Tautan-tautan Akses

Kementerian Agama akan Revisi Materi Sejarah Nabi di SD, SMP

  • Fathiyah Wardah

Presiden Jokowi dan ibu negara Iriana Widodo saat mengunjungi SD di Palangkaraya, Kalteng tahun lalu (foto: dok). Kementerian Agama akan memperbaiki materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad SAW di SD dan SMP.

Presiden Jokowi dan ibu negara Iriana Widodo saat mengunjungi SD di Palangkaraya, Kalteng tahun lalu (foto: dok). Kementerian Agama akan memperbaiki materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad SAW di SD dan SMP.

Kementerian Agama akan merevisi materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad SAW yang menonjolkan peperangan. Perubahan tersebut dilakukan karena meningkatnya radikalisasi di Indonesia pada sebagian masyarakat.

Kementerian Agama berencana akan memperbaiki materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad SAW di sekolah dasar dan menengah karena dinilai cenderung menonjolkan peperangan. Kementerian Agama akan memperbanyak materi soal sifat-sifat Nabi Muhammad yang toleran dan mendukung perdamaian.

Revisi ini dinilai Kementerian Agama penting dilakukan karena meningkatnya radikalisasi pada sejumlah masyarakat di Indonesia.

Upaya Kementerian Agama tersebut didukung oleh Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah - Jakarta, Bambang Pranowo.

Kepada VOA hari Senin (25/1), Bambang mengatakan gambaran Nabi sebagai orang yang santun yang penuh kasih dan rahmat memang perlu lebih ditonjolkan. Menurutnya, perang yang dilakukan oleh nabi pada saat itu hanya perang membela diri. Diakuinya bahwa materi sekarang ini lebih menonjolkan peperangan. Hal itu dinilai dapat memicu kekerasan.

Pendapat Bambang Pranowo itu bukan asal bunyi. Survei yang dilakukan LAKIP pada tahun 2011 terhadap pelajar SMP-SMA di 100 sekolah (59 swasta, 41 negeri) menunjukkan bahwa 50% persen pelajar setuju dengan cara-cara kekerasan dalam menangani isu moralitas dan keagamaan. Ini patut disesalkan.

"Perbuatan itu kan dipengaruhi oleh gambaran, sikap, pengetahuan yang diperoleh jadi kalau pengetahuan itu penuh dengan kekerasan akan sangat mendorong menjadi pemicu tetapi kalau ternyata ohh nabi seperti itu yah, penyantun,pengasih dalam keadaan yang kasar, keraspun dia tetap mengambil jalan damai. Nah itu akan memberi lahan pada pembentukan budaya damai," ungkap Bambang.

Sementara, juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto menyatakan tidak setuju apabila latar belakang perubahan materi tentang peperangan Nabi dikatakan memicu radikalisasi. Kementerian Agama menurutnya harus menjelaskan dengan jelas tujuan dari revisi materi tersebut.

"Kita ini seperti menyalahkan diri kita sendiri terhadap apa yang terjadi di dunia ini, khususnya radikalisme. Radikalisme pertama muncul sebenarnya merupakan respon dari ketidakadilan dan kezholiman. Yang kedua, perwujudan dari pemahaman seseorang terhadap agama Islam itu sendiri. Bagaimana mungkin radikalisme yang merupakan respon terhadap apa yang menimpa umat Islam lalu kita sendiri yang harus memperbaiki supaya tidak radikal, itu kan tidak fair," ujar Ismail.

Anak muda Indonesia sekarang ini memang menjadi target rekrutmen teroris untuk diajak bergabung bersama dengan mereka.

Oleh karena itu banyak pihak, termasuk Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam menyatakan lembaganya akan melakukan kerjasama dengan ulama dan masyarakat, untuk meluruskan pemahaman radikal. [fw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG