Tautan-tautan Akses

Mantan Presiden Ceko Vaclav Havel Meninggal Dunia


Mantan Presiden Republik Ceko, Vaclav Havel (foto: dok).

Mantan Presiden Republik Ceko, Vaclav Havel (foto: dok).

Mantan presiden Ceko Vaclav Havel, yang memimpin revolusi untuk menggulingkan pemerintahan komunis di Cekoslowakia dulu, meninggal dunia hari Minggu pada usia 75 tahun.

Vaclav Havel meninggal pada hari Minggu (18/12) di rumahnya di Ceko bagian utara, didampingi oleh isterinya dan seorang biarawati. Havel sejak lama punya penyakit gangguan pernapasan, yang kata para dokter bermula ketika ia dijebloskan ke penjara dalam masa perang dingin.

Havel, yang tadinya seorang sastrawan pembangkang, adalah Presiden Cekoslowakia pertama yang terpilih dalam sistem demokrasi setelah berakhirnya pemerintahan komunis yang memerintah lebih dari empat dasa warsa.

Vaclav Havel juga memimpin Cekoslowakia bergerak ke arah sistem ekonomi pasar bebas sampai negara itu akhirnya pecah menjadi Republik Ceko dan Slovakia pada tahun 1993. Havel meninggalkan jabatannya pada tahun 2003, hanya beberapa bulan sebelum kedua negara itu bergabung dengan Uni Eropa.

Lahir di Praha tiga tahun sebelum pecahnya Perang Dunia II, Vaclav Havel diadili oleh Partai Komunis yang merebut kekuasaan tahun 1948 karena orang tuanya kaya. Mereka tidak mengizinkan Havel mengenyam pendidikan tinggi.

Drama yang ditulis Havel pada awal 1960-an mendapat sambutan dari dunia internasional. Ketika ia lantang mengecam invasi Pakta Warsawa terhadap tempat kelahirannya tahun 1968, passportnya disita.

Pada akhir 1970-an, Havel meningkatkan kegiatan-kegiatan HAM-nya, tindakan yang mengakibatkannya dipenjara bertahun-tahun dan dijadikan tahanan rumah.

Tahun 1989, ketika rejim-rejim komunis di Eropa Timur berjatuhan, Havel menjadi pemimpin revolusi Cekoslovakia yang tidak tertandingi. Ia terpilih menjadi presiden bulan Desember 1989, dan empat tahun kemudian ketika negara itu terbagi dua secara damai, ia terpilih untuk kedua kalinya sebagai Presiden Republik Ceko, jabatan yang dipegangnya sampai 2003.

Sebagai dosen tamu pada Universitas Columbia di New York tahun 2006, Havel menceritakan bagaimana komunisme berdampak melumpuhkan terhadap kehidupan rakyat.

“Semuanya dikontrol, diarahkan, dan dimanipulasi. Dalam kondisi itu, sulit percaya bahwa situasi itu bisa berubah,” tuturnya.

Havel mengatakan kepada para mahasiswa di Columbia bahwa sangat penting menghadapi penindasan dengan kebenaran.

“Kebenaran dan moralitas punya kekuatan yang lebih besar daripada senjata. Jadi, masuk akal untuk berani bicara tentang kebenaran dan melakukan apa yang kita pikir baik untuk dikerjakan, bermoral dan berusaha menciptakan solidaritas dengan orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan,” paparnya.

Havel mengatakan bahwa pencapaian yang paling dibanggakannya sebagai presiden adalah bubarnya Pakta Warsawa, aliansi militer yang dipimpin Uni Soviet yang berakhir tahun 1991.

Vaclav Havel sakit sejak lama. Ia menderita pneumonia yang tidak diobati ketika ia dipenjara. Perokok berat dan sering sulit bernafas, ia dirawat di rumah sakit akibat kanker paru-paru tahun 1996 dan hampir meninggal. Kesehatannya terus memburuk ketika ia terkena hernia tahun 2007.

XS
SM
MD
LG