Tautan-tautan Akses

Masyarakat Perancis Prihatin akan Serangan Teror


Tentara Perancis melakukan patroli di Promenade des Anglais, Nice, Perancis selatan (foto: dok).

Tentara Perancis melakukan patroli di Promenade des Anglais, Nice, Perancis selatan (foto: dok).

Sebuah komunitas kecil di wilayah Normandi, Perancis Utara, masih belum pulih dari pembunuhan seorang Pastur Katolik oleh dua pendukung ISIS bulan Juli lalu.

Kontroversi di Perancis mengenai baju renang yang menutupi seluruh tubuh yang dikenal sebagai burkini, telah mengungkap pertentangan antara masyarakat sekuler dan minoritas Muslim yang jumlahnya terbesar di Eropa, 7,5 persen dari penduduk Perancis.

Ketegangan, ada yang nyata dan ada yang samar, timbul sejak serangkaian serangan teroris di negara yang pernah membanggakan diri karena bersikap ramah kepada para imigran itu.

Jauh dari pantai, St. Etienne du Rouvray, sebuah komunitas kecil di wilayah Normandi, Perancis Utara, masih belum pulih dari pembunuhan seorang Pastur Katolik oleh dua jihadis ISIS pada bulan Juli, dan ada kekhawatiran bahwa pertumbuhan cepat populasi Muslim akan memicu reaksi yang dipimpin oleh kaum kanan namun diam-diam didukung oleh sekularis kiri.

Pembunuhan itu menguji hubungan yang dimulai dengan ramah beberapa dasawarsa yang lalu, ketika imigran Afrika Utara mulai tiba di daerah itu untuk bekerja di jawatan kereta api nasional Perancis dan di pabrik-pabrik di Rouen, yang terletak tidak jauh dari St. Etienne.

Pertama, gereja St. Therese membolehkan pendatang baru Muslim menggunakan aula paroki untuk berdoa, kemudian menyumbangkan bagian dari tanah gereja untuk pembangunan masjid pertama di kota itu. [ps/ds]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG