Tautan-tautan Akses

Manisnya Belimbing Ngringinrejo Angkat Perekonomian Bojonegoro

  • Petrus Riski

Siti Marfuah melayani pembeli Belimbing Super di kompleks Agro Wisata Belimbing Ngringinrejo, Bojonegoro (Foto: VOA/Petrus Riski).

Siti Marfuah melayani pembeli Belimbing Super di kompleks Agro Wisata Belimbing Ngringinrejo, Bojonegoro (Foto: VOA/Petrus Riski).

Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, bangkit menjadi desa mandiri melalui kesadaran masyarakatnya menanam pohon belimbing.

Desa Ngringinrejo yang sering menjadi langganan banjir dari luapan sungai Bengawan Solo, kini merasakan peningkatan perekonomian melalui tanaman belimbing.

Tumpukan buah belimbing tertata rapi di sebuah meja, yang berdiri di salah satu tempat di kawasan Agro Wisata Belimbing, di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro.

Seorang perempuan paruh baya bernama Siti Marfuah, tampak sedang menimbang buah Belimbing yang dipesan pembeli. Di tempat itu dijual beberapa jenis belimbing, di antaranya “Belimbing Madu” dan “Belimbing Super.” Disebut Super karena ukurannya yang lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya, atau seukuran sepatu orang dewasa.

Siti Marfuah menuturkan, keberadaan Agro Wisata Belimbing di desanya menjadi berkah tersendiri, karena banyak pengunjung atau wisatawan yang datang dan membeli belimbing di area perkebunan milik warga seluas kurang lebih 24 hektar itu. Penjual belimbing tidak harus bersusah payah berjualan ke pasar, katanya.

“Bedanya dulu kan 'gak ada wisata kan dibawa ke pasar, cuma ya dulu yang super ini cuma Rp.2.000 (per kilogram). Nah, kalau sekarang dijual sendiri bisa sampai Rp.12.000. Ya bahagia, ada pengelolaan belimbing ini, cari rejeki ya enak. Sejak ada belimbing ini ya kalau hari Sabtu-Minggu ramai, (pendapatan) bisa sampai Rp.1 juta lebih satu hari. Kalau tahun baru malah (Pendapatan) satu orang (pedagang) ini sampai Rp. 2 juta,” kata Siti Marfuah.

Belimbing Ngringinrejo, menurut ketua Pengelola Agro Wisata Belimbing, Priyo Sulistyo, memiliki keunggulan dari rasa yang lebih manis dan tahan lama dibandingkan dengan belimbing dari daerah lain. Tidak heran jika permintaan akan belimbing selalu lebih banyak, dibandingkan kemampuan warga untuk memenuhi permintaan itu.

“Belimbing sini itu tidak mudah layu, tahan lama, satu minggu itu gak apa-apa, gak akan layu buah, kecuali kita tutup rapat. Teksturnya juga lebih halus, lebih manis juga,” kata Priyo Sulistyo.

Masyarakat Desa Ngringinrejo mulai menanam pohon belimbing sejak tahun 1984, sebagai salah satu komoditas pelengkap setelah padi dan palawija. Namun posisi geografis desa yang berada di pinggir sungai Bengawan Solo, menjadikan tanaman pertanian warga sering rusak ketika banjir menggenangi desa mereka.

Kepala Desa Ngringirejo, Mohammad Safii mengatakan, sejak diresmikan sebagai Agro Wisata Belimbing setahun terakhir, kehidupan perekonomian masyarakat sekitar mengalami peningkatan signifikan. Melalui wadah Kelompok Sadar Wisata, masyarakat mengelola kebun mereka sehingga mampu menghasilkan buah belimbing dengan berbagai varietas, dan membuat olahan belimbing seperti sirup, sari buah, dan dodol yang bernilai ekonomis.

“Petani Belimbing kita sangat besar merasakan manfaat itu. Dulu menjualnya keluar itu tidak ada yang beli, sekarang dengan duduk di tempat ada yang beli. Rata-rata petani kita satu hari saja, yang punya belimbing sudah tidak perlu (keluar), lebih-lebih satu minggu, kalau satu hari cari 200-300 ribu gampang. Inilah uniknya home industry, dia membuat sampai, buatlah sebanyak-banyaknya laku, kuwalahan,” kata Mohammad Safii.

Letak desa dan kawasan Agro Wisata Belimbing Ngringinrejo yang berada di dekat aliran sungai Bengawan Solo, dikatakan Priyo, tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat maupun wisatawan. Keberadaan kebun belimbing justru menjadi sabuk pengaman desa bila sungai Bengawan Solo meluap.

“Wah, alhamdulillah kalau banjir, sini justru mengharapkan banjir, karena sini daerah banjir. Dulu itu sebelum ada tampon (penahan) belimbing ini saya mau lewat ke (Desa) Mojo gak berani, airnya itu deras sekali, tapi setelah ada pohon-pohon ini ya kita berani menyeberang. Kan dalam sampai segini (setinggi perut orang dewasa). Sangat menguntungkan sekali dengan adanya pohon Belimbing, di samping kita dilingkari (sungai) Bengawan Solo, ini juga bisa menahan erosi, juga bisa menjaga lingkungan, menjadi pengaman juga,” kata Priyo Sulistyo.

Sedikitnya 300 pengunjung per hari mengunjungi tempat ini, bahkan jumlah pengunjung diprediksi akan meningkat pada tahun ini menjadi 140.000 dari jumlah pengunjung tahun 2015 sekitar 111.000 orang.

Bupati Bojonegoro Suyoto mengatakan, keberadaan Agro Wisata Belimbing dipastikan telah menjadi pusat perekonomian baru di sektor wisata agro, yang mampu menjadi pengungkit sektor ekonomi lainnya di Bojonegoro.

“Agro Belimbing itu, tahun lalu saja pengunjungnya sudah 111.000 (orang), tahun ini saya yakin bisa 140.000. Oh naik luar biasa dari tiga tahun terakhir. Wisata ini kan mengungkit produktifitas kan sebenarnya, sektor jasa naik, produksi bikin berkebun (tanaman buah) juga naik, kemudian orang bikin gerabah saja naik, jadi banyak yang naik. Kemudian itu juga membuat kita fokus di dalam membenahi infrastruktur,” kata Suyoto.

Sektor wisata saat ini menjadi primadona baru penggerak ekonomi masyarakat, terlebih dengan dilibatkannya masyarakat untuk menjadi motor penggeraknya. Agro Wisata Belimbing Ngringinrejo menjadi unggulan baru pariwisata Bojonegoro, sekaligus pendongkrak ekonomi warga desa, yang sebelumnya selalu merasakan dampak banjir sungai Bengawan Solo.

Warga Ngringinrejo memetik hasil secara ekonomi dari menanam belimbing, tetapi mereka tidak melupakan perlunya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan menjaga di bantaran sungai Bengawan Solo, Keuntungan ekonomi diyakini warga tidak akan diperoleh bila mengabaikan upaya pelestarian alam. [pr/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG