Tautan-tautan Akses

AS

Masyarakat AS Semakin Menerima Pernikahan Antar Ras


Walikota New York terpilih Bill de Blasio bersama anak dan istri saat meninggalkan tempat pemilihan suara, November 2013. (AP/Mark Lennihan)

Walikota New York terpilih Bill de Blasio bersama anak dan istri saat meninggalkan tempat pemilihan suara, November 2013. (AP/Mark Lennihan)

Pada 1959, hanya 4 persen warga Amerika yang menyetujui pernikahan antara ras, namun sekarang jumlahnya mencapai 87 persen.

Ketika Walikota New York City yang baru terpilih, Bill de Blasio, seorang pria kulit putih yang menikah dengan perempuan Afrika Amerika, resmi memasuki kantor pada 1 Januari didampingi istri dan dua anaknya, keluarga mereka mencerminkan lanskap Amerika yang baru.

Pada 1959, hanya 4 persen warga Amerika menyetujui pernikahan antar ras. Sekarang ini, 87 persen tidak menganggapnya masalah, menurut jajak pendapat Gallup. Presiden Barack Obama lahir dari pernikahan semacam itu, dan angka-angka sensus menunjukkan bahwa kelompok demografi di bawah usia 18 tahun dengan pertumbuhan tercepat adalah anak-anak ras campuran.

Hal ini sangat berbeda pada 1958, ketika orang-orang yang menikah antar ras dapat ditangkap di 22 negara bagian Amerika. Mildred Jeter dan Richard Loving menikah tahun itu di Washington, D.C. Mildred adalah seorang Afrika Amerika, sementara Richard berkulit putih. Enam minggu kemudian, ketika mereka kembali ke kota asal di negara bagian Virginia, polisi mendobrak pintu rumah mereka pada tengah malam.

“Saya melihat lampu dan bangun, kemudian melihat ada polisi berdiri di samping tempat tidur. Ia menyuruh kami bangkit dan mengatakan bahwa kami ditangkap," kenangnya.

Mereka dihukum dengan pengasingan selama 25 tahun dari Virginia. Pasangan Loving menuntut ke pengadilan, dan pada 1967 Mahkamah Agung menghapus aturan-aturan anti pernikahan antar ras di 16 negara bagian. Sejak saat itu, jumlah pernikahan antar ras terus meningkat menjadi 15 persen dari semua pernikahan baru dan 8 persen untuk pernikahan yang telah ada.

“Masyarakat telah semakin menerimanya, meski kami terkadang masih mendapat tatapan aneh," ujar warga New York Gerri Buchanan, seorang Afrika Amerika yang menikah dengan pria kulit putih.

Di New York, keluarga-keluarga multiras seperti Buchanan dan de Blasio bukan sesuatu yang luar biasa. Tetap saja, New York City belum pernah memiliki pemimpin dengan keluarga multiras, dan pengamat politik mengatakan keluarga de Blasio merupakan salah satu faktor pendorong kemenangannya pada pemilu November.

Peningkatan Keragaman

Ken Tanabe, pendiri Loving Day, sebuah perayaan keluarga antar ras di banyak kota yang setiap tahun merayakan keputusan Mahkamah Agung, mengatakan terpilihnya de Blasio mencerminkan peningkatan keragaman New York di dalam keluarga dan lingkungan.

"New York selalu menjadi kota dengan keberagaman, namun sekarang lebih banyak lagi pasangan antar ras, dan lebih banyak orang mengidentifikasi dirinya sebagai multietnis. Dengan terpilihnya Bill de Blasio, saya kira kita melihat lebih banyak penerimaan dan dukungan untuk keluarga-keluarga, pasangan dan individual tersebut," ujarnya.

"Jika Anda lihat yang memilih dia dari semua kelompok-kelompok demografi yang berbeda, ia mendapat suara dari semua kelompok. Itu yang luar biasa karena pernikahan antar ras dalam politik sangat langka. Dan ia menggunakannya hampir sebagai aset."

Penulis Aja Monet mengatakan pernikahan de Blasio juga menyentuh khususnya perempuan Afrika Amerika, yang seringkali diseksualisasi atau diabaikan oleh budaya pop dan politik.

"Jika Anda tidak memiliki penampilan tertentu, atau jika Anda tidak berbadan atau beridentitas seperti orang Eropa...coba saja lihat berapa kali orang menilai Michelle Obama berdasarkan tubuhnya, bagaimana penampilannya, dan hal ini seringkali dilakukan oleh pria kulit putih," ujarnya.

"Tapi kemudian ada pria ini, yang mengatakan 'biarkan saya mencium istri saya yang cantik dan berkulit hitam di depan Anda, dan saya mencintainya, dan bukan karena (fisiknya) itu."

“Saya kira ada kenyamanan dengan diwakili oleh orang-orang yang betul-betul merefleksikan tipe kehidupan yang kita jalani setiap hari," ujar Monet.

Tom Rogers dan Gerri Buchanan juga memberikan suaranya untuk de Blasio. Mereka mendukungnya karena kebijakan-kebijakannya, bukan kehidupan pribadinya. Meski demikian, keluarganya yang berbeda ras menarik untuk mereka.

“Sama halnya dengan perasaan tertekan jika melihat orang-orang tidak berbaur, saya senang melihat orang-orang seperti de Blasio, yang mirip dengan kami," ujar Rogers.
XS
SM
MD
LG