Tautan-tautan Akses

AS

Mantan Presiden AS Jimmy Carter Hadapi Kanker dengan Santai


Mantan Presiden AS Jimmy Carter Membahas diagnosis kankernya dalam konferensi pers di The Carter Center di Atlanta (20/8). (AP/Phil Skinner)

Mantan Presiden AS Jimmy Carter Membahas diagnosis kankernya dalam konferensi pers di The Carter Center di Atlanta (20/8). (AP/Phil Skinner)

Ada banyak spekulasi di media seluruh dunia mengenai kesehatan Carter sejak pengumuman awal 12 Agustus lalu bahwa ia berjuang melawan kanker.

Mantan Presiden AS Jimmy Carter mengatakan tes-tes terhadap massa yang diangkat dari hatinya menunjukkan ia memiliki melanoma, biasanya sejenis kanker kulit, yang telah menyebar dari hati ke otaknya.

"Awalnya saya kira itu terbatas di hati saya dan operasi telah mengangkatnya, jadi saya cukup lega," ujar Carter, 90, pada wartawan di Atlanta, Kamis (20/8).

Namun ia mengatakan sikap positifnya berubah pada hari yang sama ketika pengujian lebih jauh menunjukkan adanya tumor di otaknya.

"Saya pikir saya hanya akan hidup beberapa minggu lagi, tapi ternyata saya menghadapinya dengan santai," aku Carter. "Saya memiliki kehidupan yang berarti, saya punya ribuan teman... Jadi tak disangka-sangka, saya santai saja, jauh lebih santai dibandingkan istri saya."

Ada banyak spekulasi di media seluruh dunia mengenai kesehatan Carter sejak pengumuman awal 12 Agustus lalu bahwa ia berjuang melawan kanker.

Istri yang telah bersamanya 69 tahun, mantan ibu negara Rosalyn Carter, duduk di baris depan hari Kamis di auditorium Carter Center, saat presiden AS ke-39 itu menjawab banyak pertanyaan mengenai keadaannya, dan bagaimana sikapnya saat akan memulai perawatan radiasi dan obat untuk membasmi kanker tersebut.

"Saya tidak bisa mengantisipasi apa yang akan saya rasakan," ujarnya. "Hal itu jelas, tapi saya akan tunduk pada para dokter terkait pengobatan ini."

Para ahli sejarah mengatakan langkah Carter untuk membahas masalah kesehatannya secara publik adalah hal yang langka di kalangan mantan presiden. Namun kanker telah menjangkiti sejumlah anggota keluarga dekatnya.

Sejarah Keluarga

Ayah, kakak laki-laki dan dua saudara perempuannya meninggal akibat penyakit itu, dan ibunya pun kemudian menghadapi situasi yang sama. Carter menulis mengenai perjuangan keluarganya menghadapi kanker dalam bukunya yang terbaru "A Full Life." Ia baru saja menyelesaikan tur untuk mempromosikan buku itu seminggu sebelum dokter membuang massa dari hatinya.

Carter mengatakan ia mengetahui mengenai massa itu tak lama setelah ia harus berhenti mengikuti perjalanan memantau pemilu di Guyana bulan Mei setelah menderita pilek. Ia menunda operasi hatinya sampai setelah tur buku.

Dalam wawancara eksklusif dengan VOA dalam tur buku tersebut, Carter merefleksikan hidupnya yang panjang, dan mengapa ia menulis buku itu.

"Saya mencoba menulis apa yang belum pernah saya katakan sebelumnya," ujarnya. "Seperti hampir mati di atas kapal selam, dan juga pelajaran-pelajaran yang saya terima, beberapa sangat negatif saat itu, yang lainnya positif."

Carter mengatakan salah satu prinsip yang menuntunnya dalam hidup adalah sesuatu yang diajarkan oleh guru SMA-nya, Julia Coleman -- sebuah prinsip yang juga menjadi bagian pidato pelantikannya sebagai presiden.

"Beradaptasilah dengan perubahan, tapi berpikirlah dengan prinsip-prinsip yang tidak berubah. Sikap dasar itu telah membantu saya."

No regrets

Di depan wartawan di Carter Center, ia mengatakan tidak memiliki penyesalan atas kegiatannya yang ekstensif pasca kepresidenan. Namun ia memiliki penyesalan dalam masa empat tahun menjabat di Gedung Putih.

"Seharusnya saya mengirim lebih banyak helikopter untuk menyelamatkan para sandera," ujar Carter, yang masa kepresidenannya sebagian ditandai dengan penyanderaan warga Amerika di Iran, dan gagalnya misi militer untuk menyelamatkan mereka.

"Saya kira mungkin saya dapat dipilih kembali. Tapi jika saya harus memilih empat tahun lagi atau Carter Center, saya kira saya akan memilih Carter Center," ujarnya.

Meski Carter penuh harapan perawatanya akan membantu memperpanjang usianya, penyakitnya muncul di saat Carter Center secara aktif terlibat dalam beberapa upaya tingkat tinggi di seluruh dunia, termasuk persiapan untuk misi pemantauan pemilu di Myanmar, dan upaya untuk menghapus penyakit Guinea Worm secara global, yang sekarang telah menurun menjadi kurang dari selusin kasus, sebagian besar di Chad dan Sudan Selatan.

Perawatan kanker Carter juga muncul sebelum acara tahunan "Jimmy and Rosalynn Carter Work Project” dengan Habitat for Humanity, yang dijadwalkan akan berlangsung November ini di Nepal yang telah diguncang gempa. Proyek-proyek sukarela tahunannya dengan badan amal pembangun rumah menimbulkan banyak perhatian dan salah satu dari kegiatan paling menonjol pasca kepresidenannya.​

Jadwal pengobatannya mungkin mencegahnya dari berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan itu dan program Carter Center lainnya, namun ia tetap optimistis.

"Berharap yang terbaik, menerima apapun yang terjadi," ujarnya. "Saya kira saya sudah diberkati seperti semua manusia di dunia ini."

Carter akan memulai perawatan radiasi pertamanya siang ini. Ia mengatakan masih berencana mengajar di Sekolah Minggu akhir pekan ini di gerejanya di kota asalnya, Plains.

XS
SM
MD
LG