Tautan-tautan Akses

Menggoyang Angklung di Amerika


Tricia Sumarijanto guru kelompok House of Angklung di Washington, D.C.

Tricia Sumarijanto guru kelompok House of Angklung di Washington, D.C.

Kegigihan dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia di AS menjadi panggilan hati bagi Tricia Sumarijanto (43). Tricia aktif mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat AS dan juga masyarakat Indonesia yang tinggal di Amerika.

“Saya aktif di dua organisasi. Yang pertama adalah 'House of Angklung' yang memang fokus di angklung. Satu lagi adalah 'Rumah Indonesia', yaitu organisasi yang didirikan untuk mempromosikan kebudayaan dan Indonesia pada umumnya kepada masyarakat Indonesia dan masyarakat amerika,” papar Tricia kepada Voice of America di Washington, DC baru-baru ini.

Dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat di Amerika, Tricia mengaku mendapat dukungan yang sangat besar dari pemerintah Indonesia, walaupun memang tidak semuanya dalam bentuk materi. “Misalnya memberikan informasi mengenai budayawan-budayawan yang ada di Amerika, menghubungkan kami dengan organisasi dan institusi yang berhubungan dengan kebudayaan baik di sini atau pun di Indonesia,” ujarnya.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC juga menjadi mitra bagi Tricia dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passionnya ini. “Akhirnya itu menjadi panggilan hati, karena melihat ternyata banyak sekali yang bisa dikerjakan.”

House of Angklung

Pada tahun 2009, Tricia diajak oleh seorang teman untuk bergabung sebagai pengajar di House of Angklung (www.houseofangklung.com), organisasi nirlaba yang sudah berdiri sejak tahun 2006. Awalnya, organisasi ini diberi nama Rukun Wargi Pasundan dengan beranggotakan masyarakat Pasundan di Washington, D.C. dan sekitarnya. Untuk memperluas ruang geraknya, organisasi tersebut kemudian berganti nama. “Beruntung sekali kita karena semenjak itu memang banyak sekali teman-teman dari etnis lain, termasuk orang amerika atau orang Filipina yang bergabung dengan kelompok ini,” papar Tricia.

House of Angklung

House of Angklung

Karena ingin memperkenalkan kebudayaan Pasundan dengan fokus angklung kepada warga lokal Amerika, ketua kesenian organisasi tersebut yang pada waktu itu adalah Anna Hadhiman, akhirnya mengajak Tricia untuk bergabung menjadi pelatih. “Kami tidak ada pelatih waktu itu dan kebetulan saya bertemu dengan Tricia dan menawarkan hal ini kepadanya. Dia langsung menyambutnya dengan antusias,” ceritanya. Kini Anna menjabat sebagai membership coordinator dan juga anggota dari House of Angklung.

Walaupun mahir bermain musik, khususnya piano, Tricia mengaku terakhir kali bermain angklung adalah ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, dirinya merasa tertantang untuk menerima tawaran mengajar alat musik tradisional asal Jawa Barat tersebut sekaligus penasaran.

“Saya suka membuat komposisi lagu dan penasaran juga (dengan angklung). Saya tahu sebenarnya memainkan angklung itu mudah, karena tiap angklung hanya satu not. Akhirnya saya terima tantangan itu sambil belajar. Dan ternyata responnya cukup bagus dari teman-teman yang ikut,” ujar lulusan Magister Manajemen UI dan Hubungan Masyarakat FISIP UI ini.

Kini Tricia menjadi pengajar tetap di House of Angklung. Latihan diadakan satu kali dalam seminggu setiap hari Jum’at, dengan durasi satu setengah jam di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Washington, D.C. Durasi latihan tersebut diakui sangat efektif oleh Tricia, karena jika lebih dari itu akan sangat melelahkan. Namun, frekuensi latihan akan bertambah menjadi tiga kali seminggu menjelang pertunjukan. Satu hari sebelum hari H, biasanya mereka melakukan latihan hingga sampai pukul 12 malam. “Tapi nanti ada breaknya. Biasanya kalau kita sudah intensif latihan tiga bulan, kita lalu break satu bulan. Nanti baru mulai lagi,” kata Tricia.

Belajar Untuk Mengajar

Berbagai jalan untuk mempelajari angklung pun ditempuhnya dengan usaha dan kerja keras. Internet pun menjadi tempat pembelajarannya. Melalui Internet Tricia mempelajari berbagai teknik bermain angklung dan berkenalan dengan sesama pengajar angklung di Amerika. “Akhirnya belajar komposisinya juga online. Kalau ditanya belajarnya berapa lama sampai sekarang juga masih belajar gitu,” ujar Tricia.

Dalam membuat komposisi musik, biasanya Tricia menggunakan piano terlebih dahulu, lalu baru kemudian dirubah ke format angklung. “Apa yang kedengerannya bagus di piano belum tentu bagus di angklung. Jadi ketika sudah dibuat dan sudah dilatih, kok begitu ya? Jelek bunyinya. Kita harus rubah,” kata wanita yang hobi menyanyi ini.

Tidak lupa, setiap kali pulang ke Indonesia, Tricia juga selalu berkunjung ke Saung Angklung Udjo di Bandung dan berusaha bertemu dengan guru angklung untuk mempelajari teknik-teknik lain dalam bermain angklung yang belum dia ketahui.

“Setiap kali rasanya pasti ada hal baru yg bisa di pelajari. juga dengan para seniman atau para pembuat angklung, jadi melihat cara mereka menyetem angklung dan merawat angklung langsung dari ahlinya,” cerita wanita pemilik koleksi pakaian ILONA Maternity di Jakarta ini.

Sebagai pendatang baru di dunia angklung, di Saung Angklung Udjo Tricia bisa mempelajari dan melihat sendiri bagaimana para maestro di sana memainkan angklung. “Kadang-kadang harus melihat bagaimana caranya, karena angklung itu suaranya bisa bagus banget, tapi juga challengenya adalah kalau kita nggak pas memainkannya suaranya bisa kasar, dan itu malah menganggu.” tambahnya.

Tricia Sumarijanto dan kelompok House of Angklung

Tricia Sumarijanto dan kelompok House of Angklung

Walaupun biasanya kunjungannya ke Saung Angklung Udjo hanya memakan waktu satu hari, Tricia selalu menyempatkan diri untuk menonton pertunjukan angklung yang selalu ramai ditonton oleh turis mancanegara. Yang menarik, Tricia banyak mempelajari cara-cara baru dalam menghibur dan mengkomunikasikan angklung kepada para warga asing, yang tentunya bisa diaplikasikan dalam kegiatannya di Amerika.

Tanpa disadari hobi mengajar memang sudah tertanam sejak dulu. Sewaktu kecil, Tricia senang bermain menjadi guru. Ketika SMA, Tricia pernah menjadi guru organ untuk anak-anak kecil. Ternyata bakat terpendam yang berubah menjadi passion tersebut telah membuahkan hasil dan prestasi di House of Angklung. Para anggotanya sangat puas dengan cara Tricia mengajar dan House of Angklung pun juga mengalami kemajuan yang pesat.

Kebersamaan dalam Angklung

Tantangan kembali ditemui oleh Tricia saat mengajar angklung. Selain harus membuat komposisi musik yang bagus, Tricia juga harus menciptakan semangat dan komitmen yang tinggi di antara para anggota House of Angklung yang berjumlah sekitar 30 orang.

Yang paling terberat adalah membuat orang-orang itu semangat untuk datang latihan angklung, karena latihan itu tidak akan jalan kalau banyak yang tidak hadir. Akan sangat percuma, buang waktu buat semua yang datang kalau hanya separuh yang datang. Lagunya tidak akan selesai, yang mengajar capek, yang belajar juga capek,” ujar wanita yang memiliki sebutan “Bu Guru” ini.

House of Angklung sebelum manggung

House of Angklung sebelum manggung

Pada akhirnya komitmen di antara para anggota House of Angklung akhirnya tumbuh dengan sendirinya atas dasar kecintaan masing-masing terhadap angklung itu sendiri. Mereka saling mengingatkan dan menyemangati satu sama lain untuk latihan. Rasa kebersamaan inilah yang pada akhirnya membuatnya cinta akan angklung.

“Akhirnya teman-teman menyadari bahwa dalam angklung itu yang penting adalah kebersamaan,” ujar Tricia. “Filosofi angklung itu sebenernya ada tiga. Yang pertama adalah team work, kemudian mutual respect atau saling menghargai dan social harmony. Itu sangat terasa pada saat kita menjadi dalam satu tim. Ketika kita saling menghargai dan menjaga kekompakan, yang terjadi adalah suatu musik yang indah,” tambahnya.

