Tautan-tautan Akses

Menkeu: Krisis Yunani Turunkan Rupiah dan Bursa Saham

  • Iris Gera

Akhir-akhir ini perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia terus turun diikuti melemahnya nilai tukar rupiah. Menteri Keuangan Agus Martowardojo menanggapi fenomena tersebut berkaitan dengan krisis di Yunani.

Turunnya perdagangan saham dan melemahnya nilai tukar rupiah semata-mata dipengaruhi oleh krisis Yunani. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan demikian, sekaligus mengatakan pengaruhnya terasa secara tidak langsung, melainkan melalui psikologi pasar.

Menurut Agus Martowardojo, Indonesia tidak memiliki hubungan dagang dan keuangan yang erat dengan sebagian besar negara-negara Eropa. "Tetapi yang kita takutkan, adalah pemilik-pemilik dana itu merasa, kondisi di Yunani bisa menjadi berat, karena rasio utangnya terhadap (PDB) itu sudah begitu besar. Jangan-jangan mereka mau minta restrukturisasi, jangan-jangan mereka mau minta hair cut," ujar Agus Martowardojo. "Kalau itu terjadi, bisa persepsi pasar akan resiko menjadi tinggi, dan takutnya (pemilik dana) akan keluar dari Indonesia, karena ia pikir sudah (saja), saya kurangi resiko saya di negara-negara yang berkembang termasuk Indonesia.”
Demonstrasi oleh para pekerja Yunani, yang tidak setuju dengan kebijakan pengetatan anggaran oleh pemerintah, kembali berlangsung di Athena pekan lalu.

Demonstrasi oleh para pekerja Yunani, yang tidak setuju dengan kebijakan pengetatan anggaran oleh pemerintah, kembali berlangsung di Athena pekan lalu.

Menteri Agus Martowardojo menegaskan bahwa saat ini anggaran negara dalam keadaan sehat dan terkontrol. “Kalau kita lihat kondisi keuangan kita, sehat, jadi perbankan baik, kondisi fiskal kita sehat, saya optimis bahwa kita dalam kondisi yang relatif baik dan kita harapkan kalaupun ada gejolak itu gejolak yang sifatnya sementara.”

Namun, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengimbau agar masyarakat dan pelaku bisnis tidak khawatir secara berlebihan mengenai krisis Yunani, karena perkembangan keuanganya sangat berbeda dengan Indonesia. Contoh diantaranya, menurut Menkeu, adalah defisit anggaran Yunani yang mencapai sekitar 12 persen, jauh lebih tinggi dibanding defisit anggaran yang dikelola pemerintah Indonesia, sekitar 2,1 persen.

Tetapi, walaupun fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi baik, namun pengaruh global tetap harus diwaspadai. Demikian dikatakan pengamat ekonomi dari Universitas Gajah Mada, Sri Adiningsih. “Tentu saja yang patut dicermati ini, kita (berada) di tengah ancaman krisis ekonomi global karena Yunani terutama," ujar Sri Adiningsih. Ia berharap krisis global ini tidak akan ikut melanda Indonesia.

XS
SM
MD
LG