Tautan-tautan Akses

Mengenal Lebih Jauh Penganut Sekte Agama Shaker di AS

  • Ted Landphair

Alberta Kirkpatrick, 90 tahun, mengunjungi lagi tempat tinggalnya dulu semasa kanak-kanak di Shaker Village di Canterbury, New Hampshire. Tempat itu sekarang dijadikan museum (foto: Dok).

Alberta Kirkpatrick, 90 tahun, mengunjungi lagi tempat tinggalnya dulu semasa kanak-kanak di Shaker Village di Canterbury, New Hampshire. Tempat itu sekarang dijadikan museum (foto: Dok).

Penganut sekte agama Shaker mendapat nama itu dari lenggak lenggok tarian mereka ketika menjalankan ibadahnya.

Salah satu wilayah termegah di pinggiran kota Cleveland, Ohio, adalah Shaker Heights, yang tidak dinamakan demikian karena merujuk pada pengocok makanan atau karena terkait Tuan Shaker. Demikian pula halnya Shakertown di Kentucky; Hancock Shaker Village di Massachusetts, atau Sabbathday Lake Shaker Village di Maine. Nama-nama itu dulunya adalah nama-nama permukiman kelompok sekte agama yang fanatik yang mendapatkan nama dari tarian khas para pengikut sekte.

Hanya ada dua, mungkin tiga anggota kelompok sekte agama Shaker yang masih hidup. Tak seorangpun di luar komunitas itu di Maine di mana perempuan diagungkan tahu jumlah yang pasti.

Dua ratus tiga puluh delapan tahun lalu, Ann Lee, tokoh karismatik dari Inggeris yang mendirikan sekte yang resminya bernama United Society of Believers in Christ’s Second Appearing, pindah ke Amerika bersama delapan orang pengikutnya. Bersama-sama mereka mulai membangun permukiman-permukiman masyarakat mulai dari Maine di Amerika Timur Laut sampai ke Kentucky di wilayah tengah-Selatan.

Orang-orang yang mengamati penganut sekte itu menyebut mereka “Shaker” ketika mereka mengamati orang-orang kelompok sekte itu berlenggak lenggok dan bertepuk tangan keras-keras, merontokkan dosa-dosa duniawi sambil bernyanyi dan menari. Presiden James Monroe, yang singgah di permukiman Shaker dalam dekade 1820-an, mencatat di buku hariannya, “Penyanyi-penyanyi itu menggerak-gerakkan tubuh mereka kuat-kuat ketika menerima Roh Kudus.”

Penganut sekte Shaker menekankan kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan. Para misionaris Shaker berkeliling desa, mencari orang yang bersedia masuk ke dalam sekte agama mereka. Anggota-anggota baru penting, karena penganut Shaker hidup selibat sebagai saudara. Tidak ada anak yang dilahirkan untuk membangun generasi – yang membantu menjelaskan mengapa kita bisa menghitung penganut Shaker yang masih ada dengan hitungan jari satu tangan.

Namun, penganut Shaker juga menyukai kesenangan duniawi, seperti musik di piringan hitam Victrola, jalan-jalan dengan mobil, dan minum bir. Di permukiman Shakertown di South Union, Kentucky, mereka juga menyukai wiski.

Mata pencaharian mereka adalah berjualan benih tanaman berkualitas tinggi dan membuat selai buah, topi anyaman dan sapu ijuk, kotak-kotak berbentuk lonjong, dan mebel kayu dengan rancangan sederhana yang disebut gaya Shaker.

Setelah perang saudara Amerika pada dekade 1860-an, puluhan ribu warga Amerika pindah ke arah barat mengadu nasib dan kehidupan baru, dan banyak penganut Shaker meninggalkan permukiman-permukiman mereka, melakukan hal serupa. Inilah yang menjadi awal semakin memudarnya sekte itu. Sebagian permukiman Shaker menjadi museum dan banyak dikunjungi orang, yang ingin tahu lebih jauh tentang perpindahan dan gerakan penganut sekte itu.

XS
SM
MD
LG