Tautan-tautan Akses

AS

Menlu AS Berkunjung ke Korea Selatan di Tengah Transisi

  • Brian Padden

Menteri Luar Negeri Amerika yang baru dilantik, Rex Tillerson, di kantor Departemen Luar Negeri AS, Washington DC, 13 Maret 2017. (AP Photo/Molly Riley)

Menteri Luar Negeri Amerika yang baru dilantik, Rex Tillerson, akan mengunjungi Korea Selatan minggu ini. Kunjungan tersebut dilakukan ketika terjadi perubahan politik yang signifikan yang dapat merumitkan aliansi Washington dan Seoul.

Korea Selatan berada di tengah-tengah perubahan politik yang mengganggu setelah pemakzulan Presiden Park Geun-hye, yang dipecat dari jabatannya karena dugaan keterlibatannya dalam skandal suap jutaan dolar.

Sementara itu para pemimpin oposisi liberal, yang tidak setuju dengan Amerika mengenai kebijakan Korea Utara, siap memenangkan pemilihan presiden yang akan segera digelar.

Tapi minggu ini Menlu AS yang baru Rex Tillerson hanya akan melihat adanya persatuan ketika ia mengunjungi pasukan militer Amerika di Korea Selatan yang mengikuti latihan gabungan yang melibatkan kapal induk bertenaga nuklir USS Carl Vinson, dalam unjuk kekuatan untuk menandingi kemampuan nuklir dan rudal Korea Utara.

Korea Utara telah memperingatkan akan meluncurkan serangan “tanpa ampun” jika kapal induk itu melanggar kedaulatan atau martabatnya selama berlangsung latihan tersebut.

Rex Tillerson juga kemungkinan hanya akan mendengar pernyataan dukungan bagi kebijakan AS ketika ia bertemu dengan Penjabat Presiden Hwang Kyo-ahn dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Yun Byung-Se. Kedua pejabat konservatif itu sepakat dengan Amerika mengenai perlunya meningkatkan sanksi terhadap Korea Utara untuk menekan Kim Jong-un agar membongkar arsenal nuklirnya.

Mereka mendukung sistem pertahanan rudal THAAD digelar di Korea Selatan sebagai langkah pertahanan yang diperlukan untuk menghadapi Korea Utara.

Banyak kalangan konservatif sepakat dengan Thae Young-ho, wakil duta besar Korea Utara di London sebelum membelot ke Selatan tahun lalu, bahwa Kim Jong-un tidak akan pernah menghentikan program senjata nuklirnya.

“Saya benar-benar yakin bahwa satu-satunya cara untuk memecahkan masalah nuklir Korea Utara pada dasarnya adalah dengan menyingkirkan rezim Kim Jong-un,” kata Thae Young-ho.

Namun Moon Jae-in, calon presiden terkemuka dari Partai Demokrat Korea ingin mengambil pendekatan yang tidak terlalu konfrontatif dan membuat kesepakatan dengan pemerintahan Kim.

“Kita tidak bisa menyangkal bahwa penguasa rakyat Korea Utara adalah Kim Jong-un. Kita tidak punya pilihan selain mengakui Kim Jong-un sebagai mitra, apakah kita menekan dan menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara atau berdialog,” kata Moon Jae-in.

Meskipun upaya-upaya terdahulu untuk mendorong perubahan melalui interaksi ekonomi akhirnya gagal menghentikan pengembangan senjata nuklir Korea Utara, upaya-upaya itu dapat memperlambat laju pembangunannya, dan pendukung kebijakan demikian berpendapat bahwa sekarang ini adalah saatnya untuk mencoba lagi.

Banyak warga Korea Selatan merasa keberatan dengan THAAD, mengingat tantangan yang kuat dari China dan adanya laporan-laporan mengenai semakin besarnya pembalasan ekonomi terhadap perusahaan-perusahaan Korea Selatan. [lt/uh]

XS
SM
MD
LG