Tautan-tautan Akses

Masjid di Indiana, Tempat Mahasiswa Muslim Beribadah dan Berinteraksi Sosial


Dari sebuah rumah sederhana, akhirnya sejak dua tahun yang lalu, komunitas Muslim di Indiana, Pennsylvania memiliki sebuah masjid. Masjid di kota kecil berpenduduk hanya sekitar 15 ribu jiwa ini diberi nama “Islamic Center of Indiana Pennsylvania” atau ICIPA.

“Waktu saya baru datang, organisasi Muslim baru didirikan sekitar 3 tahun. Sejak itu kita berusaha untuk mencari tempat untuk membangun masjid yang baru,” kata Kustim Wibowo, dosen manajemen sistem informasi di Universitas Indiana, dan satu-satunya warga Indonesia yang aktif sebagai pengurus masjid.

Kustim menambahkan, banyak sumbangan yang diterima untuk pembangunan masjid Islamic Center of Indiana Pennsylvania ini. “Kalau ditanya siapa aja yang sumbang, darimana saja, udah lupa, saking banyaknya, Alhamdullilah,” katanya.

Kustim juga mengatakan pembangunan masjid ini hampir tidak menemui kendala, baik dalam hal perijinan, maupun dari masyarakat sekitar.

“Secara budaya, mereka (masyarakat di sini) orangnya terbuka, mereka bisa menerima apa saja, sepanjang tidak mengganggu. Ya sama dengan Muslim, agamamu, agamamu, agamaku, agamaku, nah begitu juga orang Amerika.,” tambahnya lagi.

Perjuangan selama hampir 15 tahun mengumpulkan dana untuk membangun masjid yang menelan biaya sebesar 650 ribu dolar atau sekitar 9 milyar rupiah ini membuahkan hasil manis. Seperti diakui Ahmed Karam Yousouf, kandidat Doktor di bidang media komunikasi dan teknologi instruksi yang juga ketua asosiasi mahasiswa Muslim di Universitas Indiana, Pennsylvania.

“Ini adalah tempat kita (umat Muslim) bertemu dan menjalankan ritual keagamaan, seperti berdoa dan lain sebagainya. Namun masjid ini juga punya fungsi sosial. Di masjid ini mahasiswa Muslim datang dan bisa berbagi pengalaman mereka. Tempat ini sangat penting bagi kami dan identitas kami sebagai Muslim,” kata Ahmed yang berasal dari Mesir.

Kebanyakan jemaah masjid ini adalah Muslim asal Timur Tengah dan Asia Selatan, termasuk mahasiswa di Universitas Indiana yang banyak mendukung pendanaannya.

Keberadaan masjid ICIPA memberikan perasaan lega bagi sekitar 300 warga Muslim internasional dan keluarganya yang datang belajar ke Indiana.

“Saya tahu beberapa siswa termasuk saya, ketika memilih universitas, mereka juga mempertimbangkan apakah kota tempat universitas berada memiliki masjid atau tidak. Karena ketika datang ke negara seperti Amerika dari negara Islam, kita tahu bahwa kita minoritas. Jadi kita harus mencari tahu apakah di tempat kita belajar nanti kita tetap bisa menjalankan ibadah,” tambah Ahmed.

Kehadiran masjid ini juga membuat ibadah warga Indiana di bulan Ramadan berjalan semakin khusyuk dan penuh dengan suasana kekeluargaan.

XS
SM
MD
LG