Para anggota House of Angklung pun sangat menghargai komitmen Tricia sebagai seorang pengajar. “Dalam jadwal latihan, walaupun anggota yang datang latihan tidak lengkap dia tetap bersemangat untuk latihan. Dan dia juga seorang guru yang sabar dan mengerti bagaimana menghadapi anggota-anggotanya yang berbeda usia dan latar belakang,” sambung Anna.

“Tricia adalah seorang yang mempunyai dedikasi tinggi pada setiap pekerjaan di percayakan kepadanya, bekerja tidak setengah-setengah. Sabar dalam mengajar, tidak mengenal kata lelah demi suksesnya misi dari pertunjukannya,” tambah Anna.

Hingga kini House of Angklung sudah tampil di berbagai acara, seperti festival tahunan Cherry Blossom di Washington, D.C. dan berbagai festival Indonesia yang diadakan di beberapa kota di Amerika, seperti Pittsburgh dan Boston.

Tricia Sumarijanto memperkenalkan angklung kepada warga Amerika

Tricia Sumarijanto memperkenalkan angklung kepada warga Amerika

Menjadi kepuasan tersendiri tentunya ketika tanggapan positif mulai berdatangan dari warga Amerika yang melihat mereka tampil. Hal ini sempat membuat Tricia terkaget-kaget, karena ternyata warga Amerika sangat menikmati dan kagum akan alunan musik angklung. Kerap kali warga Amerika diajak untuk memegang dan memainkan angklung yang ternyata tidak sulit bagi mereka. “Saya bisa bilang ini adalah pengalaman mereka berbudaya Indonesia. Itu luar biasa. Saya yakin mereka akan ingat terus mengenai keberadaan angklung ini,” kata Tricia.

Isteri Dubes RI, Rosa Djalal (tengah baju kuning) dan kelompok House of Angklung Washington DC menyambut para tamu undangan dengan alunan musik angklung lagu Bengawan Solo (24/1).

Isteri Dubes RI, Rosa Djalal (tengah baju kuning) dan kelompok House of Angklung Washington DC menyambut para tamu undangan dengan alunan musik angklung lagu Bengawan Solo (24/1).

Untuk ke depannya, Tricia akan terus berusaha agar House of Angklung dan program-programnya bisa dilakukan tidak hanya di daerah Washington, D.C. saja, tetapi juga di berbagai negara bagian lain di Amerika. Sama halnya juga dengan program Angklung Goes to School. “Saya berharap yang mengerjakan ini tidak hanya saya saja dan bisa ditularkan kepada teman-teman yang mungkin punya kapasitas dan waktu, sehingga bisa ada dimana-mana,” kata wanita penggemar bakso dan ayam goreng ini.

Angklung Goes to School

Selain sebagai pengajar, Tricia juga menjabat sebagai coordinator program di House of Angklung. Salah satu program yang tengah dikerjakannya sejak tahun 2011 adalah Angklung Goes to School yang ditujukan untuk anak-anak SD hingga SMA di daerah Washington, D.C.

Ini semua berawal ketika Tricia bertemu dengan maestro angklung Daeng Udjo, putra dari Udjo Ngalagena, pendiri Saung Angklung Udjo, Bandung, ketika beliau berkunjung untuk acara pemecahan rekor dunia angklung di Washington, D.C. tahun 2011. Di acara yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, D.C. dan Saung Angklung Udjo di Bandung itu, 5.182 orang serentak memainkan lagu “We are the World” dengan menggunakan angklung, dimana kemudian peristiwa tersebut dicatat dalam the Guinness World Records. Pada waktu itu Tricia dan House of Angklung diminta untuk membantu mempromosikan angklung kepada warga Amerika, sekitar tiga bulan sebelum acara tersebut.

“Mang Udjo bilang, setelah ini apa berikutnya? Karena membuat satu event yang besar dan mengundang orang adalah satu prestasi. Tapi akan sayang sekali kalau berhenti sampai disitu,” ujar wanita yang juga hobi nonton film komedi dan membaca buku ini.

Tricia Sumarijanto mengajarkan angklung kepada murid-murid di sekolah

Tricia Sumarijanto mengajarkan angklung kepada murid-murid di sekolah

Dari situlah tercipta ide Angklung Goes to School yang berusaha menjangkau anak-anak, dengan menekankan pendidikan, hiburan dan pengenalan budaya melalui musik. Dimulai dari ajakan beberapa teman untuk berpartisipasi di acara kebudayaan di sekolah anaknya, Tricia akhirnya memutuskan untuk menseriuskan hal tersebut.

