Tautan-tautan Akses

Masalah Sampah dan Kemacetan Ancam Reputasi Pulau Dewata

  • Muliarta

Para wisatawan menikmati pemandangan matahari terbenam di pantai Kuta. Banyak di antara wisatawan asing kini mengeluhkan banyaknya sampah dan maraknya kemacetan di pulau tujuan wisata ini.

Para wisatawan menikmati pemandangan matahari terbenam di pantai Kuta. Banyak di antara wisatawan asing kini mengeluhkan banyaknya sampah dan maraknya kemacetan di pulau tujuan wisata ini.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengakui masalah sampah dan kemacetan dapat merusak reputasi Bali sebagai tujuan wisata populer.

Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura dan Pulau Surga adalah beberapa sebutan yang sering digunakan untuk menggambarkan Bali. Tapi, masalah sampah dan kemacetan kini menjadi masalah utama pariwisata Bali. Bahkan akibat sampah dan kemacetan Bali kini diibaratkan sebagai sebuah pulau neraka.

Majalah terbitan Amerika, TIME, sempat mengulas masalah ini dalam laporan mereka. Menanggapi pemberitaan tersebut Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada keteranganya Senin pagi di Denpasar mengakui jika sampah dan kemacetan kini menjadi masalah utama Bali. Apalagi berdasarkan hasil Survei Dinas Pariwisata Bali, juga disebut bahwa sampah dan kemacetan menjadi masalah yang sering dikeluhkan oleh wisatawan. Tapi, Pastika tidak setuju Bali telah menjadi pulau neraka karena sampah dan kemacetan tersebut. Salah satu alasannya, selama tujuh tahun belakangan, Bali selalu mendapat predikat tujuan wisata terbaik versi majalan wisata terbitan Amerika, Travel+Leisure.

"Tidak mungkin karena sampah Bali menjadi pulau neraka," tukas Pastika. Namun, ia mengakui, sampah tetap menjadi masalah serius yang harus segera diatasi.

Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya setuju Pemda Bali harus menanggapi dengan serius masalah sampah ini. ”Kita selama ini dininabobokkan dengan sebutan Pulau Surga bagi Bali, dan lain sebagainya," ujar Arjaya. "Pada realitanya, kita harus berbenah, karena kalau kita terlena, ini akan menjadi suatu hal yang menghancurkan Bali."

Sementara itu, Gordon Hild, seorang investor asal Jerman yang lama tinggal di Bali menyatakan tidak semua daerah di Bali menghadapi masalah sampah dan kemacetan. Karena masih banyak kawasan wisata di Bali yang tetap terjaga lestari. ”Di Bali masih ada daerah yang alami, tetapi sebenarnya orangnya tidak begitu tahu dan mengerti juga," kata Hild.

Sebagai upaya penanggulangan sampah, Pemda Bali telah menyiapkan program "Bali Clean and Green." Termasuk dalam program ini, antara lain pembuatan rancangan perda tentang sampah dan kebijakan moratorium pembangunan hotel di kawasan Bali selatan.

XS
SM
MD
LG