Tautan-tautan Akses

Mantan PM Thailand Dituntut Pasal Pembunuhan


Pemimpin Partai Demokrat dan mantan Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva (tengah) didampingi oleh para anggota partai saat berbicara dengan wartawan di Bangkok (8/12). (AP/Sakchai Lalit)
Pemimpin Partai Demokrat dan mantan Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva (tengah) didampingi oleh para anggota partai saat berbicara dengan wartawan di Bangkok (8/12). (AP/Sakchai Lalit)

Beberapa pengamat melihat tuntutan terhadap Abhisit Vejjajiva ini sebagai bagian dari spekulasi politik yang berbahaya di negara itu.

Mantan perdana menteri Thailand Abhisit Vejjajiva menghadapi tuntutan pembunuhan Kamis (12/12) sehubungan dengan serangan militer dalam protes-protes massal di Bangkok pada 2010.

Langkah tersebut datang di tengah gejolak politik yang mengguncang ibukota negara tersebut, dimana para demonstran yang didukung partai oposisi yang dipimpin Abhisit ingin menumbangkan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dan menghilangkan pengaruh abangnya, mantan perdana menteri yang dikudeta, Thaksin.

“Kami telah menuntut (Abhisit),” ujar Nanthasak Poonsuk, juru bicara kantor Kejaksaan Agung, kepada kantor berita AFP di luar pengadilan Bangkok tempat sidang dilakukan secara tertutup.

“Pengadilan setuju menyidangkan kasus tersebut.”

Di bawah pemerintahan Abhisit, lebih dari 90 orang tewas dan hampir 1.900 terluka dalam bentrokan di jalanan ibukota pada 2010 antara para demonstran pro-Thaksin yang sebagian besar tidak bersenjata dan pasukan keamanan yang menembakkan peluru.

Sekelompok kecil demonstran “Kaos Merah” berseru “Pembunuh” saat pemimpin Partai Demokrat itu tiba di pengadilan, tanpa berbicara pada wartawan. Ada sekitar 10 pendukung Abhisit di luar gedung, beberapa memegang karangan bunga.

Thailand telah menghadapi beberapa putaran gejolak politik sejak Thaksin digulingkan dalam kudeta militer pada 2006, dengan protes-protes dari pihak lawan yang terkadang menghasilkan kerusuhan berdarah.

Para jaksa penuntut menuduh Abhisit dan mantan wakilnya Suthep Thaugsuban mengeluarkan perintah-perintah yang berakibat pembunuhan dan percobaan pembunuhan oleh pasukan keamanan.

Abhisit yang berpendidikan Oxford itu bersikeras ia tidak bersalah dan menggambarkan tuduhan kepadanya bermotif politik.

Beberapa pengamat ragu Abhisit yang lahir di Inggris itu akan dipenjara mengingat koneksinya terhadap elit-elit politik di Thailand, dan melihat kasus ini sebagai bagian dari spekulasi politik yang berbahaya di negara itu.

Suthep, yang tidak hadir di persidangan Kamis, saat ini mendorong protes-protes oposisi massal melawan Yingluck, dan ia menghadapi perintah penahanan dengan tuduhan pemberontakan terhadap pemerintah. (AFP)
XS
SM
MD
LG