Tautan-tautan Akses

Mayoritas Muslim di Benggala, India Tolak Intervensi Imam dalam Politik


Ribuan muslim India melakukan shalat di New Delhi (foto: dok). Partai-partai politik berusaha menjangkau hampir 180 juta Muslim di negara tersebut.

Ribuan muslim India melakukan shalat di New Delhi (foto: dok). Partai-partai politik berusaha menjangkau hampir 180 juta Muslim di negara tersebut.

Sawab Foundation baru saja melakukan survei terhadap komunitas Muslim di Benggala Barat, India untuk mengetahui apakah mereka memilih sesuai anjuran dari pemimpin agama mereka.

Dalam pesta demokrasi India yang berakhir minggu ini, partai-partai politik menjangkau hampir 180 juta Muslim di negara tersebut dengan harapan memenangkan suara mereka. Banyak politisi mencari dukungan para ulama yang pada gilirannya dapat mengarahkan anggota komunitas mereka.

Di lingkungan warga Muslim di seluruh India, pemilu biasanya adalah saat di mana pemimpin agama seperti Imam Kolkata, Syed Nurur Rahman Barkati menganjurkan para pemilih untuk mendukung calon tertentu, dalam hal ini Menteri Benggala Barat Mamata Banerjee.

Dukungan seperti itu adalah bagian penting dari kampanye politik India yang meriah. Tapi di sini di lingkungan Muslim yang sepi di kota Kolkata, India Timur mereka sebagian besar diabaikan.

Mohammad Alamgir mengatakan dia tidak terpengaruh oleh seruan para pemimpin masjid setempat.

“Saya tidak pernah mengikuti instruksi imam kalau saya memberikan suara. Ini adalah urusan pribadi saya. Saya akan memilih calon pilihan pribadi saya. Saya akan memilih seseorang yang saya anggap baik. Mengapa saya harus ikuti pilihan orang lain?,” ujar Alamgir.

Alamgir tidak sendirian. Sawab Foundation India baru saja melakukan survei terhadap komunitas Muslim di Benggala Barat untuk mengetahui apakah mereka memilih sesuai anjuran dari para pimpinan agama mereka.

Aziz Mubaraki, pendiri LSM berbasis di Kolkata mengatakan, “Hasilnya benar-benar menakjubkan bahwa sekitar 98 persen Muslim tidak mau adanya intervensi dari pemimpin agama ketika memberikan suara mereka.”

Secara historis, sebagian besar Muslim di India tidak memilih partai oposisi utama India Partai Bharatiya Janata, yang berakar pada nasionalisme Hindu.

Maidul Islam, profesor ilmu politik Universitas Presiden di Kolkata, mengatakan bahwa partai-partai politik itu naif untuk percaya preferensi suara kaum Muslim India hanya berdasarkan agama.

“Pada dasarnya mereka (partai politik) tidak menyadari masalah-masalah sosial ekonomi dan politik dari komunitas Muslim dan mengapa masyarakat Muslim memilih dengan cara tertentu.”

Bagi penjual telepon genggam Sami Mojaddedi, persoalan ini adalah mudah dan sederhana. “Tugas imam adalah untuk melayani masyarakat di dalam masjid, melakukan tugas keagamaan bagi masyarakat seperti memimpin shalat berjamaah, memberikan nasihat tentang Ramadhan dan Idul Fitri,” kata Mojaddedi.

Hasil survei telah menunjukkan bahwa mayoritas muslim di India tidak ingin para imam ikut campur dalam politik.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG