Tautan-tautan Akses

AS

Mantan Istri Sebut Penembak Orlando Bermental Tidak Stabil


Polisi berjaga-jaga di depan salah satu rumah yang diduga terkait dengan penembak Orlando di Port St. Lucie, Florida (12/6). (Reuters/Joe Skipper)

Polisi berjaga-jaga di depan salah satu rumah yang diduga terkait dengan penembak Orlando di Port St. Lucie, Florida (12/6). (Reuters/Joe Skipper)

Berbicara kepada wartawan Minggu malam, Sitora Yusufiy menggambarkan Omar Saddiqui Mateen sebagai 'sakit,' dan pernikahan mereka selama empat bulan seperti 'neraka.'

Mantan istri Omar Saddiqui Mateen, penembak di klub malam Orlando, menggambarkan bekas suaminya tidak stabil dan sakit jiwa, dan pernikahan singkat mereka seperti "neraka."

Sitora Yusufiy berbicara kepada wartawan Minggu malam (12/6) tentang pernikahannya selama kurang lebih empat bulan dengan pelaku pembunuhan massal terburuk dalam sejarah Amerika.

Yusufiy mengatakan sikap Mateen "normal" pada awal pernikahan mereka, tetapi kemudian ia tiba-tiba menjadi pemarah tanpa sebab. Ia mengatakan Mateen bersikap kasar secara fisik, suka mengamuk dan memukulinya karena alasan kecil, seperti pakaian yang tidak dicuci ketika ia pulang kerja.

Tersangka penembakan massal di Orlando, Omar Mateen. (Kepolisian Orlando)

Tersangka penembakan massal di Orlando, Omar Mateen. (Kepolisian Orlando)

Ia mengatakan suaminya memperlakukannya seperti seorang sandera dan tidak boleh melihat keluarganya. Ia mengatakan dengan bantuan keluarganya, ia akhirnya mampu melarikan diri suatu hari, meninggalkan semua barang-barangnya di rumah.

Yusufiy mengatakan meskipun diketahui memiliki temperamen buruk, berita bahwa mantan suaminya adalah pelaku pembunuhan massal telah "mengejutkannya," dan ia tidak pernah memperkirakan hal ini.

Ayah Mateen, Mir Seddique, mengatakan kepada televisi NBC bahwa anaknya mungkin telah termotivasi pandangan homofobia dan bukan karena keyakinannya sebagai Muslim.

"Ini tidak ada hubungannya dengan agama," kata Seddique, sambil mengingat kejadian baru-baru ini di pusat kota Miami di Florida.

"Ia melihat dua laki-laki berciuman di depan istri dan anaknya, dan ia sangat marah," kata sang ayah. "Mereka berciuman dan berangkulan dan ia berkata, 'Lihat itu. Di depan putra saya mereka melakukan itu'. Kemudian kami berada di toilet umum laki-laki dan melihat laki-laki lainnya berciuman."

Seddique meminta maaf kepada para korban penembakan di Pulse, yang disebut sebagai "klub malam gay terkenal di Orlando." Seddique mengatakan keluarganya "sama sekali tidak menyadari tindakan yang diambil Mateen. Kami terkejut seperti semuanya di negara ini." [zb]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG