Tautan-tautan Akses

Mantan Jihadis Berupaya Redam Daya Tarik ISIS di Indonesia


Buku-buku mengenai jihad dipajang di sebuah toko buku Islam di Jakarta. (Foto: Dok)

Buku-buku mengenai jihad dipajang di sebuah toko buku Islam di Jakarta. (Foto: Dok)

Sekelompok bekas pejuang Afghanistan sekarang bekerjasama dengan badan kontraterorisme nasional untuk menghentikan perekrutan anak-anak muda.

Indonesia memiliki banyak program kontra-ekstremisme, namun salah satu kritik besar terhadapnya adalah bahwa upaya-upaya anti-radikalisme dari kelompok-kelompok Muslim moderat seperti Nahdlatul Ulama (NU) menyasar mereka yang barangkali tidak rentan radikalisasi.

Namun sebuah kelompok yang terdiri dari bekas teroris-teroris yang berperang bersama mujahidin Afghanistan pada tahun 1980an, telah berupaya dalam beberapa tahun terakhir untuk menghadapi populasi-populasi yang lebih rentan.

Kelompok "Alumni Afghanistan" ini terdiri dari pria-pria yang berperang dengan para pemberontak Afghanisan dalam Perang Soviet-Afghanistan. Ketika mereka kembali ke Indonesia, mereka bergabung dengan kelompok-kelompok militan domestik seperti Jemaah Islamiyah (JI), yang didirikan tahun 1993.

Prioritas Baru

Namun setelah puluhan tahun melakukan aksi terorisme dan dipenjara, banyak dari sekitar 300 alumni itu memiliki prioritas-prioritas yang berbeda. Jadi pada 2011, sembilan eks-kombatan membentuk Forum Komunikasi Alumni Afghanistan Indonesia (FKAAI) untuk memberantas radikalisasi anak-anak muda di negara ini.

"Sampai September 2011, sudah ada beberapa aksi terorisme di Indonesia, yang menurut kami, tidak sesuai dengan Islam," ujar Ahmad Sajuli, ketua FKAAI, kepada VOA. “Kami ingin membentuk sebuah forum dimana kami dapat menjelaskan kepada orang-orang ini bahwa aksi-aksi teror itu bukan jihad sebenarnya."

Sajuli dan kawan-kawannya muncul dengan ide FKAAI setelah menghadiri lokakarya-lokakarya "deradikalisasi" untuk bekas narapidana yang dikelola oleh Nasir Abbas, teroris JI terkenal yang menjadi penasihat pemerintah, serta psikolog Sarlito Sarwono dari Universitas Indonesia.

"Setelah beberapa bekas pejuang menjalai lokakarya 'pasca-penjara' kami di Jakarta, mereka ingin melakukan lebih banyak untuk masyarakat," ujar Nasir kepada VOA. "Mereka sadar mereka perlu berbuat sesuatu untuk mendorong perdamaian dan meminimalisir aksi-aksi teroris lain."

Polisi anti-teror memegang senjata, berjaga-jaga di sebuah distrik bisnis di Jakarta.

Polisi anti-teror memegang senjata, berjaga-jaga di sebuah distrik bisnis di Jakarta.

Nasir dan Sarlito membantu kesembilan anggota pendiri FKAAI untuk mendaftarkan forum itu sebagai organisasi nirlaba, menmbangun struktur internal, dan berhubungan dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kemudian mereka mundur.

"Kami mengapresiasi apa yang mereka ingin lakukan sendiri. Mereka tidak pernah diminta siapa pun untuk membentuk sesuatu seperti Forum ini," ujar Nasir.

Peningkatan Upaya

FKAAI, yang sekarang memiliki 40 anggota di seluruh Indonesia, berkantor pusat di Menteng, Jakarta Pusat. Mereka mengadakan kelompok diskusi untuk para anggota setiap Jumat selepas shalat Isya. BNPT juga mensponsori para anggota forum untuk mengunjungi sekolah-sekolah di kota-kota seperti Aceh dan Poso, menyampaikan pesan melawan ekstremisme kepada anak-anak muda yang rentan.

Forum kecil ini telah menarik gelombang radikal selama beberapa tahun terakhir. Tahun 2015, masjid sebelah kantor FKAAI, Masjid al-Fataa, disusupi para pendukung Negara Islam (ISIS).

Salah seorang anggota FKAAI adalah Farihin bin Ahmad, manajer humas kelompok ini yang sekarang berusia 50 tahun dan memiliki mandat jihadis yang tak tercela. Ia menghabiskan tiga tahun di Afghanistan, kemudian sangat aktif di JI di Indonesia dan terlibat dalam pemboman konsulat Filipina di Jakarta tahun 2000.

Ia sempat dipenjara dan tidak banyak yang memahami daya tarik jihad lebih darinya. Namun ia tidak setuju dengan ISIS.

"Itu tidak berguna. Jangan buang-buang waktu, itu pesan saya bagi anak-anak muda," ujarnya.

Bagi para anggota FKAAI seperti Farihin, ada kesenjangan besar antara jihad mereka di Afghanistan dan aktivitas ISIS saat ini.

"Apa yang kami lakukan di Afghanistan bukan radikalisme," ujar Farihin kepada VOA. "Kami membantu Muslim yang ditindas pemerintah."

Menurutnya, ISIS memiliki kredensial agama yang meragukan.

"ISIS dan [pemimpin ISIS Abu Bakr] al-Baghdadi mengklaim 'kekhalifahan' yang wewenangnya tidak diakui oleh ulama-ulama pada umumnya," ujar Farihin.

Para pria Muslim menonton foto-foto yang diyakini dari Suriah dalam khotbah yang menyerukan jihad untuk Suriah di sebuah masjid di Jakarta, 2013.

Para pria Muslim menonton foto-foto yang diyakini dari Suriah dalam khotbah yang menyerukan jihad untuk Suriah di sebuah masjid di Jakarta, 2013.

Kembali ke Kehidupan Normal

Selain menepis daya tarik ISIS, para anggota FKAAi juga berbicara secara blak-blakan mengenai stigma yang mereka hadapi ketika kembali kepada kehidupan warga sipil sebagai "bekas teroris." Sajuli mengatakan ia kembali dari Afghanistan dan Malaysia tanpa uang, dan berjuang keras sampai akhirnya bisa mandiri di usia separuh baya, sebagai penjual kebab.

Hal-hal seperti ini, mengenai kesulitan kembali menjadi warga biasa setelah menebar teror di luar negeri, jarang diungkapkan dalam pesan-pesan kontra-terorisme. Dan barangkali efektif karena memudarkan mitologi jihad asing.

"Sebagai bekas jihadis, para eks-teroris itu memberikan nilai tambah di mata sesama eks-teroris, dan juga di mata warga Muslim yang awam seperti mahasiswa-mahasiswa yang menjadi target program kontra-radikalisasi kami dan BNPT," ujar Profesor Sarlito kepada VOA lewat email.

Farihin mengatakan FKAAI secara spesifik tidak berasosiasi dengan gerakan-gerakan Muslim moderat seperti NU dan Muhammadiyah karena, meskipun mereka melakukan pekerjaan yang baik, mereka "terlalu mainstream."

"Anak-anak muda mendengarkan saya karena saya aktor dan saksi dalam jihad asing," ujarnya. "Kami tidak punya banyak kesamaan dengan kelompok-kelompok seperti NU."

Sajuli mengatakan para mahasiswa yang ia temui sejauh ini memberikan tanggapan "sangat positif" terhadap pesan-pesan anti-radikalisme FKAAI.

"Setelah berbagi pengalaman dengan anak-anak muda, baik di SMA maupun pesantren, kesimpulan saya, mereka punya pengetahuan untuk memahami ancaman radikalisme," katanya kepada VOA.

"Ketika anak-anak muda itu melihat aktivitas tersebut, mereka mencoba menghindarinya."

Serigala Penyendiri

Salah satu yang membatasi upaya FKAAI adalah keterbatasan hubungan dengan para aktor "serigala penyendiri" yang sekarang menjadi tipikal citra terorisme ISIS, menurut Sarlito.

"Para mantan pejuang Afghanistan ini bukan lagi mayoritas jihadis yang dipenjara. Saat ini ada teroris pro-ISIS dan 'serigala-serigala penyendiri', yang meradikalisasi diri melalui internet, dan tidak memiliki hubungan dengan para mantan pejuang Afghanistan," katanya kepada VOA.

Ia mengatakan mereka tidak mau mendengarkan "siapa pun kecuali para pemimpin mereka," dan sebagian besar lewat media sosial. Meski ada kendala struktural ini, ujar Sarlito, para anggota FKAAI memiliki pengaruh yang tidak biasa di antara para murid dan mahasiswa karena masa lalu mereka sebagai jihadis.

​Baik Farihin maupun Sajuli membawa selera humor dalam upaya mereka.

Terorisme bukan fenomena baru, ujar Sajuli.

"Ketika saya masih aktif, mereka bahkan tidak menyebut kami 'teroris'," katanya. "Kami semua 'anarkis'!"

Menurut mereka, ekstremisme adalah masalah yang berputar dalam siklus dan dapat ditanggulangi secara intelijen. Para alumni Afghanistan ini berharap suara mereka dapat memutus lingkaran tersebut. [hd]

XS
SM
MD
LG