Tautan-tautan Akses

Keliling 30 Masjid di 30 Negara Bagian AS selama Ramadhan

  • Karlina Amkas

Komunitas muslim di masjid Baitul Ma'Mur, di Brooklyn, New York. Jumlah warga Muslim di kota New York sekitar 800.000 orang.

Komunitas muslim di masjid Baitul Ma'Mur, di Brooklyn, New York. Jumlah warga Muslim di kota New York sekitar 800.000 orang.

Dua warga AS, Bassam Tariq dan Aman Ali melakukan perjalanan keliling masjid di 30 negara bagian, dan mendapati betapa sempit pandangan mereka selama ini tentang Islam di AS.

Mendatangi 30 masjid di 30 negarabagian selama 30 hari bulan Ramadan. Itulah tekad dua sahabat, Bassam Tariq dan Aman Ali. Setelah berjalan 21 hari, mereka mendapati betapa sempit pandangan mereka mengenai Islam di Amerika.

Bagi Aman Ali dan Bassam Tariq perjalanan ini melelahkan tapi mencerahkan. Dalam kondisi berpuasa, bergantian mereka mengemudikan mobil biru Chevy Cobalt yang disewa 1.000 dolar, menyambangi 30 masjid di 30 negarabagian. Pada akhir Ramadhan, diperkirakan mereka akan mengemudi lebih dari 19.300 kilometer. Jarak yang cukup jauh untuk mendekatkan diri pada iman mereka.

Aman Ali (25 tahun), warga Amerika keturunan India. Sedangkan Bassam Tariq (23 tahun), warga Amerika keturunan Pakistan. Keduanya tinggal di kota New York bersama lebih dari 800 ribu umat Islam lainnya. Di kota ini, menurut Ali, ada 162 masjid dalam radius enam kilometer. Jadi, sebagai Muslim, walau tinggal di Amerika, mereka merasa nyaman.

Tapi, mereka justru ingin meninggalkan sejenak kenyamanan itu. Bassam Tariq mengatakan salah satu tujuan perjalanan ini adalah "keluar dari zona kenyamanan" dan melangkah untuk mengenal keberadaan Islam di Amerika sesungguhnya.

Bermodalkan dana hampir enam ribu dolar yang mereka galang dari berbagai sumber, Ali dan Tariq memulai perjalanan dengan pikiran kosong. Kepada stasiun televisi CNN, Ali mengatakan, “Kami memulai perjalanan ini dengan pikiran terbuka dan tidak tahu sepenuhnya apa yang akan kami temui."

Mereka memulai perjalanan ini di Masjid Persaudaraan Islam di Harlem, New York yang didirikan oleh mahasiswa Malcolm X. Perjalanan akan berakhir di Dearborn, Michigan, kota tempat tinggal banyak pemeluk Islam di Amerika.

Hasilnya sejauh ini?

“Yang mencengangkan, setiap komunitas Muslim yang kami jumpai, punya kisah menarik. Misalnya masalah yang dihadapi umat Islam Amerika berkulit hitam di Philadelphia sangat berbeda dari masalah yang dihadapi umat Islam Amerika berkulit hitam di DC. Bahkan umat Islam keturunan India-Pakistan di Maine, jauh berbeda dari India-Pakistan yang kami temui di kota New York,” ungkap Ali.

Islamic Center di Manhattan, New York.

Islamic Center di Manhattan, New York.

Selain itu, Ali dan Tariq mendapat pengalaman baru dalam hidup. Misalnya, melihat dari dekat persatuan umat Islam di Maine yang bergantian setiap minggu melakukan perjalanan beberapa jam ke Boston hanya untuk mendapatkan daging halal. Atau, mendapati sufi kelahiran Sri Lanka yang memimpin komunitas warga Amerika berkulit putih. Tariq menyatakan, seumur hidup, ia tidak pernah sholat berjamaah dengan begitu banyak orang kulit putih.

Perjalanan kedua pemuda yang gemar bertualang ini tertuang dalam blog. Catatan mereka begitu detil menuangkan kehidupan berikut latar belakang budaya dan sejarah komunitas Muslim di masjid atau kota yang mereka kunjungi.

“Ini meluaskan cakrawala saya sendiri. Saya tidak menyadari betapa sempitnya pandangan saya mengenai Muslim di Amerika selama ini,” kata Ali.

Ali mengakui, yang mereka temui tidaklah mencakup semua kondisi Muslim di Amerika. Ia menegaskan, ini kisah-kisah pribadi di sepanjang perjalanan.

Menurut Tariq,”Perjalanan ini membuat keimanan saya semakin kuat. Bagi saya pribadi, ini betul-betul memperluas definisi apa yang saya ketahui mengenai Amerika dan apa kemungkinannya.”

Sehari-hari, Aman Ali adalah wartawan dan pelawak. Sedangkan Bassam Tariq, penulis iklan dan pembuat film dokumenter. Laporan perjalanan mereka bisa Anda ikuti dalam situs 30mosques.com (www.30mosques.com).

XS
SM
MD
LG