“Angklung itu diperkenalkan kepada anak-anak menggunakan metode yang memang diperkenalkan oleh maestro Daeng Udjo, yaitu dengan menggunakan nama pulau. Sehingga anak-anak paling tidak selain mengenal angklung dari Indonesia, mereka tahu nama-nama pulau di Indonesia,” jelas wanita keturunan Jawa dan Palestina ini. Sebagai pengenalan awal setiap angklung yang dibawa ke dalam kelas oleh Tricia diberi label nama-nama pulau, seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan untuk menggantikan not balok do-re-mi dan seterusnya.

Dalam hal ini Tricia bekerja sama dengan guru ilmu pengetahuan sosial atau guru musik di sekolah-sekolah. “Saya akan tanya guru musiknya. Lagi belajar lagu apa? Nanti saya lihat mana yang kira-kira bisa kita mainkan dengan angklung,” tambahnya.

Program Angklung Goes to School yang diorganisir oleh Tricia Sumarijanto

Program Angklung Goes to School yang diorganisir oleh Tricia Sumarijanto

Dalam mengajarkan angklung kepada anak-anak Amerika, Tricia berusaha untuk menggunakan bahasa sehari-hari mereka agar bisa berkomunikasi dengan lancar. “Supaya jangan kayak orang asing dari planet lain datang ke sekolah mereka. Itu mungkin yang paling besar tantangannya.”

Tricia mendaftarkan program Angklung Goes to School untuk dimasukkan ke dalam Katalog Budaya dan Seni Pertunjukan yang akan disebar ke banyak sekolah di Montgomery County Public School, Maryland, sehingga sekolah-sekolah tersebut bisa mendatangkan Tricia dan program Angklung Goes to Schoolnya.

“Saya melihat ada suatu peluang besar bekerja sama dengan Montgomery county, salah satu county terbaik untuk urusan pendidikan. Mereka membuka kesempatan untuk audisi bagi para artis atau siapa pun untuk mengajarkan apa saja yang berhubungan dengan kebudayaan atau seni kepada anak-anak. Jadi waktu itu saya mendaftar dan menjelaskan programnya di hadapan delapan orang superintendent. Mereka banyak bertanya, dari situ mereka tertarik, program ini dimasukkan ke dalam performing arts catalog untuk Montgomery county public school,” jelas anak sulung dari empat bersaudara ini.

Dari situ Tricia mulai melakukan pendekatan-pendekatan ke sekolah dengan berbagai presentasi yang dia lakukan di hadapan para orang tua murid, guru dan staf sekolah yang tergabung dalam Parent Teacher Association, untuk bisa mempromosikan angklung di sekolah mereka. “Biasanya kalau sudah ada permintaan, kemudian kita datang ke sekolahnya. Dan itu bermacam-macam programnya. Ada yang hanya satu kali, 3-6 kali, atau hanya datang di International Night, jadi benar-benar kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing sekolah,” sambung wanita yang juga memiliki gelar master di bidang Organizational Science dari George Washington University ini.

Walaupun prosesnya tidak begitu rumit, untuk mensukseskan program ini tentunya membutuhkan upaya, waktu, dan juga sumber daya. “Karena waktu saya yang paling fleksibel, jadi saya yang banyak berjalan ke kiri dan ke kanan. Tapi dalam setiap kegiatan pasti ada teman yang datang membantu. Memang kebanyakan mereka bekerja full time ya, jadi waktunya agak sulit,” cerita wanita yang juga hobi menyetir mobil ini.

Selain itu program Angklung Goes to School ini juga bekerja sama dengan organisasi nirlaba, Washington Performing Arts Society, yang bertujuan untuk memperkenalkan beragam kebudayaan kepada DC Public School.

Memang bisa dikatakan sebagai tantangan besar untuk menciptakan program yang menarik bagi warga Amerika, terlebih lagi jika harus memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada mereka yang sama sekali buta akan Indonesia. “Bagaimana kita bisa membuat program yg menarik , membuat orang stay dan tertarik untuk mempelajari Indonesia lebih lanjut,” jelas wanita yang saat ini juga aktif di organisasi Ikatan Alumni UI (ILUNI) cabang Washington, D.C.

