Tautan-tautan Akses

Malawi dan Tanzania Bahas Sengketa Klaim atas Danau Malawi


Danau Malawi, yang juga dikenal sebagai Danau Nyasa di Tanzania, diklaim oleh Malawi dan Tanzania (foto: dok.).

Danau Malawi, yang juga dikenal sebagai Danau Nyasa di Tanzania, diklaim oleh Malawi dan Tanzania (foto: dok.).

Pemerintah Malawi dan Tanzania akan mengadakan pertemuan untuk membahas sengketa eksplorasi minyak dan gas di Danau Malawi dan klaim kedua negara atas wilayah danau itu.

Perselisihan meningkat tahun lalu ketika mendiang presiden Malawi Bingu wa Mutharikha memberi perusahaan Inggris Surestream Petroleum hak untuk mengeksplorasi minyak dan gas di danau itu. Surestream sekarang sedang melakukan analisis dampak lingkungan.

Tindakan itu membuat berang Tanzania, yang mengklaim 50 persen wilayah danau itu. Pemerintah Tanzania meminta dihentikannya semua kegiatan eksplorasi sampai masalah pemilikan wilayah danau itu diselesaikan.

Malawi mendasarkan klaimnya atas seluruh danau itu pada perjanjian tahun 1890 antara bekas penguasa kolonial Inggeris dan Jerman, dan kemudian dikukuhkan lagi oleh Organisasi Persatuan Afrika ketika Malawi mendapat kemerdekaan awal dekade 1960-an.

Malawi juga mengatakan perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Heligoland itu kemudian diberlakukan dan disahkan oleh resolusi Uni Afrika tahun 2002 dan 2007.

Simburashe Mungoshi, dosen sejarah dan ilmu politik pada lembaga Politeknik Malawi, mengatakan, “Menurut perjanjian ini, jelas dinyatakan bahwa perbatasan timur Malawi dan Tanzania berada di tepi Danau Malawi. Namun, perjanjian itu membolehkan Tanganyika, sekarang disebut Tanzania, melakukan penangkapan ikan di danau itu dan bahkan menggunakannya sebagai sarana tranportasi. Mereka mengakui tepi danau sebagai perbatasan dan ada peraturan Organisasi Uni Afrika yang menyebutkan bahwa sejak kemerdekaan Malawi, batas-batas yang sudah ada harus dihormati.”

Tanzania menampik perjanjian masa kolonial itu sebagai permanen dan mengatakan hukum internasional mendukung penggunaan bersama danau itu oleh negara-negara yang berbatasan.

Sengketa itu bermula hampir 50 tahun lalu setelah kedua negara merdeka.

Mungoshi mengatakan perselisihan itu hanya bisa diselesaikan dengan kompromi.

Ketua Komisi Urusan Pertahanan, Keamanan, dan Luar Negeri di Parlemen Tanzania. Edward Lowassa, seperti dikutip publikasi online Tanzania The Citizen mengatakan bahwa negaranya siap berperang dengan Malawi jika isu itu “mencapai tahap perang.”

Pernyataan itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga Malawi yang tinggal di distrik Chitipa dan Karonga yang berbatasan dengan Tanzania.

Menteri Dalam Negeri dan Keamanan Malawi, Uladi Mussa mengatakan kepada Zodiak Broadcasting Station bahwa warga Malawi tidak perlu khawatir karena pembicaraan sedang berlangsung untuk menyelesaikan isu itu.

“Saya ingin menegaskan kepada warga Chitipa dan Karonga serta semua warga Malawi di negeri ini, isu perbatasan antara Malawi dan Tanzania sedang diselesaikan secara damai. Semuanya masih dibahas. Jadi warga tidak perlu hidup ketakutan,” ujar Mussa.

Tetapi, ia mengatakan seluruh danau milik Malawi dan negara itu tidak mungkin menghentikan eksplorasi minyak dan gas.
XS
SM
MD
LG