Rabu, di Amman, dan menekankan perlunya membuat sebuah jalur yang menjanjikan rakyat Suriah masa depan tanpa kekerasan dan masa depan dengan pemerintah pilihan mereka.
XS
SM
MD
LG