Untuk saat ini program Angklung Goes to School memang belum menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah Amerika dan hanya dilakukan jika ada undangan dari sekolah atau bila ada acara International Night. Dengan kesabaran dan kegigihannya, Tricia mendatangi sekolah-sekolah tersebut sambil membawa angklung-angklung untuk diajarkan kepada para murid. “Jalannya masih panjang, tapi saya percaya dengan komitmen dan kesabaran, pendekatan yang tepat, program yang tepat, bisa dijadikan bagian dari pelajaran di sekolah anak-anak,” ujarnya sambil berapi-api.

Untuk ke depannya, Tricia berencana untuk menjangkau lebih banyak sekolah lagi dengan program Angklung Goes to Schoolnya dan merintis bentuk kerja sama yang baru.
“Target berikutnya adalah untuk bekerja sama dengan satu sekolah dengan orkestranya. Jadi main di dalam konser mereka, tapi tidak hanya angklung saja, sebagian main orkestra,” kata wanita yang juga adalah pengusaha restoran di Jakarta ini.

Selain itu Tricia juga tengah membuat program bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti down-syndrome. “Untuk membawa ini kepada anak-anak down-syndrome di Amerika tentunya tidak mudah, walaupun sudah ada beberapa pihak yang minta. Kami sedang mencari waktu dan formula yang pas,” tambahnya.

Rumah Indonesia

Lima wanita pendiri Rumah Indonesia (Kiri-kanan: Livia Iskandar, Ifa Misbach, Tricia Sumarijanto, Debbie Sumual-Patlis, Wita Pradonggo)

Lima wanita pendiri Rumah Indonesia (Kiri-kanan: Livia Iskandar, Ifa Misbach, Tricia Sumarijanto, Debbie Sumual-Patlis, Wita Pradonggo)

Selain aktif di House of Angklung, Tricia juga aktif di organisasi Rumah Indonesia (www.rumah-indonesia.org) yang didirikan oleh lima wanita yang memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda, mereka adalah Livia Iskandar, Wita Pradonggo, Ifa Misbach, dan Debbie Sumual-Patlis.

Organisasi ini dibentuk karena adanya keprihatinan yang dinyatakan oleh para ibu Indonesia yang tinggal di Amerika akan anak-anak mereka yang ikatannya semakin renggang dengan Indonesia. Tidak hanya jauh dari tanah air, tetapi kemampuan berbahasa mereka juga sangat kurang.

“Bukannya tidak bisa bahasa Indonesia. Mungkin bisa, tetapi mereka lebih nyaman berbahasa inggris. Ketika ditanyakan lebih lanjut lagi ternyata banyak orang tua juga merasa khawatir, karena mereka tidak bisa berkomunikasi dengan saudara-saudara mereka di Indonesia. Padahal kan kita pasti ingin anak-anak kita juga dekat dengan tanah air,” cerita Ibu dari Anastasia V. Putri (19) yang saat ini tengah kuliah jurusan antropologi dan tari di Dickinson College, Carlisle, Pennsylvania,

Dari situ berbagai kegiatan pun mulai dilakukan, antara lain seminar bagi para orang tua yang membesarkan anak dengan dua kebudayaan, lokakarya di bidang kebudayaan, dan juga kelas bahasa Indonesia untuk anak-anak. “Responnya luar biasa. Tujuan utamanya adalah membuat anak-anak itu bangga dan bisa berbahasa Indonesia,” tambahnya.

Bersama Rumah Indonesia, Tricia juga berharap untuk bisa mengajak lebih banyak warga Amerika untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan yang mereka lakukan. “Mereka akan datang membawa anak-anaknya. Ketika mereka datang dan melihat anak-anaknya senang dan kegiatannya menarik, mereka akan tawarkan untuk bikin di tempat yang lain,” ujarnya. Tricia juga berharap untuk bisa memperkenalkan warisan budaya Indonesia seperti batik ke sekolah-sekolah di Amerika.

Bersatu Untuk Maju

Kepada pelaku budaya di mana saja, Tricia berpesan untuk terus menggali kebudayaan yang sedang dipelajari dan selalu rajin dalam mencari organisasi atau acara untuk berpartisipasi. “Tidak boleh capek untuk mencari segala macam peluang,” katanya.

Selain itu, sebagai sesama pelaku budaya, Tricia berharap untuk bisa bersatu demi memajukan kebudayaan Indonesia. “Jadi instead of saling bersaing, marilah kita bersaing secara sehat untuk menampilkan yang terbaik.”

Artikel ini juga dimuat di majalah Femina edisi 50 edar 21 Desember 2013.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG