Tautan-tautan Akses

Media Corong Pemerintah Burma Ubah Konsep


Pemimpin redaksi Than Myint Tun memegang contoh edisi baru koran The New Light of Myanmar. (Reuters/Minzayar)

Pemimpin redaksi Than Myint Tun memegang contoh edisi baru koran The New Light of Myanmar. (Reuters/Minzayar)

Surat kabar milik pemerintah Burma mereformasi dirinya, tidak lagi menjadi corong pemerintah.

Surat kabar The New Light of Myanmar memiliki masalah pencitraan.

Didirikan pada 1993 sebagai corong junta militer, media tersebut suatu kali menggambarkan ikon demokrasi Aung San Suu Kyi sebagai “dikuasai napsu birahi dan takhayul,” sambil memuji para jenderal yang membiarkan negara tersebut dalam kemiskinan dan ketakutan. Sebagian masyarakat menyebut koran tersebut “The New Lies of Myanmar” (Kebohongan Baru Myanmar).

Sekarang, di saat junta militer sudah tidak ada dan pemerintah reformis mengambil alih, corong tersebut melakukan pembenahan ulang.

“Silakan tanya apa saja! Kami sangat transparan sekarang!” seru Than Myint Tun, pemimpin redaksi yang senang mengunyah sirih saat diwawancarai oleh kantor berita Reuters.

New Light merupakan harian berbahasa Inggris satu-satunya di Burma, tapi tidak untuk waktu yang lama. Pemerintah baru Burma telah secara efektif menghapuskan sensor, mendorong koran-koran mingguan yang memang sudah dinamis. Pihak swasta diperbolehkan menerbitkan koran harian mulai awal 2013.

Adanya persaingan membuat New Light berjuang supaya menjadi relevan dan meraih pembaca.

Propaganda penuh kebencian telah diganti oleh tajuk rencana yang bersemangat dan berita-berita hiburan. Kartun-kartun yang dulu menggambarkan Suu Kyi sebagai nenek tua ompong sekarang beralih menjadi komentar mengenai isu-isu hangat seperti transparansi politik dan popularitas gaun ala orang Barat.

Cetakan hitam putih yang tintanya membuat tangan kotor sekarang mulai bereksperimen dengan warna. Semua edisi New Light dan koran berbahasa Burma, Myanma Alin dan Kyemon, akan tampil secara berwarna mulai pertengahan Desember.
Perombakan tersebut merupakan bagian dari rencana ambisius untuk mendorong televisi dan media cetak milik pemerintah dengan mandat layanan publik.

"Saat media menjadi terlalu komersil, mereka gagal mempresentasikan kepentingan kelompok-kelompok rentan, seperti etnis minoritas, perempuan dan anak muda,” ujar Ye Htut, Wakil Menteri Penerangan Burma.

Namun mengubah konsep media propaganda tidak mudah. New Light memiliki sedikit sumber daya, tidak mempunyai staf dengan keterampilan jurnalistik, dan kantornya berada 40 menit dari ibukota Naypyitaw yang sudah terisolasi.

Than Myint Tun, 50, lulusan sastra Inggris dari Universitas Mandalay, menghabiskan 14 tahun dalam militer sebelum bergabung dengan koran tersebut pada 2000.

“Saya bekas tentara,” ujarnya sebelum memperkenalkan tim editorial beranggotakan 26 orang. “Ia dulunya dokter hewan, dan ia mantan insinyur. Kami pria-pria yang sangat aneh.”

Sekarang mereka merasa aneh, namun di bawah junta, koran tersebut membosankan dan kejam. Sebagian besar artikel dan foto memperlihatkan bekas diktator Than Shwe dan jenderal-jenderalnya menginspeksi jalan dan jembatan, mendapat pemberkatan dari pendeta Budha atau menceramahi warga sipil yang terlihat suram.

Selain menghina Suu Kyi, surat kabar tersebut juga rutin menjelek-jelekkan media Barat (“VOA dan BBC menyiarkan kebohongan besar”) dan mendesak pembaca untuk “menghancurkan elemen-elemen internal dan eksternal yang destruktif sebagai musuh bersama.”

Media tersebut juga memoles pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh junta.

Pada 2007, puluhan orang tewas setelah demonstrasi pro-demokrasi yang dipimpin para pendeta Budha dihajar tentara dan polisi dengan amunisi, pemukulan dan penangkapan masal. Koran tersebut mengklaim bahwa pasukan keamanan telah “menggunakan kekuatan paling minimal untuk membubarkan massa” dan menyalahkan “para biarawan Budha yang pemarah.”

Mereformasi diri berarti memenangkan kembali kepercayaan publik yang sudah terlanjur curiga. Namun Ye Htut yakin koran tersebut memiliki “peran unik” untuk menginformasikan dunia mengenai transformasi Burma.

Seks, Narkoba dan Kejahatan

Beberapa artikel tetap dangkal, seperti “Pendingin Udara Ditemukan di Sawah,” atau kurang memiliki nilai berita, seperti “Menteri Agama Bergulat dengan Isu Agam.”

Namun sekarang banyak artikel yang menggambarkan perubahan di Burma, seperti kecelakaan jalan yang merupakan dampak kenaikan impor mobil, razia narkotika yang sering terjadi, dan berita kejahatan yang dulu merupakan tabu.

Koran tersebut juga menerjemahkan hasil pertemuan anggota parlemen, yang dengan mengejutkan ternyata cukup berani.

Tanpa adanya pembicara berbahasa Inggris di kalangan staf, kesalahan eja sering terjadi. Reporter juga jarang melaporkan berita, namun hanya duduk dan menerjemahkan artikel dari Myanma Alin, Kyemon dan Kantor Berita Burma, yang semuanya berkantor di kompleks yang sama.

Para reporter muda kesal karena lokasi yang terisolasi, namun staf yang sudah berumur senang karena situasinya tenang dan damai. Sudah ada rencana untuk memindahkan kantor dari Naypyitaw ke Rangoon, yang berjarak lima jam dengan mengendarai mobil.

Tunggu Halaman Satu

Namun kebijakan editorial era junta masih ada. Koran-koran milik pemerintah masih harus melaporkan setiap detil pergerakan atau aktivitas pejabat-pejabat papan atas. Ketika Burma masih tertutup, hal itu tidak menjadi kendala karena para pemimpin militer tidak banyak bepergian karena larangan mendapat visa dari negara Barat.

Sekarang, presiden reformis Thein Sein berkeliling dunia sehingga koran tersebut harus mendedikasikan halaman yang banyak untuk kunjungannya ke Tiongkok, Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Baru-baru ini, presiden berbagi halaman dengan Suu Kyi, yang juga berkunjung ke Amerika Serikat, sesuatu perubahan radikal dalam media tersebut.

Setiap hari, 13.000 kopi dicetak, dan dengan halaman berwarna yang menarik para pengiklan, koran tersebut berharap bisa mandiri secara finansial suatu hari nanti. Than Myint Tun punya mimpi besar.

"Saya punya pertanyaan," ujarnya. "Apa pendapat Anda mengenai paparazzi? Haruskah foto-foto mereka dimuat dalam koran? " (Reuters/Andrew R.C. Marshall)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG