Tautan-tautan Akses

Melindungi Lahan Basah, Melindungi Kehidupan


Flamingo berkumpul di lahan basah, di delta sungai Axios, 20 mil sebelah barat kota Yunani, Thessaloniki, 2 Februari 2014. (Foto: dok. AP/Photo Nikolas Giakoumidis)

Flamingo berkumpul di lahan basah, di delta sungai Axios, 20 mil sebelah barat kota Yunani, Thessaloniki, 2 Februari 2014. (Foto: dok. AP/Photo Nikolas Giakoumidis)

Lebih dari 600 juta orang di seluruh dunia bergantung pada lahan basah untuk sumber kehidupan mereka seperti memancing atau bertani. Namun, para ahli mengatakan 64 persen dari lahan basah telah lenyap sejak tahun 1900. Lebih dari 800 delegasi dari 160 negara sedang bertemu di Uruguay (1-9 Juni) untuk mencari solusi masalah ini.

KTT di Punta del Este ini adalah pertemuan ke-12 Ramsar Convention on Wetlands. Perjanjian internasional ini menyeidakan kerangka kerja untuk “konservasi dan penggunaan lahan basah dan sumber dayanya dengan cermat.”

“Lahan basah sangat penting bagi kita semua karena dari sana kita mendapatkan air untuk memasak, untuk makan, untuk mencuci, “ ujar Dr. Christopher Briggs, sekretaris jenderal dari Konvensi Ramsar. “Semua air tawar kita berasal dari lahan basah. Lahan basah juga memurnikan air dari polusi. Mereka juga menyimpan karbon. Mereka adalah sumber mata pencarian dari 660 juta orang di seluruh dunia hidup dari budidaya dan perikanan dari lahan basah.”

Lahan basah adalah pelindung ketika alam berubah menjadi merusak.

“Lahan basah juga penting dalam pengurangan resiko bencana, membantu orang untuk melindungi sumber kehidupan mereka dan tempat tinggal mereka terhadap dampak naiknya permukaan laut, tsunami dan badai,” ujar Briggs. “Lahan basah adalah perlindungan terbaik, infrastruktur alami di sepanjang pantai. Dan di daratan, lahan basah dapat menahan dampak musim kemarau dan banjir.”

Selain menyediakan sumber daya untuk memancing, pertanian, air dan pakan ternak, lahan basah juga sumber kegembiraan bagi jutaan orang.

Menturut Briggs, “Kita seringkali menghabiskan liburan di lahan basah, di pantai, di garis pantai, di terumbu karang, di hutan bakau, di danau, sungai dan kolam. Ini yang disebut lahan basah. Mereka adalah sumber pembangunan berkesinambungan dan mereka sangat penting untuk masa depan kita dan untuk masa depan anak-anak kita.”

Selain kehilangan 64 persen lahan basah di dunia sejak tahun 1900, sekitar 40 persen lahan basah yang masih tersisa telah terdegradasi dalam 40 tahun terakhir. Degradasi tersebut terus berlangsung dengan kecepatan satu setengah persen per tahun.

Briggs mengatakan hal tersebut terjadi karena manusia telah membangun peradaban mereka di dekat lahan basah.

“Kita mendirikan pertanian. Kita membangun rumah, jalan dan kota-kota di lahan basah karena sangat mudah untuk dikeringkan. Tetapi manfaat yang didapatkan dari lahan basah juga sangat penting,” ujarnya. “Dan ketika kita kekurangan lahan basah, sangat penting untuk masa depan, untuk masa depan yang berkelanjutan, untuk menyadari bahwa kita perlu berhenti, mencegah dan memulihkan lahan basah.”

Briggs membandingkan masalah ini dengan masalah lingkungan lainnya.

“Ini bisa dibandingkan dengan hilangnya hutan tropis yang terjadi di tahun 80an di Brazil dan Asia. Laju hilangnya lahan basah adalah masalah yang serius. Pada saat yang sama, populasi kita semakin bertambah dan sangat memerlukan lahan basah untuk menyediakan air untuk kelangsungan, sumber kehidupan, untuk masa depan rakyat kita,” ujarnya.

Menurut Briggs, masalahnya bukan karena orang tidak mengakui masalah ini ada. Sebaliknya, menurut Bruggs orang-orang sama sekali tidak tahu tentang masalah ini sampai akhir-akhir ini. Pada tahun 2014, tiga indikador yang menunjukkan degradasi lahan basah baru dirilis. Contohnya, World Wildlife melaporkan bahwa 76 persen tanaman dan spesies hewan yang terkait dengan lahan basah telah lenyap dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.”

“Saya kira tidak ada yang menyangkal bahwa ada masalah. Orang tidak menyadari bahwa masalah itu ada,” ujarnya. “Dan itu yang harus kita beri tahu pada tujuh milyar orang di planet ini, bahwa mereka harus sadar akan masalah ini. Dengan begitu kita bisa membangun masa depan bagi sembilan milyar penduduk, yang tidak menjadi miskin, tapi diperkaya dengan kesempatan yang disediakan oleh lahan basah.”

Diperkirakan populasi dunia akan tumbuh menjadi lebih dari sembilan milyar pada tahun 2050.

Menurut sekertaris jenderal Konvensi Ramsar, kesadaran masyarakat tentang lahan basah harus sama tingginya seperti kesadaran tentang hutan tropis. Lahan basah memberikan perlindungan terhadap dampak perubahan iklim dengan cara menyimpan karbon dalam jumlah besar dan mencegahnya memasuki atmosfer.

Contohnya, lahan gambut terbuat dari vegetasi yang membusuk dan bahan organik lainnya. Lahan gambut hanya menutupi tiga persen permukaan bumi, namun mereka menyimpan karbon dua kali lebih banyak dibandingkan semua hutan di dunia.

Konferensi Pihak-pihak yang Mengadakan Perjanjian Konvensi Ramsar ke-12 ini adalah badan pembuat keputusan kesepakatan. Briggs berharap delegasi akan menyetujui “rencana strategis yang ambisius untuk mencegah, menghentikan dan membalikkan degradasi lahan basah.”

XS
SM
MD
LG