Tautan-tautan Akses

AS

Media Sosial Ubah Peta Sumber Berita Pemilu

  • Kane Farabaugh

Media sosial memungkinkan orang mengetahui acara debat atau aktivitas kampanye saat sedang berlangsung. (Foto: Dok)

Media sosial memungkinkan orang mengetahui acara debat atau aktivitas kampanye saat sedang berlangsung. (Foto: Dok)

Media sosial telah menggantikan sumber-sumber berita tradisional sebagai metode penyampaian pilihan dan informasi untuk generasi pemilih baru.

Komputer dan peranti bergerak (mobile device) mentransformasi kecepatan dan medium tempat para pemilih di Amerika Serikat mendapatkan informasi mengenai para kandidat.

Media sosial seperti Twitter dan Facebook secara mantap menggantikan sumber-sumber tradisional sebagai metode penyampaian pilihan untuk sebuah generasi pemilih baru.

Menjelang pemilihan umum tahun ini, mahasiswa Center College Kelly Bolton, yang sedang berada di kampus pada debat calon wakil presiden minggu lalu, mendapatkan kabar terbaru mengenai politik tidak dari televisi atau sumber berita tradisional lainnya, namun secara instan lewat telepon.

“Kita mengetahui apa yang terjadi saat peristiwa itu terjadi. Dan sangat menyenangkan pada saat musim politik seperti sekarang ini karena Anda ingin tahu hasil survei, atau jika Romney mengatakan sesuatu atau Obama mengatakan sesuatu,” ujar Bolton.

Informasi tersebut disampaikan lewat teleponnya melalui situs-situs sosial media seperti Facebook dan Twitter, yang meningkat popularitasnya seiring peningkatan jumlah orang Amerika yang memiliki peranti bergerak.

Selama debat pertama antara Presiden Barack Obama dan penantang dari Partai Republik Mitt Romney, Pusat Riset Pew menyatakan bahwa satu diantara 10 orang Amerika menonton debat sambil mengikuti berita mengenainya di komputer atau peranti bergerak mereka.

“Kami berkumpul sambil menonton televisi. Namun semua orang juga memegang teleponnya karena jika Mitt Romney mengatakan sesuatu, dan kami pengikut Partai Republik menyukainya, kami ingin menuliskannya di Twitter,” ujar Bolton.

“Twitter telah melipatgandakan jumlah pembicaraan seputar pemilu,” ujar Adam Sharp dari Twitter. Ia mengatakan lalu lintas di situs media sosial tersebut melonjak dari 1.000 kicauan per menit menjadi 100.000 kicauan (tweet) per menit selama debat-debat berlangsung.

Dengan membuat grafik lalu lintas di Twitter, ia dapat menggambarkan bagaimana debat dimainkan kepada publik Amerika secara instan.

“Satu atau dua generasi yang lalu, kita mungkin harus menunggu koran esok pagi untuk mengetahui apa yang terjadi pagi ini pada kegiatan kampanye. Sekarang, kita dapat mengikuti apa yang terjadi saat hal itu terjadi lewat Twitter dan lebih dekat dengan para kandidat dan peristiwa pada waktu yang sama,” ujar Sharp.

Merle Hansen, seorang pensiunan berusia 70 tahun, telah menonton debat calon presiden sejak 1960. Ia masih lebih suka mendapat informasi dari surat kabar dan tidak berencana untuk membuka akun Twitter.

“Jika Anda ingin berbicara dengan saya, telepon saja. Saya akan dengan senang hati berbicara dengan Anda. Tapi saya tidak suka mengirim teks atau sejenisnya,” ujar Hansen.

Sentimen seperti itu dapat dimengerti oleh Kenyon Cook, seorang mahasiswa.

“Saya kira jauh lebih mudah bagi anak muda untuk mengaksesnya karena mereka mengerti teknologi,” ujar Cook.

“Jika Anda bertanya pada orangtua saya, mereka akan mengatakan tidak tahu apa itu iPhone, Twitter dan bagaimana mengakses Facebook,” ujar Bolton.

Namun hal itupun sudah berubah. Bolton mengatakan ayahnya telah membuka akun Facebook, bergabung dengan sekitar satu miliar orang di planet ini yang memiliki akun di media sosial tersebut, termasuk Mitt Romney dan Presiden Obama.

Pemilihan umum kali ini dapat menjadi ujian bagaimana cara menyampaikan berita seperti ini akan mempengaruhi hasilnya.
XS
SM
MD
LG