Tautan-tautan Akses

AS

Menlu AS: Kantor Taliban di Qatar Bisa Ditutup

  • Scott Stearns

Menteri Luar Negeri AS John Kerry (kanan) bersama para pejabat Qatar dalam pembicaraan yang diadakan kelompok "Friends of Syria." (AP/Jacquelyn Martin)

Menteri Luar Negeri AS John Kerry (kanan) bersama para pejabat Qatar dalam pembicaraan yang diadakan kelompok "Friends of Syria." (AP/Jacquelyn Martin)

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan jika pembicaraan perdamaian tidak mengalami kemajuan, kantor perwakilan Taliban di Qatar bisa ditutup.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry mengatakan kantor Taliban yang baru dibuka di Qatar bisa menjadi langkah penting untuk proses rekonsiliasi antara kelompok itu dan pemerintah Afghanistan. Tetapi ia juga memperingatkan, jika pembicaraan perdamaian tidak mengalami kemajuan, maka kantor itu bisa ditutup.

Pembicaraan antara pejabat-pejabat Amerika dan Taliban seharusnya dimulai di Doha pekan lalu. Tetapi pembicaraan itu tertunda setelah ada keberatan dari Presiden Afghanistan Hamid Karzai tentang cara Taliban memperkenalkan diri.

Menteri Kerry berada di Doha untuk pertemuan negara-negara yang mendukung pemberontak Suriah, atau "Friends of Syria", Sabtu (22/6).

"Kami sedang menunggu apakah Taliban akan menanggapi atau tidak supaya bisa melanjutkan rencana yang telah susah payah dibuat,” ujarnya kepada wartawan didampingi Perdana Menteri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim Al Thani.

Kerry mengatakan Amerika melakukan perannya dengan itikad baik. Tetapi sayangnya, kata Kerry, perjanjian itu tidak ditaati Taliban. Mereka membuka kantor dengan tanda yang mengidentifikasi fasilitas itu sebagai "Kantor Emirat Islam Afghanistan" dan mengibarkan bendera Emirat Islam.

Bendera itu kini diturunkan dan tanda itu sudah diganti dengan "Kantor Politik Taliban Afghanistan" seperti sudah disepakati sebelumnya. Kerry berterima kasih kepada pejabat-pejabat Qatar yang membantu meluruskan hal tersebut.

"Kini kami perlu tahu apakah kita bisa kembali ke rencana semula. Saya tidak tahu apakah itu mungkin atau tidak. Jika tidak ada keputusan segera dari Taliban untuk bergerak maju, maka kami mungkin harus mempertimbangkan apakah kantor itu harus ditutup,” ujarnya.

Itu tidak mungkin mengingat lamanya perundingan yang dibutuhkan untuk sampai ke titik sekarang. Tetapi ancaman itu menggambarkan betapa proses itu bisa gagal total dan itu diakui secara terang-terangan oleh pejabat-pejabat Amerika.

Sementara berfokus pada rekonsiliasi politik "pemimpin Afghanistan" yang pada akhirnya mencakup pertemuan langsung Taliban dengan anggota pemerintahan Karzai, pejabat-pejabat Amerika mengatakan mereka menghadapi masalah sendiri dengan Taliban, termasuk pembebasan tentara Amerika yang ditangkap dan perlunya kelompok itu meninggalkan kekerasan dan secara terbuka memutus hubungan dengan al-Qaida.

Perdana Menteri Al Thani mengatakan Qatar akan bertindak sebaik mungkin sebagai fasilitator pembicaraan, tetapi tergantung pada mereka yang terlibat untuk membuatnya berhasil.
"Kantor yang dibuka di Qatar adalah untuk mengajak semua orang datang ke meja untuk berunding - orang Afghan, Amerika. Mereka harus berbicara, karena menurut kami satu-satunya cara keluar dari perang di Afghanistan ini adalah dengan saling berbicara, dan mencoba mendapatkan perdamaian yang komprehensif dan semua orang harus hidup di Afghanistan tanpa menghilangkan bagian dari rakyat Afghanistan,” ujarnya.

Perunding utama Amerika untuk pembicaraan ini sudah berada di Doha, dan pejabat-pejabat Amerika mengatakan mereka siap memulainya dalam beberapa hari.
XS
SM
MD
LG