Tautan-tautan Akses

Catherine Wyatt-Morley: Penderita AIDS yang Bantu Sesama Perempuan Penderita AIDS

  • Faiza Elmasry

Setelah dinyatakan positif mengidap HIV, Catherine Wyatt-Morley mendirikan organisasi yang menyediakan layanan tes HIV, konseling, dukungan dan layanan nutrisi bagi orang-orang yang tertular, terimbas atau berisiko tertular HIV/AIDS.

Setelah dinyatakan positif mengidap HIV, Catherine Wyatt-Morley mendirikan organisasi yang menyediakan layanan tes HIV, konseling, dukungan dan layanan nutrisi bagi orang-orang yang tertular, terimbas atau berisiko tertular HIV/AIDS.

Catherine Wyatt-Morley, ibu tiga anak dan pengidap HIV positif, berjuang melawan AIDS dan mendapatkan kekuatan dari membantu kaum perempuan yang mengalami hal serupa dengannya.

Catherine Wyatt-Morley memiliki kehidupan yang menyenangkan: Pernikahannya membahagiakan, tiga anaknya cantik, dan pekerjaannya bagus. Tahun 1994, pada pemeriksaan seusai operasi, dokter mengatakan ia tertular HIV, virus penyebab AIDS.

Ia menuturkan, “Saya tak percaya dengan apa yang ia katakan. Saya telah menikah selama 10 tahun lebih, tak pernah berselingkuh, dan benar-benar setia kepada suami saya. Saya tidak pernah menyuntikkan narkoba, menerima transfusi darah, dan sebagainya. Jadi saya merasa hancur.”

Wyatt-Morley kemudian mengetahui ia tertular virus itu dari suaminya. Sang suami belakangan didiagnosis mengidap AIDS, dirawat di rumah sakit dan meninggal. Ia sendirian menghadapi kenyataan baru dalam hidupnya.

“Kami kehilangan semuanya: Didepak dari rumah, kehilangan pekerjaan, diusir dari gereja. Keluarga saya menolak membantu. Jadi yang harus saya lakukan adalah mulai menyusun prioritas: Siapa yang akan mengurusi anak-anak saya, bagaimana saya mempersiapkan biaya untuk pemakaman saya sendiri, hal-hal seperti itu,” paparnya.

Ketika ia merasa bakal mati dan meninggalkan anak-anaknya tanpa ibu, ia mulai menulis surat untuk anak-anaknya. Berdasarkan surat-surat itu, terbitlah buku AIDS Memoir: Journal of an HIV-Positive Mother.

Di Kenya, Pierina Guantai, seorang ibu pengidap HIV lainnya membaca buku yang menurutnya sangat mengilhaminya karena ia juga melalui masa-masa yang sangat sulit.

Guantai mengatakan, “Saya membaca bukunya dan melihat hidup saya tercermin pada situasi di sana. Buku ini benar-benar menyemangati saya. Catherine membantu saya berkembang, kuat dan merasa berharga.”

Umpan balik seperti ini mengilhami Wyatt-Morley untuk berbuat lebih banyak. Dari kemarahan dan kesedihannya, pada tahun 1994 lahirlah organisasi Women on Maintaining Education and Nutrition, disingkat WOMEN. Kegiatan WOMEN antara lain menyediakan layanan tes HIV, konseling, dukungan dan layanan nutrisi bagi orang-orang yang tertular, terimbas atau berisiko tertular HIV/AIDS.

Catherine Wyatt-Morley bepergian keliling dunia untuk berbicara mengenai pengalamannya. Ia ke Afrika untuk melihat langsung dampak AIDS. Ia mengunjungi para biksu di Thailand untuk mempelajari pendekatan mereka dalam merawat penderita AIDS. Ia juga mengilhami perempuan-perempuan lain yang mengidap HIV, seperti Pierina Guantai, yang mendirikan organisasinya di Nairobi dengan bantuan kelompok WOMEN.

Meski tidak pernah bertemu langsung, Guantai menghargai Catherine Wyatt-Morley atas keberhasilan kelompoknya di Nairobi sejauh ini.
Wyatt-Morley sendiri mengatakan bahwa solidaritas sesama perempuan dengan HIV/AIDS sangat penting dalam perjuangan mereka melawan penyakit ini.

Catherine Wyatt-Morley mengatakan inspirasi dan bantuan dapat ditemukan di situs organisasinya di Internet, www.educatingwomen.org.

XS
SM
MD
LG