Tautan-tautan Akses

Masyarakat Kunci Utama Perkembangan Sekaligus Pencegahan Terorisme

  • Nurhadi Sucahyo

Dialog upaya pelibatan masyarakat dalam penanggulangan terorisme di Yogyakarta, 30 Agustus 2016 (Foto: VOA/Nurhadi)

Dialog upaya pelibatan masyarakat dalam penanggulangan terorisme di Yogyakarta, 30 Agustus 2016 (Foto: VOA/Nurhadi)

Pemberantasan terorisme tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial masyarakat yang ada di Indonesia. Masyarakat bisa menjadi faktor suburnya gerakan teror, tetapi juga memiliki peran kunci untuk mencegahnya.

Ali Fauzi Manzi, adik pelaku teror Bom Bali Amrozi dan Ali Ghufron alias Mukhlas, memulai petualangan di dunia yang dia sebut sebagai jihad, ketika masih berumur 17 tahun. Pada usia semuda itu dia merantau ke Malaysia, dan kemudian bertemu dengan ulama-ulama Indonesia yang melarikan diri ke sana. Ulama-ulama ini adalah musuh Orde Baru, karena upaya mereka memperjuangkan negara Islam di Indonesia.

Sebagai pengikut, Ali Fauzi kemudian dibaiat oleh ulama panutannya ketika itu, Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar. Dari hubungan itulah kemudian Ali yang kini menjadi pengamat terorisme di Indonesia, ditugaskan untuk berperang di Afganistan dan di Mindanao, Filipina Selatan.

Berbicara dalam dialog bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme DIY dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme di Yogyakarta, Selasa (30/8), Ali mengupas banyak hal tentang sejarah teror di Indonesia.

Sejak tahun 2000 hingga 2009, teror bom di Indonesia selalu diwarnai dengan bom berskala besar. Tercatat antara lain bom Kedutaan Filipina dan Australia, serta Bom Bali 1 dan Bom Bali 2. Hal itu tidak lain karena para pelakunya masih lulusan langsung dari pendidikan perang di Afghanistan dan Filipina. Mereka memiliki kemampuan merakit bom yang canggih sehingga bisa memanfaatkan bahan-bahan yang dijual di pasar secara bebas, dan menghasilkan bom berdaya ledak tinggi.

Secara khusus, Ali melihat Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai salah satu sumber pelaku teror dominan di Indonesia. Status ini sudah dirintis sejak tahun 1985, ketika organisasi Darul Islam mulai mengirim sukarelawan ke Afghanistan untuk berperang melawan Uni Soviet. Baik mereka yang sudah meninggal maupun yang masih hidup dan menjadi pionir aksi-aksi pemboman, rata-rata berasal dari kawasan ini. Dulmatin, Omar Patek, dan Abu Bakar Baasyir, adalah sebagian dari mereka.

Kondisi ini tentu bukan sebuah kebetulan, karena untuk tumbuh paham radikal membutuhkan lingkungan yang mendukung. Tidak mengherankan jika Umar Jundulhaq, anak pelaku bom Bali, Imam Samudra, menyempatkan diri hidup di Jawa Tengah, sebelum berangkat ke Suriah dan menjadi korban perang di sana ketika umurnya baru 19 tahun.

“Jejak teror di Indonesia, sejak tahun 1999 sampai 2016, Jawa Tengah khususnya Solo dan Klaten menjadi wilayah pemasok material bom dan sekaligus pemasok anggota kelompok teroris di Indonesia. Saya baru satu bulan yang lalu mewawancarai banyak mantan narapidana dari wilayah Klaten. Konflik komunal di Ambon dan Poso juga rentetan bom di tanah air, banyak melibatkan warga dari wilayah ini. Saya bisa katakan bahwa Jawa Tengah, khususnya Solo dan Klaten dan Jogja, termasuk biang kerok dari aksi-aksi teror di Indonesia,” kata Ali Fauzi.

Guru Besar Sosiologi Agama, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Bambang Pranowo melihat, tafsir memang masih menjadi salah satu sumber persoalan. Ajaran agama membawa pesan, baik itu perang maupun kedamaian. Tetapi masih jauh lebih banyak pesan perdamaian yang dibawa oleh setiap agama.

Berbicara dalam diskusi yang sama di Yogyakarta, Bambang mengatakan, barangkali memang dibutuhkan sebuah tafsir baru yang lebih sesuai dengan kondisi sosial saat ini, sebagai bagian dari upaya mengurangi aksi kekerasan berlandaskan pemahaman agama yang keliru.

Dalam penelitian yang pernah dilakukan, Bambang Pranowo menemukan figur Dani Dwi Permana sebagai pelaku bom di Hotel JW Marriott, Jakarta pada 2009. Ayah pemuda berumur 18 tahun ini adalah narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang sedangkan ibunya hidup serba kekurangan. Dalam kondisi semacam itu, dia bertemu dengan seseorang yang kemudian memompakan pemahaman sesat.

“Dia diberi pemahaman, daripada menjadi orang yang tidak berharga, lebih baik menjadi pejuang atau mujahid. Sehingga kalau mati, dia diyakinkan, karena ikut menjadi pejuang yang menegakkan syariah, maka matinya akan mati syahid. Dan kalau dia mati syahid, dia dijanjikan akan langsung masuk surga. Dalam istilah psikologi, ini dari orang yang tidak berharga, kemudian dianggap menjadi pahlawan, disebut sebagai from zero to hero. Oleh karena itu dia semangat, dan ketika disuruh mengebom Hotel JW Marriott, dia nurut saja,” kata Bambang Pranowo.

Andi Intang Dulung dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, dalam dialog ini mengajak masyarakat mengembangkan wawasan mencegah terorisme. Dia menegaskan, terorisme adalah persoalan ideologi karena itu penggunaan peluru, penangkapan dan penegakan hukum bukan jalan tunggal untuk memutus rantainya.

Pemerintah, melalui BNPT saat ini terus malakukan upaya kontra radikalisasi, salah satunya dengan meyakinkan masyarakat, bahwa paham radikal tidak boleh tumbuh di Indonesia. [ns/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG