Tautan-tautan Akses

Mengurangi Keterlibatan Anak Bekerja di Sektor Pertanian

  • Nurhadi Sucahyo

Keluarga petani di Bali duduk di bak belakang truk seusai panen bawang di Kintamani, Bali (Foto: dok). Pertengahan tahun ini, pemerintahan Presiden Jokowi telah mencanangkan tahun 2022 Indonesia harus bebas dari pekerja anak.

Keluarga petani di Bali duduk di bak belakang truk seusai panen bawang di Kintamani, Bali (Foto: dok). Pertengahan tahun ini, pemerintahan Presiden Jokowi telah mencanangkan tahun 2022 Indonesia harus bebas dari pekerja anak.

Karena faktor tradisi, banyak anak di Indonesia yang secara tidak sadar ikut bekerja bersama orang tuanya. Kini sedang dikampanyekan kesadaran untuk mengurangi keterlibatan anak dalam pekerjaan orang tuanya, terutama di sektor pertanian.

Sriyadi, seorang petani tembakau di Klaten, Jawa Tengah, mengaku telah terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan di sektor pertanian sejak kanak-kanak. Membantu orang tua di sawah, menjemur padi hingga mengolah daun tembakau hampir setiap hari dia lakukan.

Kepada VOA dia bercerita, membantu orang tua bertani adalah tradisi yang juga dilakukan anak-anak lain. Kegiatan itu masih berlangsung sampai sekarang, meskipun sudah sangat berkurang, baik itu volume kerja maupun jenis pekerjaan yang dilakukan anak-anak. Dia menolak keterlibatan anak-anak dalam pekerjaan orang tua itu dianggap sebagai mempekerjakan anak.

Sriyadi lebih memilih istilah membantu, karena anak-anak melakukannya dengan sesukanya, bisa mulai dan berhenti semaunya.“Ya, kalau yang terlibat benar-benar kerja itu yang nggak ada, kalau istilahnya membantu, mengambilkan apa gitu ya, ya namanya di rumah ada kerjaan, ya dikit-dikit bantu, tetapi tidak full, tidak juga dibayar dan diminta harus mengerjakan ini itu. Dan itu hanya di rumah saja,” katanya.

Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan pertanian di Indonesia memang tidak bisa dimasukkan dalam kategori pekerja anak. Menurut Zainul Faizin, Direktur Eksekutif STAPA, sesuai standar Organisasi Buruh Internasional (ILO) pekerja anak bekerja dalam rentang waktu tertentu dan menerima upah.

Dalam kasus di sektor pertanian di Indonesia, anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan orang tuanya tidak menerima upah dan bekerja dalam waktu yang tidak tetap. STAPA adalah lembaga swadaya masyarakat, yang kini melakukan kampanye penyadaran di berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, paling tidak untuk menjamin keamanan anak-anak yang terpaksa terlibat dalam pekerjaan orang tuanya, terutama di sektor pertanian tembakau.

“Kami sedang mengkampanyekan, setidaknya anak itu harus sadar bahwa mereka itu punya resiko ketika membantu di bidang pertanian, misalnya soal bahan kimia, soal fisik. Kalau pekerjaan itu memang berdampak buruk untuk anak dan dikhawatirkan akan menggangu secara fisik. Kalaupun terlibat, dia tahu resikonya sehingga, sehingga dia tahu apa yang harus dilakukan, misalnya memakai alat pelindung diri,” kata Zainul Faizin.

Kampanye penyadaran ini menghadapi kendala terbesar justru dari tradisi di sektor pertanian sendiri. Terlibat bersama orang tua yang bertani bagi anak-anak di Indonesia sudah berlangsung sangat lama. Petani pun mengatakan, bahwa keterlibatan itu adalah proses pembelajaran bagi anak mereka untuk meneruskan pekerjaan mereka kelak.

“Memang anak harus dikenalkan soal budaya pertanian, menurut saya, salah satu misi kami juga melestarikan pertanian, sehinggga memaduan antara dua kepentingan ini memang butuh upaya ekstra. Menjelaskan ke orang tua mana yang boleh, mana yang tidak, karena kalau tidak dibolehkan sama sekali, siapa yang melanjutkan pertanian mereka,” lanjutnya.

Pertengahan tahun ini, pemerintahan Presiden Jokowi telah mencanangkan tahun 2022 Indonesia harus bebas dari pekerja anak. Data Badan Pusat Statistik pada 2009 mengungkap ada lebih dari 4 juta anak usia 5-17 tahun, yang masuk kategori sebagai anak-anak yang bekerja. Sebanyak 1,76 juta dari jumlah itu dikategorikan sebagai pekerja anak.

Data ini diakui oleh Kementrian Ketenagakerjaan, tidak banyak berubah sampai saat ini. Data ini juga menyatakan, anak yang bekerja umumnya masih bersekolah, bekerja tanpa dibayar karena merupakan anggota keluarga, serta mayoritas ada di sektor pertanian, jasa dan manufaktur. [ns/eis]

XS
SM
MD
LG